Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Jumat, Desember 25, 2009

Tralala Trilili


Sebuah komunitas sastra di Jogja, Komunitas Tanpa Nama (KTN) ingin menerbitkan buku, sebagai pengikat komunitas mereka. Lalu mereka sepakat mengumpulkan tulisan berupa sejumlah puisi, cerpen, essai, flash fiction dan lain sebagainya. Kebetulan di antara mereka beberapa ada yang bekerja di penerbitan buku, sebagai editor, jadi untuk cover, editing, froofing, mereka menggunakan kekuatan sendiri, tanpa harus minta bantuan orang lain. Maka setelah bahan-bahan tulisan mereka terkumpul, mereka memutuskan untuk menerbitkan buku itu melalui jalur “Indie Label”. Sangar, kan?


Buku itu diberi judul Tralalatrilili. Dengan semangat menggebu, mereka mendatangi penyair Saut Situmorang ke rumahnya, dan meminta ia memberi sebuah catatan penutup untuk kumpulan tulisan itu. Saut pun setuju, dan memberi sebuah catatan penutup dengan judul Sastra Kampus, Sastra Underground, sebuah essai yang mengkritisi posisi mahasiswa dan corak sastra yang mereka hadirkan di tengah situasi social masyarakatnya.

Alhasil, setelah mengumpulkan sejumlah uang, entah dari tabungan atau uang saku mereka, dan setelah berjuang tak kenal lelah, buku itupun kini telah terbit dan dijualkan pula secara indie oleh mereka. Ada sebelas orang penulis di dalamnya: Arfin Rose, Dimas Prastisto, Mega Aisyah Nirmala, Mega Ayu Krisandi Dewi, Dhaniel Gautama, Arie Oktara, Rizal Fernandez, Amier Chan, Irwan Bajang, Djali Gafur, Anita Sari.

Ini adalah satu lagi bentuk buku indie yang berani tampil di tengah hingar bingar bisnis buku yang semakin market oriented. Penerbit mana yang mau menerbitkan buku kumpulan tulisan dari manusia-manusia tak terkenal seperti mereka ini? Mungkin bagi penerbit, buku ini tak akan memeberi hasil jika diterbitkan, hanya menambah ongkos produksi dan menyurutkan penghasilan. Tapi tidak buat lascar KTN, buku ini adalah sebuah semangat dan sebuah anak bersama yang mereka rawat dan jaga. Sebuah kebanggaan bagi mereka untuk memiliki sebuah buku bersama-sama. Mereka mulai menulis, menerbitkan juga mengedaran buku ini dengan semangat Indie, semangat muda yang menyala-nyala.

Apakah Anda tidak tergugah? Siapkan tulisan Anda dan majulah dengan semangat indie!
Berikut ini, sebuah kata pengantar yang mereka tulis untuk bukunya.

Anak Kami Bernama Tralalatrilili

Barangkali kami tak punya cita-cita yang besar ketika memulai berkumpul dan berproses, lalu berniat untuk melahirkan anak bersama kami ini. Tapi begitulah, kami memang tak punya banyak impian kala itu, selain bermimpi anak kami ini lahir dan bisa bermain bersama orang-orang yang kelak (mau) menjadi teman, sekadar kenalan atau bahkan kelaknya bermusuhan. Kami menjaga setiap proses kelahirannya, memberinya gizi yang (barangkali cukup) seimbang, sembari berdoa, kelak anak kami ini menjadi jejak sejarah keberadaan kami. Menjadi cerita bahwa kami pernah ada dan pernah sedikit bermimpi.
“Kenapa Tralala Trilili?”
“Pertanyaan Anda aneh sekali, tolong jangan tanyakan itu.”
“Kenapa? Saya mau tahu!”
Waduh, baiklah, akan kami coba jawab seadanya. Tralala Trilili barangkali representasi dari imajinasi nakal kami. Imajinasi yang kadang tak terbendung, kadang garing, aneh, gila bahkan konyol dan tak masuk akal. Tapi percayalah jika imajinasi itu kadang kami rindukan sendirian di pojok kamar kami. Kami jadikan bahan hiburan saat sedih dan patah hati. Kami merangkai tulisan-tulisan ini di kamar-kamar kami, ditemani kopi dan insomnia barangkali. Sesekali di kampus, seringnya di warung tempat kami makan, di kantin, di halaman, saat putus cinta,
saat dapat beasiswa, atau saat bersebrangan pilihan dengan pacar, suami atau istri salah satu di antara kami.
Dari situ kami yakin TralalaTrilili ini lahir. Dia bukan anak yang dahsyat, yang jika dibaca akan membuat mata berkaca-kaca, atau membuat kemarahan Anda meledak-ledak. Ia hanyalah kumpulan keceriaan sekaligus kegelisahan. Sebuah perpaduan sifat yang sungguh sangat bertolak belakang. Jadi harap maklum jika seusai (atau bahkan sebelum) membacanya, Anda sudah tidak suka dan ingin menyobek atau membuangnya.
Tapi begitulah, dengan segala kerendahan hati kami, tapi juga dengan penuh kebanggaan, melahirkannya, memberinya nama dan berjanji akan menjaganya. Kelak akan kami asuh di tengah-tengah Anda semua. Kami tak ingin berharap banyak, karena keterbatasan dan ketololan kami. Kami hanya ingin kelak anak kami, Anda dan juga kami mengingat dua kalimat yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar: Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Kami hanya ingin tersenyum menyambutnya. Memperkenalkannya pada banyak orang. Dan tanpa malu mengaku bahwa kamilah bapak dan ibunya.

Salam sehat selalu untuk Anda.

KTN

Senin, November 16, 2009

Ode Sepi Buat Hari Lahirmu


: SBU

kini, adalah ruang yang sukarela kita masuki,
meski kita tahu, kita tak pernah bisa
kembali.



1>
hari ini kau kembali dipaksa bertanya:

tentang peristiwaperistiwa, tentang selaksa
makna, tentang hakekat, rahasiarahasia
yang melekat abadi pada
usia.

adakah satu yang kau jumpa
jawabnya?


2>
hari ini pula, kau kembali dipaksa berhitung:

sudah berapa sujud yang kau wujud?
berapa telimpuh yang kau tempuh?
berapa rukuk yang kau khusyuk?
berapa takbir yang kau
syair?

angka mana yang tlah tuntas kau
genapkan?


3>
lilinlilin yang kau susun sedemikian
tlah padam sebagian.

percakapanpercakapan yang riuhrendah
di pesta ini hari, tlah pula
dihentikan.

seakan mengisyaratkan bahwa hidup
mesti mengarah ke sepi,
bukan? mengarah ke
mati.

tapi baitbait sajakku ini ingin pula tegaskan,
mulai ini hari, kau takkan
kurelakan sendirian.*


4>
kini, adalah ruang yang sukarela kita masuki,
meski kita tahu, kita tak pernah bisa
kembali.
“tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.~ kita abadi.

ya, tentu saja kita
yang abadi.


5>
selamat hari lahir,
sepi..


Lampung, 17 November 2009


Keterangan:
* Diambil dari sajak Sapardi Djoko Damono, “Pada Suatu Hari Nanti”. Bunyi aslinya: “…/ tapi dalam bait-bait sajak ini/ kau takkan kurelakan sendiri/ …”, dalam Hujan Bulan Juni, Grasindo, cetakan ketiga (2004), hal. 101


~ Diambil dari sajak SDD, “Yang Fana Adalah Waktu”, Hujan Bulan Juni, Grasindo, cetakan ketiga (2004), hal. 77.

Minggu, November 15, 2009

Masih

Pun, perhelatan yang riuh ini tak
mampu keringkan sepi yang memeluh
di tubuh.

Perpustakaan Emperan, Komunitas Tanpa Nama




Kali terakhir saya mengunjungi Jogjakarta, bulan Ramadhan lalu. Saya bertemu dengan Dimas Pratisto, seorang kawan di Komunitas Tanpa Nama (KTN), komunitas sastra yang kami dan delapan orang kawan lain bentuk di Jogjakarta. Siang hari yang panas itu, saya berjanji betemu dengan Dimas di tempat usahanya, warung masakan Aceh di daerah Baciro, dekat Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta. Ketika saya sampai di Baciro, Dimas sudah ada di sana. Dia lalu mengajak saya untuk mengobrol di dapur warungnya, sebuah kontrakan di dekat situ.

“Biar lebih santai,” katanya. Saya pun mengiyakan. Kami lalu beranjak ke sana.

Sesampai di kontrakan, Dimas membuatkan kopi. Kami mengobrol santai sambil menyeruput kopi yang ia buatkan. Kami berdua sedang tidak berpuasa. Saya, hari itu akan melakukan perjalanan jauh, pulang ke Lampung. Karenanya saya malas berpuasa. Dimas, dia agnostik, tak terlalu percaya tuhan ada (hahaha). Setelah beberapa obrolan basa-basi sekadar, saya mengutarakan maksud saya bertemu dengannya siang itu. Saya bilang ke dia, saya tidak bisa lagi menetap di Jogjakarta. Saya sudah terikat ruang lain. Untuk sementara, saya akan tinggal di Lampung, menyenangkan hati orangtua saya agar menetap di sana, sembari mencari kemungkinan “ruang” lain. Karenanya, segala kegiatan yang ada di Jogjakarta, sedikit terpaksa harus saya tinggalkan. Termasuk kegiatan komunitas.

Tapi, karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan kegiatan menulis dan berkomunitas, saya bilang ke dia, bahwa saya ingin membuat komunitas sastra di kampung halaman saya, Kalianda, ibukota Kabupaten Lampung Selatan. Komunitas baru, dan tentu saja, orang-orang baru. Di dapurnya itu, saya sekaligus berpesan agar kegiatan komunitas kami jangan sampai mengendur. Sayang sekali jika komunitas yang sudah kami bentuk dengan mengorbankan tidak sedikit waktu dan tenaga harus berhenti di tengah jalan. Dimas mengiyakan.

“Kamu yakin mau bentuk komunitas baru?” Tanya Dimas kemudian.

“Kenapa tidak melanjutkan komunitas yang udah ada aja?” tanyanya lagi.

“Kan kamu tinggal cari orang-orang buat aktif di komunitas.”

“Lagipula, beberapa kawan komunitas suatu saat pasti juga balik kampung seperti kamu,” ujarnya.

“Nanti mereka yang balik kampung juga, suruh buat KTN di daerahnya masing-masing,”

“Nanti sapatahu malah kita bisa bikin jaringan nasional dari bibit-bibit komunitas yang kalian bentuk, ” kata Dimas lagi.

Saya lalu berpikir, usulan Dimas untuk “memindahkan” KTN ke kampung halaman saya tak ada salahnya. Mimpi membangun jaringan komunitas yang lebih luas tentu saja mimpi yang masuk akal. Lagipula, dengan cara ini, ikatan emosional saya dengan kawan-kawan komunitas di Jogja bisa tetap ada. Sebenarnya juga, saya agak berat pisah dengan mereka. Saya lalu menyetujui usulan Dimas.

Tak terasa, kopi sudah habis. Sudah jam dua lewat tiga puluh. Telepon genggam saya berbunyi. Ternyata Didik menelepon. Didik kawan kuliah saya, juga asal Lampung. Hari itu saya dan dia naik bis yang sama. Dia marah-marah kepada saya. Setengah jam lagi bis yang kami tumpangi akan berangkat.

“Cepet balik woy,” kata Didik. Untung saja dia menelepon, kalau tidak saya pasti lupa waktu. Dan saya tiba-tiba teringat, saya bahkan belum mengepak pakaian.

Setelah berpamitan dengan Dimas dan menitip salam ke kawan-kawan komunitas yang lain, saya bergegas menuju kosan Didik.

Di bis menuju Lampung, entah kenapa saya sedikit sedih meninggalkan Jogja, kota yang lima tahun lebih saya tinggali. Lesehan pinggir jalannya, warung-warung kopi serta obrolan-obrolannya, orang-orangnya, suasananya, semua.

***

Setelah sampai di Lampung, saya berpikir keras. Kegiatan awal apa yang bisa mengumpulkan kawan-kawan untuk berkomunitas? Dengan modal saya yang tidak seberapa tentunya. Lalu saya melihat buku-buku saya yang tersusun di lemari. Saya kemudian berpikir, kenapa tidak mencoba membuat perpustakaan pinggir jalan? Orang-orang yang datang membaca bisa saya ajak bikin komunitas. Paling tidak, saya bisa sedikit beramal. Mumpung ini masih bulan puasa. Saya kemudian mengumpulkan semua buku di dalam lemari. Ternyata cuma ada satu kardus, dan kebanyakan buku-buku sastra. Saya pikir lumayanlah untuk perpustakaan kelas emperan.

Setelah yakin mau bikin perpustakaan emperan sebagai mula kegiatan mengumpulkan orang-orang untuk berkomunitas, saya kemudian menemui Napoleon Bonaparte. Dia biasa dipanggil Leon. Dia aktif di Asosiasi Seni Independen Kalianda (ASIK). Dia menjabat ketua. Saya langsung mengingat dia dan ASIKnya, soalnya mungkin saja dia tertarik dengan kegiatan sosial non profit seperti ini. Lagipula, saya tahu dia juga senang menulis. Saya pun menemuinya di distro tempat biasa dia nongkrong.
Ketika bertemu dengan dia, saya tanpa basa-basi langsung bertanya: “Lu sibuk ga Yon?”

“Ngemper yuk, ngabuburit sambil buka perpus,” ajak saya.

Dia menanyakan maksud saya lebih lanjut. Saya lalu menceritakan kehendak saya, tentang keinginan berkomunitas, saran Dimas di Yogyakarta, dan lainnya. Tak menyangka, dia mengiyakan ajakan saya.

“Ya udah, kalo lu setuju besok gua bikin spanduknya,” kata saya.

“Kalo spanduknya udah jadi, tar gua hubungin ya,” kata saya lagi. Saya senang dia bersedia bantu-bantu saya.

Tapi ternyata, spanduk tidak bisa jadi cepat. Baru bisa jadi tiga hari kemudian. Padahal lebaran tinggal lima hari lagi. Saya hitung-hitung, perpustakaan bakal tidak efektif. Saya lalu menjumpai Leon lagi, dan bilang ke dia kalau kegiatan perpustakaan tidak jadi dilaksanakan di akhir bulan puasa ini. Mungkin setelah lebaran baru bisa dilaksanakan. Lagi-lagi, Leon mengiyakan. Saya merasa agak sedikit bersalah karena kegiatan tidak jadi jalan, padahal dia sudah semangat membantu. Dan waktu saya konfirmasi ke dia kalau jadwal ngemper diundur, dia bilang ada beberapa orang yang tertarik dan mau bantu. Dan ada beberapa bahkan tertarik buat menyumbang buku. Ah, saya jadi tambah merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, mengingat hari lebaran yang sudah di depan mata, dan sarana kegiatan belum lengkap, mau tidak mau kegiatan harus saya batalkan.

***

23 Oktober 2009. Sudah empat hari ini perpustakaan emperan yang saya rencanakan berjalan. Setelah lama tertunda karena tetekbengek silaturahmi paska lebaran, dan ada beberapa keperluan yang harus saya lakukan, akhirnya mimpi ini bisa terealisasi.

Tadinya saya ingin mengajak Leon untuk menemani saya ngemper. Tapi ternyata dia sedang sakit, terkena tipes.

“Ya udah, lu istirahat aja dulu. Biar gua sendiri aja,” kata saya.

“Ga, gua bisa kok, besok gua temenin,” jawab Leon. Dia memang sedikit keras kepala walau kepalanya tak sekeras saya. Hahaha.

Ternyata, kekeraskepalaannya tidak bisa menyembuhkan sakit yang dia derita. Kabarnya, kondisi badannya semakin menurun. Tentu dia tak bisa menemani saya ngemper, buka perpustakaan.

Untungnya M Nur Andriansyah, saya biasa memanggilnya Bang Andri, bersedia menemani saya memermalukan diri, ngemper di trotoar dekat bunderan tugu Adipura, dekat kantor Bupati Lampung Selatan. Mulai dari awal buka perpus sampai hari ke empat ini, dia menemani saya, mulai dari memasang spanduk, menggelar tikar, menyusun buku, makan batagor, minum es buah, sampai bengong-bengong menunggu orang-orang yang sudi mampir dan menumpang baca.

Ternyata, minat baca di Lampung Selatan memang tidak sebagus Jogja. Hari pertama, cuma ada dua orang perempuan yang membaca sebentar. Salah satunya malah mencari buku hukum berbahasa inggris. Rupanya, dia kira saya sekaligus berjualan buku. Ada-ada saja. Pengunjung lain, hanya beberapa orang kawan yang lewat dan mampir untuk sekedar menyapa. Hari ke dua tak jauh beda. Cuma, ada seorang mbak yang mampir untuk melihat-lihat dan menawarkan bantuan buku. Saya cuma mengiyakan. Hari ke tiga pun begitu.

Hari ke empat ini, lebih lumayan dari hari-hari sebelumnya. Ada dua orang bapak, yang satu datang membaca sembari menunggui istri dan anaknya yang sedang menghabiskan waktu sore di lapangan Pemda, dan satunya mampir membaca sejenak setelah menjemput anaknya yang berlatih Volley. Lalu ada seorang mbak yang mampir baca, dan setelah beberapa kali membolak-balik halaman beberapa buku, dia bilang: “Wah, berat-berat. Pusing mbak bacanya.” Mbak itu, juga menjanjikan akan memberikan buku untuk disumbangkan, saya juga mengiyakan tawarannya.

Sedikitnya orang-orang yang datang baca, malah makin menyemangati saya untuk terus melakukan kegiatan ini selama saya masih punya tenaga dan waktu yang cukup. Ala bisa karena biasa, bukan? Perpustakaan emperan ini, rencananya akan rutin saya dan Bang Andri buka di trotoar bunderan Tugu Adipura setiap hari. Mulai dari jam tiga sampai menjelang maghrib. Mudah-mudahan tetap bisa konsisten dan tetap punya kelebihan waktu dan tenaga. Tentu saja, karena ini masih kegiatan awal, mungkin ada beberapa hari perpustakaan tidak bisa buka.

Ke depannya, saya kepingin buat klub diskusi penulisan. Saya rencananya memeruntukkan klub ini buat kawan-kawan pelajar di Kalianda. Walau saya bukan penulis yang baik dan kesohor, siapa tahu dari kegiatan ini saya bisa bantu-bantu kawan-kawan pelajar yang punya bakat menulis buat mengembangkan kemampuannya. Dengan cara berdiskusi dan bertukar pengalaman tentu saja. Saat ini, saya masih menulis dan mengumpulkan bahan-bahan buat rencana saya ke depan itu. Yang entah, bisa terwujud atau tidak. Yang penting niat dulu sajalah, urusan terealisasi atau tidak, itu permasalahan ke sekian, bukan?

***

NB: Tulisan dan kegiatan saya ini, saya peruntukkan buat kawan-kawan KTN di Jogja. Mudah-mudahan kalian tetap tidak bosan berkomunitas, paling tidak untuk sekedar ngumpul dan berbagi cerita. Ayo!

Tanya 2

Aku ingin hidupku bahagia
tapi bagaimana mungkin, jika aku
nyemplung ke kekuasaan?

Aku ingin hidup banyak orang di sekelilingku
berbahagia. Tapi bagaimana mungkin jika
cuma punya sedikit kekuasaan?

Sudah

sudah. lama sekali kau selesaikan
dialog kau dan kau yang lian,
percakapan yang bikin gaduh
di tubuh,
sungguh.

tapi. masih sisa kenangankenangan
yang tak sempat lumat. sementara
tangantangan tengadah
terus meminta kau
kelarkan rengekanmu
yang makin kotori
tanah,
sudah.

Ode Sepi Untuk Sigaret

Lama aku mematung di depan cermin
mematutmatut pakaian mana yang pantas
kupakai ke pemakaman kau

yang rela membakar tubuhmu sendiri
untuk menghanguskan sepi
yang beku di tubuhku.

Satu!

mari kita bersepakat,
tuk tak menyepakati apapun.

aku makin tua,
satu angka baru bergelayut di angka dua.

dan aku,
masih belum apaapa,

masih belum apaapa!

mari bersepakat,
kita masih tak menyepakati apapun.

kau hijau, aku demikian.
masihkah kau menyangkal, aku lebih dari kau sebagian?

mari bersepakat, kini kita tak meyepakati apapun.
ke depan, kita bersetuju, kau dan aku samasama tahu
satu rasa, satu menuju!

satu menuju!!

Ode Umur Untuk Janji

angkaangka berjatuhan dari almanak
yang tergantung di dinding
kamar kau,

juga suka,
juga
luka.

di tanggal ini setiap tahun,
banyak orangorang yang datang dan mendoakan,
dan kau akan terpaksa menjanjikan:

sebelum mati,
hidup kau harus lebih berarti.

angkaangka berjatuhan kian deras,
tapi kau tetap keras,
masih enggan berjanji,
tak yakin bakal bisa menepati..

Kalianda, 9 Oktober 2009

Ode Umur Untuk Gempa

masih ada sedikit tawa
kau selipkan di ujung air mata.

tangismu untuk lindu.
tawa itu, untuk
aku?

Kalianda, 9 Oktober 2009

Insyaf

Ini malam,
aku dan puisiku sadar,

kami tak perlu memusingkan
metafora,

tak usah tunduk pada
norma katakata.

Tak guna banyak istilah,
kami sudah sama jengah.

Tak perlu bermanismanis,
di sekitar kami makin banyak yang
menangis.

Kalau ada Presiden penyair,
Profesor puisi,
memandang kami picik,

karena tak mengindahkan tata,
karena menjauh dari estetika,
kami bisa jawab tanpa terbata:

kami tak pernah kuliah sastra!

Tanya 1

siapa yang kekal? aku atau
Kau?

pertanyaan usang bukan?

tapi di gelap kamar ini, pertanyaan itu
menjelma menjadi anak kecil yang terjaga di tengah malam,
dan enggan kembali terpejam.

siapa yang kekal? kau atau Aku?

tanya yang sama usang
kan?

tapi malam ini, tanya itu
berubah menjadi seorang tua yang penyakitan
dan enggan menjemput kematian.

Di Gunung Pesagi

Angin tak bersahabat lagi malam ini sayang.
Lelagunya terlalu bising. Tak seperti bisikannya
yang biasa buat kita diam, lalu lelap, hingga tanpa sadar
mata kita kembali terbelalak.

Entah apa yang ingin ia sampaikan.
Adakah ia juga gundah seperti kita?
Adakah ia sepertiku yang kadang sepi rasa?
Hingga kadang pula ia butuh menjerit,
melagu bising seperti ini malam..

Ah, mungkin ia hanya ingin yakinkan aku
agar tetap jaga semalaman. Mendengar desah napas kau yang sedang lelap, menjaga kau
dari mimpi buruk yang kerap datang saat kita memutuskan untuk
samasama terpejam.

Jika Nanti Anakanak Kita Lahir

Aku ingin kau biarkan mereka tetap tak berbaju.
Di negeri ini, tubuh harus terbiasa menahan dingin
dan ngilu.

Jika kelak mereka telah berbaju,
aku ingin kau ajarkan mereka makan
tanpa sendok dan garpu.

Bahkan di pekarangan sendiri, tangan
harus terbiasa menggali tanah
dan mengais sampah.

Jika mereka telah makan dengan sendok garpu,
aku ingin kau suruh mereka belajar
memelihara dendam.

Di jaman seperti sekarang,
mulut tak boleh terbiasa bungkam.
Diam hanya milik batu.

Jika mereka telah pandai teriak dengan lantang,
aku ingin kau buat mereka mampu
menahan tangis.

Kau dan aku samasama paham,
dunia terlalu kejam buat mereka
yang menyimpan air mata.

Dan jika tangis mereka telah redam,
maka lelaplah kau
di sampingku, sayang.

Aku pun akan tertidur sembari senyum
memeluk kau tenang,
meski jasad kita tak mereka sembahyangkan..

Selasa, Oktober 13, 2009

Ratu Punya Cerita

23 Mei 2009. Jl. Baung III RT. 04/ RW. 02 No.13, Kebagusan, Pasar Minggu. Jakarta Selatan. Rumah ini sangat sederhana. Di depan, ada taman kecil dengan beberapa jenis tanaman. Di teras, ditaruh meja kecil dan dua kursi.

“Akhirnya sampe juga kamu di sini,” kata Teteh sembari menyuruh saya masuk. Saya mengikuti Teteh ke dalam.

Ruang tamu difungsikan ganda. Ada alat untuk jogging. Rak di dinding, yang berisi banyak sekali piala. Dan sebuah meja. Di atasnya ada komputer yang sedang menyala. Seorang lelaki setengah baya sedang asik duduk di depannya.

“Ini Bapak,” kata Teteh. Saya langsung menyalami tangannya.

Di ruang tengah, ada televisi, kulkas, dan lemari yang penuh sesak dengan buku. Ruang tengah bersebelahan langsung dengan dua kamar tidur dan dapur. Saya duduk di atas karpet yang sudah digelar di ruang itu. Di atasnya, sudah ada lauk pauk dan nasi. Di dapur, ada suara orang sedang memasak.

Tak lama, datang seorang perempuan dari arah dapur. Badannya gemuk, wajahnya ramah.

“Ini Mamahku,” kata Teteh. “Ini lho mah, si badung yang sering kuceritain itu,” katanya lagi.

Perempuan itu langsung menyalami saya. Ia lalu bertanya tentang perjalanan saya. Setelah itu obrolan mengalir deras dari mulutnya. Tentang Teteh yang sering bercerita tentang saya. Keinginannya untuk bertemu dengan saya. Dan banyak lagi. Senyum seperti tak pernah lepas dari wajahnya. Saya senang melihat, dan mendengarnya berbicara. Bapak yang sedang asik bermain komputerpun menghentikan kegiatannya dan ikut pembicaraan kami. Seru.

“Udah, obrolannya dilanjut nanti aja,” kata Teteh. “Sekarang makan dulu,” kata Teteh lagi.

Ayam goreng, lalapan, dan salah satu lauk kesukaan saya: ikan asin. Kami makan dengan lahap.

***

Oktober 2008, saya pertama kali mengenal Ratu Gumelar. Saya biasa memanggilnya Teteh, panggilan khas orang Sunda. Maklum ia Sunda tulen. Ibunya, Popon Rukmini, asli Tasikmalaya. Sedangkan Bapaknya, M. Soleh, keturunan Banten dan Cianjur. Saya mengenalnya secara kebetulan, lewat seorang kawan kuliah. Namanya Didik Irawan.

Ceritanya, Didik pernah bekerja di Yayasan Pantau Jakarta. Sebuah organisasi wartawan yang bertujuan untuk memajukan jurnalisme di Indonesia melalui pelatihan-pelatihan menulis bagi jurnalis dan umum. Yayasan ini juga mengelola Mailing List (milis) Pantau Kontributor dan Pantau Komunitas. Selain itu, Pantau pun memiliki Website, pantau.or.id. Situs yang berfokus pada pemberitaan Aceh paska Tsunami. Agustus 2007- Agustus 2008, Didik bekerja sebagai Web Master, orang yang bertanggungjawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan Website milik Pantau itu.

Pada waktu bekerja di Yayasan Pantau inilah Didik mengenal Dyah Ayu Pratiwi. Dia biasa dipanggil Dayu. Saat itu, ia juga bekerja di Pantau sebagai Project Coordinator Kursus Jurnalisme Sastrawi. Salah program kursus yang rutin diadakan oleh Pantau. Dayu memang telah terbiasa dengan Jurnalisme semenjak kuliah. Ia pernah aktif di Teknokra, sebuah Lembaga Pers Mahasiswa di Universitas Lampung (UNILA), tempatnya dulu kuliah. Di Pantau, Didik dan Dayu menjadi teman akrab. Dayu biasa meledek Didik dengan memanggilnya “Om”. Dayu, adalah adik perempuan Teteh.

Pada bulan akhir tahun 2008 inilah, Teteh dan Dayu berlibur ke Yogyakarta. Didik yang menjemput mereka di stasiun dan mencarikan mereka hotel untuk menginap. Tapi pada hari ke dua mereka di Yogyakarta, Didik jatuh sakit. Sebetulnya saya tahu, Didik sudah merasa kondisi badannya tidak terlalu bagus sebelum Teteh dan Dayu datang ke Yogyakarta. Tapi saya juga tahu, kawan adalah segalanya bagi Didik. Lagipula, mereka sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Tidak mungkin untuk tidak memedulikan mereka.

Pada waktu Didik sakit, Teteh dan Dayu menjenguknya. Kebetulan jarak hotel dan kosan tempat Didik tinggal tidak seberapa jauh. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kebetulan pula, saya sedang menginap di sana. Waktu itu saya sedang sibuk mengurus bab terakhir skripsi. Di kosan Didik ada sambungan internet. Jadi saya menumpang mengetik di sana. Lebih mudah ketika saya kekurangan data. Bisa langsung tersambung ke dunia maya. Namun karena Didik sedang istirahat, saya tidak mengetik di kamarnya. Tapi di kamar seorang kawan kuliah, namanya Nur Legawa. Ia ikut menjemput Teteh dan Dayu di stasiun. Dan ia juga kebetulan mengontrak kamar di kosan yang sama.

Saya mengetik sejak siang. Dan ketika hari mulai gelap, saya mematikan Laptop dan beranjak ke atas, ke kamar Didik. Saya ingin mengecek keadaannya. Ternyata sudah ada Teteh dan Dayu. Kamar Didik penuh makanan, dibawakan oleh mereka.

Saya sudah tahu Dayu. Meski tidak pernah berkenalan secara langsung. Dayu sering menelepon Didik, dan saya pernah bertemunya sekali di kantor Pantau. Di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kalau tidak salah bulan Februari 2008. Saya agak lupa. Saat itu saya sedang berada di Jakarta untuk mengurus sebuah keperluan. Saya menginap di kosan Didik. Di Jakarta, Didik tinggal berdua dengan Eko Rusdianto, seorang penulis asal Makassar, Sulawesi Selatan. Eko saat itu kontributor, menulis untuk Pantau. Ketika Didik sedang tidak ada di Jakarta, mengurus peluncuran website Pantau di Aceh, saya jadi lebih akrab dengan Eko. Suatu hari dia mengajak saya ke kantor Pantau. “Daripada kau ga ada kerjaan di kosan,” kata Eko waktu itu. Di kantor Pantau, Eko menunjukkan Dayu kepada saya. “Itu yang namanya Dayu,” ujar Eko sembari mengacungkan jarinya ke arah perempuan berkulit coklat yang sedang sibuk mengetik di meja kerjanya. Ia memakai kacamata dan jilbab. Tapi saat itu, saya tidak menegurnya.

Di kosan Didik, saya berkenalan formal dengan Dayu. Dia bilang, dia juga sudah tahu saya. “Kamu ikut kursus narasi yang di Yogyakarta ya?” Tanya Dayu. Saya mengiyakan. 21 Juni- 13 Juli 2008, Pantau mengadakan kursus menulis Narasi di Yogyakarta. Pengajarnya Andreas Harsono dan Budi Setiyono. Keduanya jurnalis, bekerja untuk Pantau. Serta Anugerah Perkasa, Jurnalis, bekerja di Bisnis Indonesia, Jakarta. Saya ikut ambil bagian di kursus itu.

Lalu saya juga berkenalan dengan Teteh. Wajahnya bulat, matanya bundar, tubuhnya agak gemuk, serta memakai kacamata dan jilbab. Kesan saya ketika pertama kali bertemu dengannya, dia menyenangkan. Senyuman seperti tak pernah lepas dari bibirnya. Tapi saya tetap agak canggung, maklum orangnya terlihat dewasa. Tapi ketika saya melihat celana Jeans yang dia pakai berlubang, saya beranikan diri untuk membalas candaan-candaannya. Ternyata dia lebih menyenangkan dari yang saya pikirkan. Obrolan-obrolan mengalir deras antara kami berempat. Di luar kamar, hujan tak berhenti mengguyur sedari sore.

Saat sedang tak ada obrolan, Didik bilang ke Teteh kalau saya punya blog puisi. “Oh ya? Wah, pujangga rupanya” kata Teteh. Rupanya Teteh juga jago membuat puisi. Teteh minta diperlihatkan blog kepunyaan saya. Sayapun menunjukkannya. Dia lalu membaca beberapa tulisan. “Bagus,” kata Teteh setiap selesai membaca tulisan. Saya hanya tersenyum, sok acuh. Yang lucu, dia kemudian beranjak dari depan layar komputer dan menyidekapkan tangannya di depan dada. Dia membaca puisi saya sembari menirukan mimik muka anak kecil. Kakinya ia maju mundurkan. Kami bertiga terbahak-bahak melihat kelakuannya. Saya, tertawa sambil malu karena dibegitukan. “Ada-ada aja,” pikir saya.

Selepas Adzan Isya, hujan telah berhenti. Perut saya lapar minta diisi. Sayapun izin keluar untuk cari makan. Rupanya Teteh dan Dayu juga merasa lapar. “Bareng aja, kami sekalian pulang,” kata Teteh. “Ya udah,” kata saya. Kami bertigapun ke luar mencari makan. Didik sudah makan bubur instan yang mereka bawakan.

Kami memilih untuk makan di sebuah warung Mie dan Nasi Goreng Magelang pinggir jalan. Tidak jauh dari kosan Didik. Di sana, kami melanjutkan obrolan. Saya menceritakan tentang skripsi saya yang hampir selesai, dan rencana saya untuk ke Jakarta segera setelah tulisan selesai. Saya menulis tentang Marjinal, sebuah Band Punk yang bermarkas di Jl. Moch Kafi, Srengseng Sawah, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Wah kebetulan, rumah kami juga di Jakarta Selatan,” kata Teteh.

“Jangan lupa mampir ke rumah kalau jadi ke Jakarta,” katanya lagi. Saya mengiyakan.
Makanan habis. Saya segera beranjak hendak membayar. Tapi Teteh tidak membolehkan. Dia yang membayar semua. Setelah itu kami sama-sama beranjak pulang. Mereka ke hotel, dan saya kembali ke kosan Didik.

Pertemuan saya secara langsung dengan Teteh memang sangat singkat. Tapi setelah itu saya dan Teteh tetap berkomunikasi. Pulang ke Jakarta, Teteh dan Dayu membuat blog mereka sendiri. Kamipun saling menautkan alamat blog kami di blog masing-masing. Setelah itu, Teteh meminta alamat Yahoo Messenger (YM) dan Facebook saya. Keduanya layanan internet yang memungkinkan penggunanya untuk berkomunikasi langsung, ngobrol lewat dunia maya.

Semenjak itu, kami makin intens berkomunikasi. Berdiskusi tentang banyak hal, mengomentari tulisan masing-masing, atau sekedar saling menyapa ketika saya dan Teteh kebetulan sama-sama online. Terlebih, ketika saya dan Teteh kemudian bertukar nomor telepon genggam. Dia sering menelepon saya. Mengocehi saya agar semangat menyelesaikan skripsi, atau sekadar menanyakan kabar. Perlahan, saya mulai menganggap dia Kakak, dan dia menganggap saya Adik.

Kadang saya berpikir, kemajuan teknologi komunikasi menjadi salah satu penyebab rusaknya hubungan sosial. Dulu kita harus bertatap muka, bertemu langsung dengan keluarga, sahabat, pacar, atau siapa saja. Saling bertandang ke rumah masing-masing untuk mengobati rasa rindu ketika sudah lama tidak berjumpa. Semenjak telepon genggam merebak, lalu muncul koneksi internet, kebiasaan mengunjungi rumah masing-masing berkurang, bahkan menghilang. Kita sudah merasa cukup hanya dengan menyapa atau bertanya kabar lewat pesan singkat di telepon genggam atau surat elektronik. Tapi, tanpa teknologi komunikasi yang terus berkembang itu, saya dan Teteh mungkin tidak akan seakrab sekarang.

Akhir Desember, skripsi yang saya kerjakan selesai. Sayapun mendaftar untuk mengikuti ujian. 9 Januari 2009, saya mengikuti ujian skripsi. Puji Tuhan, saya bisa menjalaninya dengan lancar. Saya mendapat nilai A. Sepulang ujian, telepon genggam saya berbunyi. Rupanya Teteh, menelepon menanyakan hasil ujian. Dia orang pertama yang menyelamati saya.

***

Setelah makan, kami pindah ke teras. Teteh membuatkan saya kopi. Dari teras saya memerhatikan piala yang berjejer rapi di rak di dinding ruang tamu.

“Itu piala lomba puisi,” kata Teteh.

“Aku ga seperti kamu, berpuisi karena memang suka sastra,” katanya. “Aku ikut lomba puisi buat bantu-bantu uang makan sekeluarga,” kata Teteh lagi.

Teteh bercerita, ia dan keluarganya sudah biasa susah semenjak ia kecil.

“Makan sama garam dan terasi doang sih udah biasa,” katanya.

“Kita bahkan pernah makan biji karet saking ga ada makanan,” kata Teteh lagi.

Untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari, Mamah biasa menjahitkan pakaian pesanan orang dengan mesin jahit yang diberi oleh saudaranya. Dan Bapak, menjadi seorang penulis naskah kecil untuk drama televisi. Dan Bapak hanya menulis jika mendapat pesanan. Sebenarnya, ia adalah seorang penulis yang lumayan.

“Bapak dulu orang teater,” kata Teteh.

“Tapi sayang, Bapak ngambil jalur kepenulisan belakang layar,” kata Teteh lagi.

Naskah yang dibuat Bapak banyak yang digunakan oleh orang lain. Bapak hanya menuliskan, lalu diganti namanya. Tapi Bapak hanya menerima saja. Maklum, ia butuh uangnya untuk penghidupan keluarganya. Penghasilan Mamah dari menjahit dan Bapak yang bekerja serabutan sembari menulis, tentu saja tak mencukupi.

Tapi keadaan ekonomi keluarga tidak membuat Teteh serta abang dan adiknya tidak kecil hati. Mereka malah merasa beruntung memiliki orangtua yang selalu memberi pengertian kepada mereka tentang keadaan keluarga. Punya Bapak yang tegas dan Mamah yang bijaksana. Mamah, sering menasehati mereka mengenai ketegaran hidup lewat dongeng-dongeng pengantar tidur.

Sosok Bapak dan Mamah, seta keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak banyak menuntut. Bahkan masing-masing dari mereka berusaha keras untuk membantu menambah penghasilan keluarga.

Aa’ misalnya, kerap menawarkan jasa ojek payung ketika tiba musim hujan. Berjualan es, bahkan meminta amal. Keliling dari masjid ke masjid. Ketika ada acara di Pasar Festival (saat itu Gelanggang Mahasiswa), Aa’ sering datang untuk mengumpulkan makanan-makanan sisa konsumsi. Aa’ yang dimaksud Teteh adalah Wisynu, abangnya.

Untuk membantu ekonomi keluarga pula, Teteh mengikuti berbagai lomba puisi. Ia masih duduk di kelas tiga Sekolah dasar ketika pertama kali mengikuti lomba puisi. Waktu itu Masjid Istiqlal mengadakan lomba puisi. Iseng saja, ia ikut lomba itu. Ternyata ia menang, juara satu! Hadiahnya, piala bergilir dari Menteri Agama. Semenjak itu, Teteh akhirnya rajin ikut lomba puisi.

Ketika ia duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), Radio Republik Indonesia (RRI) mengadakan lomba puisi. Ia mengikutinya, dan kembali menjadi juara. Teteh kaget, selain mendapat piala, ia mendapat uang dua ratus lima puluh ribu dan sebuah Radio bermerek Sony.

“Buat kita yang kekurangan, wah, ini luarbiasa!” Kenang Teteh. Uang hasil lomba puisi, ia pergunakan untuk membayar SPP sekolah.

Semenjak Teteh menang di lomba puisi RRI dan sadar bisa mendapatkan uang, ia mulai “berburu” lomba puisi. Berbagai lomba ia ikuti. Di Taman Ismail Marzuki, Gelanggang Mahasiswa, Museum Juang, Museum Sumpah Pemuda, dan banyak lagi. Yang terbesar, ia pernah mendapatkan uang satu setengah juta rupiah dari lomba yang diadakan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ketika memeringati hari lahir Soekarno.

“Uang hadiahnya sih ga jauh-jauh larinya. Buat bayar kontrakan rumah, SPP, sama biaya sehari-hari
kami,” kata Teteh.

“Dayu mulai ikut lomba puisi juga pas dia kelas 2 SMP, dan sering menang juga. Jadi, lumayanlah” kata Teteh.

“Pokoknya bukan karena melek sastra karena kamu,” kata Teteh lagi.

Saya tersenyum mendengar cerita Teteh. Lalu melihat lagi piala-piala yang tersusun rapi di atas rak di dinding ruang tamu.

***

Teteh lahir 29 tahun yang lalu.
Tepatnya Empat Februari 1980. Di Kampung Pedurenan Haji Cokong, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Kampung ini menyimpan kenangan yang mendalam bagi Teteh. Di kampung inilah ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya.

“Waktu itu belum masuk listrik. Jadi penerangan masih ngandelin petromak atau lampu tempel, jadinya gelep kalo malem,” Teteh bercerita.

Di Kampung Pedurenan ini, Teteh dan keluarganya pindah-pindah rumah kontrakan.

“Ada mungkin enam kali pindah,” kata Teteh.

Mereka pindah dari rumah ke rumah dengan tipikal sama. Teteh menyebutnya rumah 3 petak: ruang tamu, ruang tengah, dan dapur. Lalu satu atau dua kamar tidur. Jika beruntung, ia dan keluarganya mendapat rumah dengan kamar mandi di dalam. Jika tidak, terpaksa memakai kamar mandi di luar. Berbarengan dengan tetangga-tetangga sekitar rumah.

“Yang aku inget, kita sekeluarga pernah ngontrak di rumahnya Pak Sanusi, orang Betawi,” katanya lagi.
Perkampungan Pedurenan pada tahun 1980an memang masih menjadi salah daerah tempat tinggal keluarga-keluarga Betawi asli yang memiliki tanah berhektar-hektar. Warisan keluarga turun temurun. Kawan kuliah saya di Yogyakarta, namanya Risman Fardela, ia keturunan Betawi asli, tinggal di Jatinegara, Jakarta Timur pernah bilang kepada saya. “Dulu saking luasnya, kadang-kadang mereka sampai lupa di mana batas tanah yang mereka miliki,” kata Risman.

Pada waktu kecil, Teteh ingat di sekitar kampung Pedurenan masih banyak perkebunan kelapa yang luas dan kolam-kolam ikan milik orang-orang Betawi.

“Ada yang punya Haji Maman, Babe Husin, dan lainnya,” ujar Teteh.

Dulu, kampung padat perumahan tempat Teteh tinggal itu kerap dipusingkan dengan datangnya banjir saat tiba musim penghujan. Pernah hujan yang menyebabkan banjir itu datang ketika malam hari saat ia dan keluarganya sedang terlelap.

“Aa’ sama Mamah yang tidur di kasur yang digelar kebangun karena udah kerendam air,” kata Teteh sambil tertawa.

Tapi musibah rutin yang menimpa kampung Pedurenan itu kadang menjadi hiburan bagi Teteh dan teman sebayanya.

“Kalo banjir, bisa ujan-ujanan trus renang-renangan sama temen-temen,” kata Teteh mengingat kembali masa kecilnya.

Teteh bercerita banyak sekali mengenai kenangan-kenangannya di Kampung ini.

“Pokoknya seru kalo nginget masa kecil dengan temen-temen di Pedurenan,” kata Teteh lagi.
Tapi, Kampung Betawi yang ketika Teteh kecil masih berupa perkebunan dan kolam-kolam serta gelap gulita saat malam hari tiba itu kini tinggal cerita. Seiring waktu, pembangunan mulai merambah daerah itu, sampai sekarang menjadi segitiga emas Kuningan. Pusat bisnis dan pemerintahan. Gedung-gedung pemerintahan, perkantoran, apartemen dan pusat-pusat perbelanjaan mewah berjamuran. Menggusur tanah-tanah perkebunan, kolam-kolam, hingga perumahan milik penduduk. “Tuan-tuan tanah” Betawi terpaksa harus minggir, menjual tanah milik mereka dengan harga murah kepada para spekulan dan calo tanah. Pindah ke daerah-daerah pinggiran Jakarta, bahkan sampai ke daerah Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Waktu saya mencari data di Internet tentang Kampung Pedurenan, saya beruntung menemukan tulisan berjudul “Dua Lelaki Terbelit Kenangan” di webblog “pukultigadinihari”. Tulisan itu menceritakan kisah Abdul Rahman, yang biasa dipanggil Maman. Warga asli Betawi asal Kampung Pedurenan. Ternyata dia adalah Haji Maman. Salah satu orang Betawi yang diceritakan oleh Teteh memiliki kolam ikan hias kala ia kecil. Tahun 1990, Maman terpaksa harus melego tanah keluarganya dengan harga tiga ratus ribu per meternya. Setelah menjual tanah, ia terpaksa berpindah-pindah, ke daerah Condet, Depok, Pasar Minggu, hingga ke Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Usaha kolam yang dirintisnya pun ambruk.

Maman, menurut tulisan itu kini menjadi pengurus Masjid Al Awwabin, di RT 15, RW 10, Pedurenan Haji Cokong, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Ia kembali ke kampung itu setelah berkali-kali pindah karena kerap memimpikan kenangan di tanah tempat ia lahir dan besar itu.

Ketika saya menunjukkan tulisan tentang Haji Maman kepada Teteh, dia seakan tak percaya.
“Wah, Masjid Al Awwabin ya? Aku pernah tinggal di belakang masjid itu lho,” kata Teteh ketika selesai membaca tulisan itu. Ia tak menyangka, banyak perubahan yang terjadi pada kampung dan orang-orang di kampung tempat ia lahir dan dibesarkan itu.

“Yang jelas, aku nyaksiin mulai daerah itu jarang penduduk karena mulanya kebon kelapa, terus berdesak-desakan, sampe jarang lagi karena digusur, dan sekarang udah jadi Rasuna Episentrum,” ujar Teteh.

Rasuna Episentrum yang dimaksud Teteh adalah sebuah “megasuperblok” terpadu. Kompleks apartemen, perkantoran, dan pusat perbelanjaan di segitiga emas Kuningan. Kompleks terpadu ini dimiliki oleh PT Bakrieland Development. Salah satu dari banyak perusahaan milik Kelompok Usaha Bakrie, dinasti bisnis keluarga Bakrie yang saat ini dikomandani oleh Aburizal Bakrie. Sekarang ia menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Kabinet Pembangunan, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada awal pembangunannya, kompleks ini bernilai lebih dari Rp. 3,5 triliun. Megasuperblok ini berdiri di atas tanah seluas lebih dari 50 hektar. Di situsnya, Rasuna Episentrum menyebut dirinya “A city within a City”, kota di dalam Kota! Mungkin karena luasnya.

Melihat nasib warga keturunan Betawi yang tergusur seperti Maman, saya teringat nasib banyak penduduk di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Yang juga seperti mereka, kehilangan rumah dan tanahnya karena obsesi “pembangunan”.

Sejak 29 Mei 2006, lumpur panas menyembur di desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, dari sumur Banjar Panji-1 milik PT. Lapindo Brantas. Salah satu perusahaan yang ditunjuk oleh BP MIGAS, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi untuk melakukan pengeboran minyak dan gas di sana. Akibat semburan lumpur yang tak henti itu, puluhan pabrik, ratusan hektar sawah serta tak terhitung pemukiman penduduk, tenggelam di dasar lumpur.

Sampai saat tulisan ini dibuat, mereka masih hidup terlunta-lunta di penampungan sembari mengingat sesekali rumah dan tanah mereka yang kini terkubur lumpur. Dan saya ingat, PT. Lapindo Brantas, perusahaan tambang yang teledor itu, yang mengusir penduduk Porong, Sidoarjo, Jawa Timur itu dari rumah, tanah, serta kenangan mereka, juga adalah anak perusahaan milik keluarga Bakrie.

***

Kopi tinggal setengah
. Di teras rumah, Teteh lalu menceritakan tentang kedua saudaranya. Aa’ Wisynu dan Dayu.

Teteh ingat, Aa’nya dulu adalah pribadi yang keras. Ia telah menjadi pentolan tawuran semenjak SMP. Menurut Teteh, mungkin karena Aa’ terinspirasi dengan cerita-cerita Bapak. Sebelum menulis, M. Soleh, Bapak Teteh adalah seorang jawara. Preman di Pasar Mencos, Setiabudi, Jakarta Selatan. Bapak memang mewarisi kemampuan pamannya, jawara silat di Bogor.

Teteh juga ingat, dulu ia kerap diajak Bapak ke Pasar Mencos, memalak orang-orang yang menang judi.
“Aku sampai bisa main kartu karena keseringan liat orang judi,” kata Teteh.

Setiap menjelang lebaran, Teteh juga ingat ia kerap diajak Bapaknya pergi ke Pasar Mencos. Pernah, katanya, ia ikut Bapak pergi ke Pasar Mencos ketika hari raya sudah dekat. Di kantong Bapak, cuma ada uang dua ribu lima ratus rupiah. Pulangnya, mereka bisa membawa kulit ketupat, beras, lauk, saus, dan kebutuhan lebaran lainnya. Uang di kantong Bapak bertambah menjadi empat ribu rupiah. Teteh
bercerita sembari tertawa. Kebiasaan Bapaknya memalak ini berlangsung hingga Teteh SMP.

“Waktu aku SMU sih kayaknya ga pernah lagi,” kata Teteh.

“Malu juga sih kalo inget, tapi mau gimana lagi,” kata Teteh lagi.

Tapi paling tidak, Teteh, Aa’, serta Dayu bisa belajar keberanian dari sosok Bapaknya. Walaupun perempuan, Teteh dan adiknya, Dayu, terbiasa pergi ke mana-mana sendirian.

Di ruang tengah sebelum kami makan, Bapak bilang ke saya, “Tiap orang sebenarnya punya rasa takut, tapi bagaimana caranya kita mengurangi rasa takut di diri kita, dan memperbesar rasa takut orang yang kita lawan,” kata Bapak.

Sifat Aa’ yang keras, menurut Teteh berkurang ketika ia telah menamatkan kuliahnya di STMIK Jayakarta. Setelah kuliah, Aa’ lama tidak mendapatkan pekerjaan. Ia sampai putus asa. Sambil menangis, ia bilang ke Teteh bahwa ia menyerahkan nasib keluarga sepenuhnya ke Teteh.

“Soalnya gua kayaknya ga bisa,” ujar Aa’ kepada Teteh waktu itu sembari meneteskan air mata.

Untuk membuat Aa’nya lebih baik dan kembali semangat, Teteh membuatkan sebuah puisi.

Kita Masih Punya, Kita Masih Bisa

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan sang elang,
hanya seekor camar?
Kita masih bisa terbangkan sayap keliling dunia
dan jelajahi samudera, langit biru
membentang luas.

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan sang matahari,
hanya sebuah mercu suar?
Kita masih bisa berbagi terang
dan berikan arah
bagi kapal-kapal terjebak badai.

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan sang harimau,
hanya seekor kijang?
Kita masih bisa berlari menembus hutan
dan nikmati hijaunya dedaunan.

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan batu karang,
hanya sebuah batu kali?
Kita masih bisa jadi pondasi
bagi bangunan bangunan raksasa pencakar langit.

Lantas kenapa kalau kita hanya seorang manusia,
Kita masih punya Yang Maha,
Sang pemilik segala
yang akan selalu ada.

Puisi ini membuat Aa’ sedikit lebih baik. Aa’ sadar, tak ada guna menyerah melawan kehidupan. Aa’ kembali bangkit, bekerja berpindah-pindah. Menjadi sales asuransi, membuat jasa undangan pernikahan, dan sebagainya. “Tapi tetap aja Aa’ jatuh bangun,” kata Teteh.

Akhirnya Aa’ bertemu dengan seorang perempuan, Shelvy Gandara Putri. Dia yang menemani Aa’ dan menyemangatinya tiap kali Aa’ gagal menjalankan usaha yang ia rintis. Tahun 2007, Aa’ menikahi perempuan ini.

Teteh lalu memerlihatkan sebuah album foto kepada saya.

“Ini foto pernikahan Aa’,” ujar Teteh sembari membuka halaman demi halaman album foto itu.
Sebuah pernikahan yang sangat sederhana. Tidak ada pelaminan, kursi duduk buat undangan, terlebih hiburan seperti layaknya pesta pernikahan. Di foto itu, terlihat orang-orang yang sedang makan beralaskan tikar. Beberapa bahkan hanya jongkok di jalan di depan rumah. Tapi Aa’ dan perempuan yang akan dinikahinya terlihat bebahagia. Mata mereka bersinar.

Teteh mengaku sedih jika ingat momen itu. Menyesal tidak bisa memberikan yang lebih baik untuk abang satu-satunya yang sangat ia sayang itu.

“Perjalanan hidup Dayupun ga kalah sedihnya,” ujar Teteh kemudian.

Lulus SMU tahun 2000, Dayu merantau ke Lampung. Ia diterima di Universitas Lampung. Jurusan Manajemen Kehutanan. Ia berangkat dengan tabungan sendiri. Teteh sekeluarga dengan berat hati melepas kepergiannya.

Di Lampung, Dayu hidup dengan kiriman yang tak layak. Seperti Teteh, Dayu harus sering mengirit agar kirimannya bisa bertahan sampai akhir bulan. Mengirit, bagi Teteh dan Dayu berarti berpuasa. Atau hanya memakan gorengan untuk mengisi perut. Dayu sering sekali harus menahan lapar tiap hari. Di Lampung, Dayu bahkan pernah terserang Demam Berdarah dan Malaria. Semua harus ia hadapi sendiri. Jarak dan biaya membuat keluarganya tak bisa berkunjung. Merawatnya, atau sekedar menengok keadaannya.

“Untung dia bisa sampe lulus,” ujar Teteh. Matanya berkaca-kaca.

Sembari mendengar cerita Teteh, saya ingat ketika saya kuliah. Meski sebenarnya uang yang dikirimkan oleh orangtua saya perbulan lebih dari cukup, saya kerap merasa kurang dan selalu meminta uang tambahan lebih. Membandingkan kisah saya dan kisah mereka, saya jadi malu sendiri.

Setelah bercerita, Teteh mengambil beberapa buku harian Dayu ketika ia kuliah di Lampung dan menunjukkannya kepada saya. Hati saya tergetar membacanya.

***

Tahun 1998, Teteh diterima di Institut Pertanian Bogor. Di jurusan Sosial Ekonomi Agribisnis. Seperti Dayu dan Aa’nya, kehidupan Teteh juga tak jauh beda.

Di Bogor, tempat tinggal barunya itu jarang sekali lomba puisi. Artinya, tak ada lagi duit tambahan.Tentu saja ia harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup. Kemudian ia ingat makanan yang menjadi favorit kawan-kawannya di SMU. Pisang Coklat (piscok). Tetehpun memutuskan untuk mencoba menjual piscok. Resep piscokpun ia cari. Uang Rp. 10.000,- yang diberi Mamahnya untuk ongkos dan hidup di Bogor akhirnya ia putar untuk membeli bahan untuk membuat Pisang Coklat. Tentu saja awalnya ia harus berpuasa karena uangnya untuk makan habis ia belikan bahan.

“Aku biasanya beli bahan-bahannya di Pasar Bogor, jalan kaki dari kos, pagi atau siang sepulang kuliah,” cerita Teteh.

Tiap hari, ia bangun pukul setengah lima. Memasak piscok untuk kemudian dijual siangnya. Siapa sangka, ternyata dagangannya laris. Hasil penjualannya benar-benar berguna buat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Kalo pulang ke Jakarta, aku bisa ngasih mamaku Rp. 20.000,” kata Teteh.

Tapi nasib baik tak selalu berpihak. Karena kesibukannya menjual piscok ini, ia kelelahan dan terserang TBC. Ia beruntung, saat itu ada program peberantasan TBC dari pemerintah. Karenanya ia tak perlu membuat orangtuanya pusing untuk lebih bekerjakeras, mencari uang untuk membeli obat. Enam bulan ia harus menjalani pengobatan karena penyakitnya ini.

Karena penyakitnya ini, tentu saja ia tak bisa lagi bangun saban pagi untuk membuat piscok.

“Alhamdulillah, selalu ada pintu lain yang dibukakan oleh Tuhan,” kata Teteh.

Di kota hujan ini, ia mendapatkan sesuatu yang kelak mengubah hidupnya, beasiswa.
International Community Activity Center, sekarang Yayasan Goodwill memilihnya sebagai penerima beasiswa. Ia mendapatkan Rp. 225.000,- per bulannya. Ini tentu saja cukup membantu meringankan beban keluarga. Uang yang ia terima, ia bagi dua. Rp. 100.000,- untuk menambah kiriman Dayu per bulan, dan Rp.125.000,- untuk keperluan rumah.

Tahun 2000, Yayasan yang mensponsori beasiswa Teteh mengirim Teteh ke Amerika. Homestay selama seminggu di Georgia. Pengalaman luarbiasa, bahkan tak pernah terbayangkan sekalipun olehnya.

“Aku bener-bener dapet pertolongan dari Allah,” ujar Teteh.

Dalam hati, saya mengiyakan.

***

Kopi di gelas sudah habis saya tenggak. Setelah selesai bercerita, Teteh lalu mandi. Hari sudah agak sore. Rencananya hari ini, ia dan Bapak akan pergi ke Sukabumi. Menumpang mobil saudaranya. Karena ada beberapa barang yang dibawa, mobil penuh. Hanya Bapak yang berangkat lebih dulu. Teteh kemudian berencana menyusul saja, naik angkutan.

“Ga apa, kan mau nganter kamu naik bis juga,” kata Teteh.

Saya, bermaksud ingin ke Jl. Moch. Kahfi, Srengseng Sawah, Setiabudi, Jakarta Selatan. Ke markas Marjinal Band, Komunitas Sapi Betina. Band Punk asal Jakarta Selatan yang lagu-lagunya saya bahas dalam skripsi. September 2007, ketika saya selesai live in di komunitas mereka, saya berjanji akan berkunjung lagi suatu saat. Memberikan tulisan saya jika sudah selesai.

Ketika Teteh di kamar mandi, saya ditemani Mamah. Kami lalu berbincang. Mamah beberapa kali mengatakan, merasa bersyukur mendapatkan anak-anak seperti Aa’, Teteh, dan Dayu.

“Ga nyangka mereka udah pada lulus kuliah semua,” kata Mamah.

Anak-anaknya sekarang memang telah menjadi orang yang bisa ia banggakan. Semuanya telah selesai kuliah. Dan, telah bisa menghidupi diri sendiri.

Aa’, tahun 2006, setelah beberapa kali gagal menjalankan usaha, mencoba untuk menjual piscok di Sukabumi. Makanan yang pernah membantu Teteh untuk menyambung hidup ketika kuliah. Resep yang diberikan oleh Teteh, ia modifikasi. Lalu ia mencoba menjual resep piscok hasil eksperimennya itu. awalnya, dari sekolah ke sekolah. Ternyata banyak yang suka.

Tapi berjualan dari sekolah ke sekolah beresiko tinggi ke usaha yang dirintisnya. Terutama jika libur. Tidak ada pesanan. Ia akhirnya memutuskan untuk membeli gerobak agar tidak hanya mengandalkan pesanan dari sekolah. Gerobak ini cukup membantu usahanya. Dan, ternyata bisnisnya maju. Perlahan, ia memunyai pelanggan tetap yang bertambah hari ke hari.

Sekarang, Aa’ telah memiliki dua gerai. Di Jalan Arif Rahman Hakim, dan di daerah Cisaat, Sukabumi. Ia telah memiliki sekitar 18 pekerja. Cakra Buwana Silihwawangi, nama gerai piscoknya, sudah akrab di telinga orang-orang Sukabumi.

Dayu, setelah tidak lagi bekerja di Pantau, bekerja sebagai Freelance Transcipter untuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pula, ia telah memiliki lahan sekitar 5 Hektar di Lampung. Rencananya, akan ia tanami pohon Sengon.

Dan Teteh, kini bekerja sebagai Research Manager di PT Acorn Konsultan. Sebuah perusahaan penelitian pemasaran di Jakarta.

Desember 2002, tiga bulan setelah lulus, Teteh mendapat panggilan dari kantor Goodwill, Yayasan yang pernah memberinya beasiswa saat ia kuliah. Orang yang pernah menjadi sponsornya, bekerja di sana. Waktu itu, ia datang dengan pakaian seadanya. Ia tidak mengira, ternayata itu panggilan wawancara untuk bekerja.Hari itu juga, Teteh menandatangani kontrak untuk mulai bekerja bulan Januari 2003 di Acorn Konsultan.

Di teras, Mamah bilang kepada saya. Teteh dan Aa’ pernah membincangkan untuk pindah ke rumah yang lebih layak. Tapi Mamah menolak.

“Masih ada Dayu yang belum diselamatkan,” kata Mamah saat itu. Mamah lebih suka uang untuk menyicil rumah digunakan untuk “menyelamatkan” Dayu. Tanah yang dibeli Dayu di Lampung, adalah hasil sumbangan mereka bersama.

“Mamah ga pernah nyeselin keadaan Mamah, kalo Mamah inget mereka,” ujar Mamah. Matanya sedikit basah. Saya terharu mendengarnya.

Setelah Teteh selesai mandi, saya pun bersiap hendak ke Srengseng Sawah, Setia Budi, Jakarta Selatan. Ketika Teteh sudah siap mengantar, saya pamit kepada Mamah. Saya dan Teteh pun berjalan menuju Stasiun Tanjung Barat untuk menunggu bis.

Ketika kami telah sampai di ujung gang, Teteh menengok ke belakang.

“Coba lihat ke belakang deh,” kata Teteh.

Ketika saya menoleh ke belakang, saya lihat Mamah sedang melambai kepada kami dan mengecup kedua tangannya sembari seakan melempar kecupan di tangannya kepada kami. Dia sedang mengirimkan kecupan kasih sayangnya, doanya. Kamipun membalasnya.

“Mamah selalu begitu dari kami kecil tiap kali anaknya mau pergi,” kata Teteh.

Ah, saya langsung teringat Ibu saya di Lampung.

***

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Tryin' to make his way home?

Di atas, adalah petikan lagu Joan Osborne, penyanyi perempuan asal Amerika. Judulnya “One Of Us”. Lagu itu terdapat dalam album Relish yang ia keluarkan tahun 1995.

Jika dicerna mentah-mentah, tentu saja lirik lagu itu membuat beberapa dari kita akan marah. Betapa tidak, Osborne memertanyakan sesuatu yang menggelitik. Bagaimana jika Tuhan adalah salah seorang dari kita? Hanya seorang asing di dalam bus yang sedang dalam perjalanan pulang? Pernyataan sekaligus pertanyaannya dalam lagu itu sungguh mengusik kuping.

Tapi saya suka lagu itu. Karena menyimpan pesan yang amat mendalam. Paling tidak bagi saya.
Osborne, ingin mengatakan bahwa “Tuhan” ada di sekitar kita, selalu mengiringi kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Lebih jauh lagu tersebut ingin mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Semua kejadian, keberuntungan atau kesialan yang kadang melekat di keseharian, selalu mengandung pesan.

Apa yang dialami oleh Teteh dalam cerita mengenai keluarganya. Kesialan-kesialan, kesusahan-kesusahan, lalu keberuntungan-keberuntungan dan kebahagiaan-kebahagiaan yang mereka alami, saya kira merupakan refleksi hadirnya “Tuhan” dalam kehidupan mereka. Teteh dan keluarganya telah berhasil menghayati “pesan” yang ingin disampaikan oleh Tuhan dalam setiap kejadian dalam tiap detik kehidupan mereka.

Perjumpaan pun demikian. Tak ada yang benar-benar kebetulan. Dan tiap pertemuan, selalu membawa pesan bagi kita untuk lebih menghayati “Tuhan”.

Perjumpaan saya dengan Teteh yang terlihat sangat kebetulan pun saya rasa mengandung pesan yang sangat dalam bagi saya. Teteh, dan ceritanya membuat saya lebih menghargai yang saya punya. Membuat saya lebih menghayati setiap detik kehadiran saya di dunia, beserta pengalaman yang menyertainya tentunya.

“Jangan-jangan Tuhan dalam lagu Joan Osborne adalah Teteh?” Saya bertanya genit dalam hati.
Kini, saya dan Teteh masih terus berhubungan. Ia kerap memberikan petuah-petuahnya ketika saya sedang bermasalah. Selain saya, Teteh juga memiliki dua orang. Yang walau hanya dijumpainya sekali, telah ia anggap adik. Dan seperti saya, mereka juga menganggap Teteh sebagai kakak.

Yang pertama Nur Legawa, kawan kuliah saya yang pernah menjemput Teteh di Stasiun bersama Didik. “Buku nasehat kehidupan yang paling emoh aku bacapun kayanya bakal aku beli kalo Teteh yang nulis,” kata Nur Legawa ketika saya menanyakan kesannya akan Teteh.

“Teteh pintar ngasih nasehat yang bikin aku semangat,” katanya lagi.

Adik angkat Teteh yang satunya lagi, adalah Eko Rusdianto. Penulis asal Makassar yang pernah bekerja bersama Didik dan Dayu di Pantau. Teteh bertemu dengan Eko sekali di Makassar, ketika ia sedang ada tugas ke luar kota dari kantornya. Mereka juga tetap saling menyapa. Berhubungan walau dipisahkan waktu dan jarak.

Kami, kini seperti sebuah keluarga besar, yang saling mendukung satu sama lain.
Ah, saya makin merasa bahwa hidup ini benar-benar dipenuhi kebetulan yang menyimpan pesan, jika kita menghayatinya.

***

Lampung, Juli 2009.


Jumat, Agustus 28, 2009

Jangan Bosan Mengeluh di Kupingku

Jangan bosan mengeluh di kupingku
lewat suara kau yang parau
dan samar itu sayang

dunia ini terlalu lengang tanpa keluh kau
meski:

Di perempatan, bocah-bocah tak beribu tak henti teriak minta dikasihani. Mereka dipaksa mengerti, tangan diciptakan untuk menengadah. Bukan buat mengapak kayu biar belah, atau menggodam batu biar pecah.

Jangan bosan mengeluh di kupingku.

Dunia ini terlalu sepi, meski:

Di gang-gang sempit dan basah, perempuan-perempuan teriak jual harga diri. Hidup telah buat mereka paham, kehormatan tak pernah bisa ditukar dengan roti. Lagipula, kita tak pernah bisa kenyang hanya dengan menjaga kesucian bukan? Dan tahukah kau sayang, Tuhan selalu mati saat perut sedang bunyi.

Jangan bosan mengeluh di kupingku.

Dunia terlalu hening meski:

Di televisi, politisi tak bosan teriak obral janji. Syahdan, tak akan ada lagi perut yang lapar asal mereka bisa duduk dengan tenang.
Ah sayang, tak kau lihatkah? Mereka bahkan lupa menggerus lemak di perut sendiri.

Maka jangan pernah berhenti mengeluh lewat suara kau yang berat dan redam itu sayang.
Meski kau punya keluh hanya akan memantul di telinga kau lagi,
lewat keluhku sendiri.

Jumat, Agustus 07, 2009

Sajak Yang Kucuri Dari Fotomu 2

I

Aku ingin larian di padang alismu,
bermain layangan atau
berkejaran dengan kupu,

meresapi belaian ilalang,
menikmati lelagu angin yang bernada girang,
menghidu semerbak wangi perdu,
dan menghayati langit nila yang nyalang di dahimu.

II

Aku ingin berenang di basah kelopakmu,
mata air yang tak henti mengalir.
di muara hatimu arusnya menghilir.

Di pasir pinggir muaramu,
ada butir-butir mosaik masa lalu,
pelan aku rekatkan mereka satu-satu,
hingga melayang aku pada rindu,
tempat jengah segala menuju.

III

Kakiku telah lelah menjelajah,
bingung hendak ke mana lagi mengarah.

Di pasirmu yang basah itu aku rebah,
telentang melihat seriti yang terbang rendah.

: Ah sayang, inginku akanmu makin enggan sudah.

Senin, Agustus 03, 2009

Sajak Yang Kucuri Dari Fotomu

Kepada: S

I

Di bening matamu aku lihat pantulan caya bulan
di air laut pinggir dermaga dekat rumahku.

Di dalamnya, di malam setengah usia
seperti sekarang, kau bisa perhatikan
ikan-ikan dan cecumi berenang menimbulkan riak.

II

Dari rekah bibirmu aku temukan riang yang tak sudah
riah pesta para dewa.

Di panggung sungging senyummu itu,
penari berdansa, pemusik bernada,
penyair berstanza.

III
Malam ini, caya mata dan riang bibirmu
menjelma riuh yang tak habis di sepiku.

Bisikan

malam jalang, dingin menusuk
tulang.

rindu tersangkut di
ilalang

Kaukah itu yang kerap memanggilku
pulang?

Selasa, Juli 21, 2009

Suara Hati, Sayap Ibu


AKU tidak tahu kapan tepatnya. Kalau tidak salah sekitar akhir Mei atau awal Juni 2007. Waktu itu hari menjelang malam. Itulah kali pertama aku menjejakkan kaki di halaman muka Yayasan Sayap Ibu (YSI), di Jl. Rajawali 3, Pringwulung, Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta. .

Halaman muka sepi, tidak ada siapa-siapa. Tapi kemudian aku dengar suara sayup-sayup dari arah dalam. Pelan kuarahkan langkah mengikuti jejak suara, ada 2 orang wanita dan beberapa orang bayi yang sedang sibuk sendiri di peraduannya. Ada yang tersenyum-senyum sendiri, tertawa sambil membolak-balik mainannya, atau bergumam, entah tentang apa.

Lalu kuberanikan diri mengucap salam

“Permisi” ujarku.

Seorang wanita kemudian menghampiriku. Aku sudah lupa siapa namanya. Yang pasti perawakannya kecil dan berkulit coklat muda, umurnya sekitar 27 tahun.

“Ya, ada apa mas?” tanyanya.

“Cuma mau tanya mbak, kalau mau nyumbangin sesuatu gimana ya?” tanyaku.

“Oh, tunggu mas saya ambilkan bukunya, mas duduk saja dulu,” jawabnya sembari bergegas masuk ke dalam, sementara aku menuju ruang duduk tamu.

Tak lama berselang, “si Mbak” datang sambil membawa sebuah buku.

“Mas dari mana?” tanyanya kemudian.

“Saya kuliah mbak, di Gadjah Mada” jawabku.

“Oh, ya sudah, mas tulis nama mas di sini,” ujarnya sembari menyodorkan buku tamu. Aku langsung menuliskan namaku di situ

“Mmm, aku nyumbangnya ga sekarang Mbak,” kataku setelah menuliskan nama.

“Mungkin minggu depan, dan itupun hanya sedikit makanan dan susu bayi,” ujarku lagi.

“Makanya aku datang sekarang cuma mau tanya, boleh atau tidak nyumbang seadanya,” kataku.

“Oh, tentu boleh Mas. Kami malah berterimakasih masih ada yang mau peduli,” jawabnya.

ITU dialog yang aku ingat antara aku dan “Si Mbak”, aku lupa siapa (maaf). Aku pertama bertandang ke YSI memang hanya untuk bertanya cara memasukkan sumbangan. Waktu itu, kebetulan mantan kekasihku (ehm..) sebentar lagi akan merayakan hari lahir. Aku ingin memberikan hadiah untuknya. Hadiah yang tidak hanya menyenangkan dia, tapi juga bisa membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum gembira. Aku sempat kebingungan, maklum uang yang aku punya tidak seberapa. Tapi kemudian aku punya ide untuk mengajaknya menyumbangkan makanan dan susu seadanya ke Panti Asuhan anak. Hadiah senyuman anak kecil untuknya tentu bisa membuat hari lahirnya lebih bermakna.

Akhirnya aku bertanya pada Mbak Sumi, dulu teman satu kos.

“Mbak, tahu panti asuhan atau yayasan yang fokusnya ngurusin anak kecil ga Mbak?” tanyaku.

“Untuk apa Rie?” ia menjawab dengan pertanyaan pula.

“Ada aja,” jawabku.

“Halah gayamu. Aku tahunya Sayap Ibu, semacam yayasan gitu. Ngurusin anak-anak kecil juga,” katanya kemudian.

“Ada dua tempat, tapi yang dekat di daerah Selokan Mataram. Dari Jembatan Merah daerah Gejayan, kamu masuk terus sampe ketemu perempatan. Trus kamu belok kiri. Nah, sebelum jembatan liat ada plang Yayasan Sayap Ibu di sebelah barat. Gedungnya di jalan masuk sebelah timur. Kamu coba kesana aja, anaknya lucu-lucu,” ujarnya lagi.

“Wah, ya udah tar aku coba ke sana. Makasih Mbak,” ujarku.

Akupun ke sana dan berbicara dengan salah satu pengasuhnya seperti kuceritakan di atas. Setelah berbincang dengan “Si Mbak”, akhirnya aku tahu bahwa Sayap Ibu menerima sumbangan walau alakadarnya.

Aku tersenyum gembira. Rencanaku memberikan hadiah hari lahir seadanya namun bermakna akan kesampaian. Setelah pamitan dengan “Si Mbak”, akupun melangkah keluar ruangan, bergegas. Hari itu aku ada janji dengan kawan.

Nah, saat itulah mataku tertuju pada lembaran pengumuman yang ditempelkan di pintu kedua dari luar.

“SUARA HATI”, teks yang pertama kubaca. Lalu akupun membaca secara mendetail. Ternyata tulisan itu adalah pengumuman tentang sebuah kegiatan pendampingan anak-anak kecil di YSI yang sedang membutuhkan relawan untuk ikut aktif di dalamnya.

“Wah, bagus nih”, pikirku dalam hati. Ada baiknya aku coba, lagipula aku sedang tidak banyak kegiatan waktu itu. Hanya mengurus salah organisasi perkumpulan mahasiswa Lampung dan menulis skripsi. Niat pulang kuurungkan, aku kembali lagi ke dalam.

“Mbak, maaf mengganggu lagi. Aku baca selembaran Suara Hati yang ditempel di depan. Kalau mau ikut gimana caranya ya?” tanyaku.

“Oh, kalau itu mas datang aja besok jam 4 sore, ketemu mas Ryan atau Mas Romi,” jawabnya.

“Oh, gitu ya. Ya sudah mbak, makasih,” kataku.

Aku lalu kembali bergegas ke arah motor. Pulang.

ESOKNYA, tepat pukul 4. Aku sudah berada di halaman muka YSI lagi. Dengan misi lain: ikut Suara Hati. Dari mula aku baca nama kelompok relawan itu, entah kenapa aku langsung suka. Namanya terdengar seksi, serupa judul lagu Iwan Fals, salah satu musisi Indonesia yang lirik lagunya kusuka.

Aih, rupanya lebih ramai kalau sore. Di sudut selatan, dua orang kekasih sedang bercengkrama dengan akrabnya, si jejaka menggendong bayi lucu (yang akhirnya kutahu bernama Fauzan), sedang yang mojang berdiri di sampingnya, sambil sesekali “berdialog” dan mencubiti gemas pipi si adik bayi.

Di lain sudut, bayi-bayi lain sedang digendong juga oleh pengunjung yang banyak datang. Anak yang sudah agak besar, berlalu lalang berkejar-kejaran.

Hari itu minggu, dan rupanya ini hari sibuk di Sayap Ibu. Banyak pengunjung. Kucari “Si Mbak”, setelah kutemukan langsung saja kusapa. “Halo mbak, aku yang kemarin ke sini. Eh iya, yang namanya Ryan dan Romi yang mana ya?”.

“Oh. Mas to. Yang itu mas,” sahutnya sembari menunjuk pada seorang lelaki yang rupanya bernama Ryan yang sedang menggendong seorang anak kecil yang juga imut (yang ini bernama Valent). Kuhampiri dan langsung aku memperkenalkan diri serta menyatakan maksud kedatanganku.

“Oh iya. Silahkan mas isi formulir aja,” kata Ryan. Entah Ryan masih ingat atau tidak awal mula kami jumpa. Yang pasti semenjak itu aku “resmi” bergabung dengan kawan-kawan di Suara Hati.

SUARA hati didirikan sekitar akhir 2006. Oleh beberapa orang yang terlanjur “ediktit” (baca: kecanduan) dengan tingkah laku dan polah lugu anak-anak kecil di Sayap Ibu. Memang, setelah kualami sendiri, senyuman dan tawa anak-anak ternyata memiliki efek sihir, bak mantra dukun tua. Idenya, mengumpulkan relawan untuk mendidik serta mengasuh anak-anak di Sayap Ibu. Simsalabim: tercipta Suara Hati.

Suara hati serupa organisasi. Hierarki sudah ada, ketua, sekretaris, bendahara. Tapi entah bisa dibilang organisasi atau tidak, belum ada AD- ART dan sebagainya, perangkat awal organisasi. Aku juga waktu itu tidak tertarik untuk bertanya mengenai ini. Yah, lagi pula mungkin lebih baik jika Suara Hati tidak “di- organ- kan”. Nanti ketulusannya menghilang, ditelan tetek bengek organisasi yang njelimet.

Anggotanya, jika tidak salah ingat, hampir 50-an. Data ini kudapat dari Edo, juga anggota Suara Hati ketika perayaan kelahiran Suara Hati. Tapi yang aktif hanya sekitar 20an orang (aku termasuk yang tidak aktif, haha ). Anggotanya kebanyakan mahasiswa, yang tertarik bergabung dengan alasan beragam. Tapi mungkin satu alasan yang dapat merangkum semuanya: menyumbangkan sedikit tenaga untuk kemanusiaan. Rata-rata mereka menyempatkan 2 hari dalam kesibukan mereka dalam seminggu untuk datang dan bercengkrama dengan anak-anak yang kulihat gembira kala mereka hadir, manja.

Kegiatan yang sempat aku ikuti, mengajari anak-anak menggambar dan berhitung. Yang lebih sering: menggendong adik-adik bayi, memberinya manakn atau mencoba menggati popoknya yang basah karena air seni. Itupun hanya dua bulan, setelah itu aku banyak kesibukan. Seliweran ke sana-sini, serta bergumul dengan teks skripsi yang tak kunjung selesai.

November 2007, setelah 3 bulan menghilang, aku muncul lagi di Sayap Ibu, dan tentu Suara Hati. Rindu rasanya dengan tangis dan tawa anak-anak kecil di situ, yang kadang secara ajaib dapat mengobati kejenuhan atau pusing kepala yang sering tiba-tiba datang. Bertemu kembali dengan Ryan, Romi, dan Edo. Tiga bujang di Suara Hati yang namanya kuingat dengan kuat. Rupanya mereka tetap aktif di Suara Hati kala itu. Datang saban sore untuk membagi sedikit tenaga yang mereka punya. Salut untuk kalian, kawan.

Yang lain aku lupa. Terlebih yang perempuan, susah sekali mengingat nama mereka. Lagipula, aku waktu itu aku tidak terlalu akrab dengan mereka, karena agak minder bergaul dengan wanita. Terlebih yang cantik rupa. (Hahaha, lebai abis). Lagipula, dulu budaya mereka agak lain denganku. Mereka senang nongkrong di Mall selepas dari Sayap Ibu. Aku beberapa kali mereka ajak. Tapi aku memilih langsung pulang saja.

Ada kejadian lucu tentang mereka. Waktu itu aku sempat diajak berkumpul oleh empat sekawan Suara Hati: Ryan, Romi, Vita, dan Tia, setelah dari Sayap Ibu. Kami ke daerah Seturan, dekat kampus STIE YKPN. Rupanya mereka berolahraga, renang. Aku tidak membawa celana pengganti, jadi aku tidak ikut mereka membenamkan diri ke dalam kolam. Aku sedikit berbicara dengan mereka ketika mereka sedang berenang. Tapi tiba-tiba kebiasaan yang dulu mulai menjadi budaya karena ada beberapa masalah dan skripsi yang tak kunjung kelar datang kembali: bengong. Sementara mereka terus asik berenang.

Lucunya, ketika sedang di pinggir kolam aku menemukan mainan baru, botol mineral dan air kolam. Iseng saja, kumasukkan dan kukeluarkan air ke dalam botol secara berulang-ulang. Nah, pada saat itu aku sadari airnya berbau tawas, pemutih. Untuk meyakinkan, kutuangkan sedikit airnya kearah muka untuk mencium langsung baunya. Dua sekawan, Tia dan Vita sontak berteriak.

“Ih, Arie jorok!! Jangan diminum airnya!” seru mereka, kompak. Rupanya sedari tadi mereka memerhatikan aku yang terbengong-bengong sendirian di pinggir kolam. Dan mereka salah paham, mengira aku hendak meminum air kolam.

Sejurus kemudian, lamat-lamat kudengar kembali Vita dan Tia “Rom, temanmu satu itu ANEH ya.” Aku tak hiraukan omongan mereka. Tetapi merutuk dalam hati: “Gua ga aneh woi! Tapi GILA. Hahaha.”

HAMPIR dua tahun aku tak lagi bertandang ke YSI. Tak lagi aktif di Suara Hati. Tak lagi mendengar isak tangis atau tawa gelak mereka yang dulu jadi obat ampuh untuk menghapus kelelahan dan kegelisahan.

Kini aku sudah lulus. Tidak lagi dipusingkan dengan skripsi. Pekerjaan, jodoh, remeh temeh hidup, atau mungkin mati, kini mulai jadi hal-hal baru yang sering mengganjal di kepala tiba-tiba.

Aku kerap mengingat kembali nama-nama mereka di saat-saat seperti ini: Valen, Agus, Fauzan, Juwita, Mamat, Tomo, Ito, Nugroho. Entah mereka sudah sebesar mana sekarang. Terakhir, aku tahu Ito telah dipindahkan ke Yayasan Sayap Ibu di Desa Kadirojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman
Yogyakarta, dan Juwita telah diadopsi sebuah keluarga. Lalu entah pula di mana Romi, Ryan, Vita, Tia, Edo, atau kawan-kawan lain. Yang pasti, pengalaman sejenak bersama kalian adalah sebuah kesenangan yang tak terlupakan.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pengharapan:

Soe Hok Gie berkata bahwa nasib yang paling baik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua. Mungkin ada benarnya, tapi:

Persetan, aku ingin mati tua hingga
melihat kalian kawan-kawan kecilku
tumbuh dewasa dan berdiri tegak,

mengacungkan tinju kalian pada
kesombongan dunia,
melihat kalian menggenggam cahaya
yang dipercikkan surga.

Aku ingin berumur tua,
melihat kalian tumbuh besar,
berbicara macam-macam
tentang benci
juga cinta.

Ketika itu telah berlaku,
maukah kalian datang
ke pemakamanku yang kini mulai
dihantui ketakutan akan tua
dan kematian,
kawan?



Lampung, Juli 2009. Pagi buta.
Untuk kawan-kawan kecilku di Yayasan Sayap Ibu.

Sabtu, Juli 18, 2009

Saat Mati Lampu di Beranda Rumahmu

Pada lelehan lilin,
nyala api yang pendar,
dan bayangan kau yang
bergoyanggoyang di dinding

aku temukan:

terang yang paling nyala adalah
gelap.

Takkah kau?

Dari puntung rokok yang
menggunung di asbak,
serbuk kopi yang pekat,
dan mulut kau yang berhenti berucap

aku dapatkan:

riuh yang paling bising adalah
hening..

Kau tak?

Minggu, Juli 12, 2009

Kulminasi

Baiknya kita sudahkan saja
dendam yang bara di dada
benci yang merah di mata

kalau terbakar hendak padamkan dengan apa?

Sudahlah kita usaikan saja
kesumat yang ombak di raga
marah yang bah di kepal

kalau tenggelam siapa hendak sumbang sesal?

Cukuplah sementara kita pejam,
sebelum malam
makin nyalang.

Lampung, Juli 2009.

Jaket

Aku kehilangan
jaket yang kau berikan
pada hari lahirku yang ke sekian.

Dulu jaket itu kedodoran,
karenanya aku kecilkan
hingga pas di badan

Namun kau mengeluh.

“Aku sengaja membeli yang besar,”
katamu.

“Aku akan butuh sedikit ruang di sela jaketmu untuk menyimpan pelukan dan keluhan,”
katamu lagi.

Ternyata kau benar.

Ukuran yang pas bahkan
tak cukup buat menampung
ciuman dan desahan.

Pelukan dan keluhan,
entah di mana
bisa disimpan.

Mungkin itu pula yang
menyebabkan kau akhirnya
membeli jaket yang lain, yang

kau hadiahkan ke lelaki lain,
yang berjanji tak akan pernah
buat jaket itu kecil.

Kini, kau punya
cukup ruang untuk
berpeluk dan berpeluh,

di jaketnya,
di ruang
dadanya.

Sedang aku, bahkan
tak bisa mengingat
di mana jaket yang

telah lusuh dan
tak muat di badan
itu kusimpan.

Kamis, Juli 09, 2009

Sore di Dermaga Kalianda


I

Kita terpaku lagi,
saat senja meremang di
dermaga.

Pasir, ombak, karang,
pulau Sebuku dan Sebesi
yang termangu menatap Canti.

Semua masih sama,
tampak sama.

Kita terdiam,
sepi.

II

Kapalkapal beranjak pulang
setelah lelah
berkejaran dengan angin

Nelayan tertidur di atas jaring,
entah berapa ikan yang
mereka bawa serta.

Kita bisu makin dalam,
hening.

III

Lalu udara tibatiba
jadi berat,
bising menyeruak.

Suara pedagang ikan
teriakan petugas lelang
kentongan penjual makanan keliling.

Semua masih sama,
tampak sama,
kawan, tapi,

bukankah kesamaan ini yang selalu kita rindu,
saat misteri tentang segala
kembali menjadi tanya
di kepala?

Gelisah usang tentang
ada dan tiada,
atau hampa dan isi..

IV

Ah, tidakkah kita akan
selalu merindu dermaga ini,
kawan?

Dermaga yang bercerita tentang
bola yang kita gelindingkan di pasir
umangumang yang kita lepas di atas karang
air laut yang asinnya lekat di bibir.

Kenangankenangan yang kini
kita ubah
jadi komedi.

V

Malam mulai menculik senja,
gelap turun pelanpelan
di dermaga

kita terbangun dari diam,
lalu pulang sambil
membawa kenangan.

Lampung, Juli 2009.

Ket:
Sebuku dan Sebesi: Pulau di mulut Selat Sunda, terletak bersebelahan dengan anak gunung Krakatau.

Canti: Pantai yang terletak 12 kilometer dari Kalianda, ibu kota Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Gambar dicomot dari: http://picasaweb.google.com/lh/photo/czdxBE2vHccflaE9rKI3Pg

Selasa, Juli 07, 2009

Dongeng Tidur Buat Nakan


Tidurlah kau Nakan, tapi
jangan paksa Mamak bercerita,
tak ada cerita yang sisa buat kau.

Konon gununggunung.
Tapi cakarcakar gedung telah
buat mereka mumur.

Alkisah bentang bendang.
Namun kakikaki rumah telah
lindas mereka hingga meremah.

Syahdan sungaisungai.
Tapi tubuh mereka tak lagi basah
kering tersumbat limbah dan sampah.

Lalu kerlap bintang.
Pula hilang berganti
kelip lampu pemancar selular.

Lalu apa lagi yang bisa mamak ceritakan, Kan?

Bukankah dongeng kota takkan bisa buat kau lelap,
kan?

Tidurlah saja kau Nakan, tapi
jangan paksa Mamak bercerita,
tak ada cerita yang sisa buat kau.


Nakan: Keponakan (Lampung)
Mamak: Paman (Lampung)

Gambar diunduh dari: http://4.bp.blogspot.com/_w9g-ELHe88U/SSsuiOUKp-I/AAAAAAAAAIg/osloHee5YZw/s320/sleeping+child.jpg

Minggu, Juni 28, 2009

Tragiek

Aku lihat bayangan Prometheus dan Hamlet
memeluk tubuh aku yang ringkih
saat aku mematut diri di cermin pipih.

Keinginan yang sangat
tekad yang bulat
tubuh yang terikat.

Aku lihat bayangan Prometheus dan Hamlet memeluk tubuh aku yang ringkih saat aku mematut diri di cermin pipih. Keinginan yang sangat, tekad yang bulat, tubuh yang terikat.

Sangat bulat terikat…


Sabtu, Juni 20, 2009

Sajak Buat M

Jika nanti janji mengutuk kita semati, aku mau kau perlakukan aku sederhana saja: bila malam telah membunuh dirinya sendiri, iriskan aku roti dan seduh segelas kopi. Cukuplah buat aku seharian jaga. Bikin puisi dan cerita.


Lalu ketika gelap mulai menculik senja, dan malam mulai menggantung di mata, mendongenglah di aku punya telinga. Pastilah aku lelap sambil
memeluk kau yang mulai mahir memusingkan usia.

Minggu, Mei 31, 2009

Lorong Waktu

kepala ini berat sekali
ada suarasuara yang terus bunyi
jejakjejak yang tak henti menapak
dan dinding kaca yang makin retak

sementara angkaangka di almanak enggan berhenti berlari

ah, aku ingin rebahkan sesakku di dadamu yang ranum
sekali lagi,
ibu..

angkaangka di almanak itu sungguh enggan berhenti berlari..

Sabtu, Mei 16, 2009

Ada

beberapa adalah tawa
bukan tawa serupa aku dan kau punya
tapi adalah cekakak yang gigil
bahak yang ganjil

beberapa adalah tangis
bukan tangis seperti aku dan kau punya
namun ialah jeritan yang ringis
pilu yang tak biasa

banyakan adalah diam
seperti kau dan aku punya
yang betah kita pendam
sampai pergi kita punya nyawa

Minggu, Mei 10, 2009

Resensi Puisi

Salah satu puisi yang gue posting di kemudian.com, yang judulnya Jejak Kopi Yang Kulukis Di Lehermu, kebetulan dapat kesempatan buat di resensi oleh Adi Thoha, seorang penulis cerpen dan puisi. Yah, sembari nunggu tulisan lain kelar, masukin ajalah ke blog. Itung-itung narsis sedikit. Hehe
Nih link resensinya: Memuisikan Kenangan Ruang Waktu
Selamat membaca. METAL!!

Jumat, Mei 08, 2009

Taman

Semenjak kematian Ayah, Ibu kerap tercenung memandangi tanah yang berceruk di muka rumah. Tiga bulan lalu, sebelum kematiannya, ayah berencana membuat taman kecil untuk memerindah rumah kami yang sederhana. “Rumah kita terlalu tandus,” kata ayah suatu ketika, mengutarakan keinginannya kepada ibu saat kami sedang makan malam. Ibu mengiyakan saja sambil terus melahap makanannya. Aku tahu ibu tak begitu menyukai bunga. Setahuku ayahpun tidak. Mungkin, bagi ibu ucapan ayah malam itu tak lebih dari rencana kosong belaka sehingga ia tak terlalu menggubrisnya.

Tapi ternyata ayah tak main-main.

Esok hari, ayah benar-benar mulai mengerjakan taman yang ia bicarakan. Yang pertama ia kerjakan adalah menggali sebuah lubang persegi panjang. Rencananya akan ia jadikan kolam ikan kecil untuk melengkapi taman yang akan ia buat. Gaya minimalis katanya. “Taman ini akan menyemarakkan rumah kita nak,” ujarnya ketika aku memerhatikannya mengerjakan lubang bakal kolam itu. Aku mengangguk menyemangati. Namun ketika lubang itu hampir selesai ia kerjakan, ajal menjemputnya.

Kini lubang itu lebih mirip sebuah kuburan.

***

“Kita akan menyelesaikannya nak,” ucap ibuku pelan pada sebuah malam yang dingin, ketika aku memergokinya kembali termangu memandang cerukan itu.

“Menyelesaikan apa bu?” Tanyaku.

“Taman ayahmu nak,” jawabnya. “Kau tahu, sehari sebelum wafat, ayahmu mengajak aku untuk melihat- lihat Kamboja Jepang dan Melati untuk ditanam di taman ini nak,” lanjut ibu, lirih.

“Kita tidak akan kesepian lagi nak, akan ada banyak bunga dan kupu kelak,” ujarnya lagi.

Aku tak menjawabnya. Sesaat, kulihat ibu tersenyum sambil kembali memandang lubang yang ternganga di hadapnya.

“Ya nak, sebentar lagi kita berdua akan punya taman. Tak lebar luas, kecil saja. Satu tak kehilangan lain dalamnya,*” matanya berbinar.

Aku tetap diam.

“Aku akan menyelesaikannya,” ibu berkata setengah berbisik.

“Kita bu. Kita akan menyelesaikannya,” aku menjawabnya sembari merangkul dan mengajaknya masuk.

Di luar, udara semakin dingin.

***
Seperti ayah, ibu tak main-main mewujudkan keinginannya untuk menyelesaikan taman yang direncanakan ayah. Sudah tiga hari ini ibu menyewa seorang tukang untuk meneruskan pekerjaan ayah, membuat sebuah kolam untuk melengkapi taman. Pula, kemarin kulihat ibu telah membawa pulang sebuah pot berisikan bunga Kamboja Jepang.

Aku sebenarnya senang-senang saja. Tapi aku juga sedikit was-was. Aku benar-benar tahu ayah dan ibu tak pernah sungguh-sungguh menyukai bunga. Terlebih membuat sebuah taman. Bagiku, taman, kolam, dan bunga-bunga itu tak lebih dari pertanda yang dirasakan oleh ayah menjelang kematiannya. Bukankah Kamboja dan Melati selama ini lekat dengan kematian? Entahlah. Yang pasti aku telah berjanji kepada ibu untuk membantunya menyelesaikan taman impian ayah. Taman yang kini telah pula dimimpikan oleh ibu.

Aku ingin ibu tak bersedih lagi. Aku akan membantu ibu menyelesaikan taman itu. Membantunya menanam banyak bunga dan mendatangkan banyak kupu.

***

Akhir-akhir ini, aku dengar orang-orang mengeluhkan tanggul situ yang retak lagi. Akhir tahun lalu, tanggul situ yang berada di dekat rumahku ini memang sempat jebol, meski tak ada korban jiwa. Oleh pemerintah, kerusakannya kemudian hanya diperbaiki sekedar saja. Tak heran sekarang, retakan-retakan baru mulai terlihat lagi. Kabarnya, retakan-retakan baru itu telah diberitakan berulang-ulang oleh warga. Tapi seperti biasa, pemerintah seolah tak punya telinga.

Aku tak begitu memedulikan retaknya tanggul situ . Semua tahu kalau situ ini memang sudah selayaknya dibenahi. Usianya sudah renta. Aku dengar dari ayah, situ ini dibuat oleh Belanda saat mereka masih bercokol di nusantara. Tapi untuk apa pula ikut berpusing-pusing mengharapkan pemerintah mengulurkan tangannya untuk membenahi hal-hal yang tak menghasilkan keuntungan bagi mereka? Pemerintah tentu saja lebih suka membangun mesin uang seperti taman wisata yang dibangun di sekitar situ daripada mengurusi retakan situ yang mungkin akan membahayakan kami. Lagipula, lebih baik memikirkan menyelesaikan tamanku, taman ibu.

Sore ini, aku berjalan menyusuri pinggiran situ. Kalau tidak salah, aku pernah melihat bunga bermacam warna tumbuh liar di pinggir-pinggir situ. Bunga Lantana. Orang-orang sekitar menyebutnya bunga tahi. Baunya busuk memang, tapi warnanya yang beragam membuat banyak kupu kerap singgah di atasnya. Aku ingin memetik bunga-bunga itu untuk kutanam di taman. Mungkin saja akan ada banyak kupu singgah ke taman seperti harapan ibu karena bunga ini. Maka, ketika aku menemukan bunga-bunga itu, cepat kucabut beberapa hingga ke akar.

Tak lama kemudian, kulihat langit perlahan menghitam. Aku bergegas pulang.

***

Sedari sore, hujan deras turun. Ibu telah tidur sedari tadi, setelah bersamaku memandangi air hujan mengisi lubang yang kini tak lagi menyerupai lubang kuburan. Adukan semen yang dibentuk menyerupai batang kayu telah melapisi lubang itu. Ibu mengabarkan kepadaku bahwa kolam itu akan telah selesai esok lusa. Dan ibupun telah membeli lagi sebuah pot bunga berisikan Melati. Ibu meletakkan pot itu sejajar dengan kolam, di samping bunga tahi yang tadi kuambil di pinggir situ.

Aku terus saja mengamati air hujan memenuhi kolam itu. Sampai kemudian kolam kecil itu tak lagi dapat menampung air hujan, dan akhirnya tumpah keluar.

Memandangi kolam itu, entah kenapa aku kembali teringat ayah.

***

Aku sempat mendengar suara gemuruh keras yang membuat aku terbangun dari tidur. Cepat kusadari, seisi kamarku telah penuh air. Untunglah aku masih sempat ke luar dari kamar dan menuju luar rumah. Di luar, dari arah situ, aku lihat air bah bergulung-gulung cepat menuju ke arahku. Aku panik. Aku teringat ibu. Dia pasti masih lelap di kamarnya. Namun sebelum aku sempat kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan ibu, aliran air yang seperti ombak besar tersebut menghantam tubuhku.

Pandanganku tiba-tiba gelap.

***

Aku terbangun dan mendapatkan diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus tertanam di lenganku. Pelan kusapukan pandanganku ke sekitar. Banyak orang juga terbaring lemah sepertiku. Di luar, kudengar jerit tangis yang sahut menyahut. Aku belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika melihat aku tersadar, seorang bapak menghampiriku. Ia tetangga sebelah rumah. Kulihat matanya merah. Ia memegang telapak tanganku sambil lalu terisak.

“Tabah ya nak,” ujarnya sambil terus menyeka air mata.

“Apa yang terjadi pak?”

“Kau selamat nak. Kau tersangkut di sebuah pohon ketika tubuhmu dibawa aliran air. Seseorang kemudian menyelamatkanmu. Tapi ibumu nak,” bapak itu tiba-tiba menghentikan perkataannya.

“Musibah apa pak? Ibu kenapa? Di mana dia pak?”

Bapak itu tetap terdiam. Air terus leleh dari kedua bola matanya. Ia lalu mengambil sebuah surat kabar dan menyerahkannya kepadaku.

Aku melihat potret situ yang tak lagi berbentuk terpampang di muka surat kabar. Barulah aku mengerti, ternyata tanggul situ kembali jebol. Aku lalu membaca berita di surat kabar itu. Banyak korban yang meninggal. Bahkan beberapa di antaranya belum diketemukan sampai sekarang. Aku lalu membaca tabel yang berisi daftar korban situ yang hilang. Ada nama ibu di situ.

Aku lemas. Tenggorokanku seperti tercekat. Kupandangi kembali potret situ yang diambil dari atas itu. Bentuknya seperti lubang yang digali oleh ayah.

Ah, takkan ada kolam, takakan ada taman, takkan ada lagi bunga, dan tak akan ada kupu. Air mata basah di pipiku.

Ibu..

***

Catatan:

*: Sajak Chairil Anwar berjudul Taman, dalam “Aku Ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942- 1949”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kedua Puluh, Jakarta, 2008. Hlm. 16.

Kamis, April 30, 2009

Maling

Lama juga kami tak berjumpa. Genap lima tahun sudah. Kami dulu kental bersahabat. Tiga tahun kami selalu di kelas yang sama. Tiga tahun pula semua kami lakukan bersama. Kewarasan dan kegilaan. Sebelum akhirnya detik memisahkan kebersamaan yang kami punya. Detik kelulusan.

Setelah menanggalkan seragam putih abu, kami sama-sama meninggalkan tanah Sumatera, menyeberang ke pulau Jawa. Aku melanjutkan studi ke Jogjakarta, sementara ia pergi ke Jakarta. Di pulau yang sama, namun berjarak. Lima tahun sudah. Bukan waktu yang singkat. Aku merindunya. Tentu telah banyak yang berubah.

“Aku di Jogja sekarang,” bunyi pesan singkat di telepon genggamku dua hari yang lalu.

Ternyata darinya, sahabatku. Rupanya bulan lalu ia bertandang ke rumahku di Lampung, tapi tak mendapatkanku. Ia pun meminta nomor telepon genggamku pada ibu.

Ia di Jogjakarta sekarang. Melanjutkan studinya, S2. Aku lalu meminta alamat kosannya. Ternyata kosannya tak begitu jauh dari tempatku menetap.

“Kau ada janji sore ini? Aku ke kosmu kalau tidak ada janji, mungkin sekitar jam lima,” aku mengirim pesan kepadanya.

“Tak ada, kau datang saja, aku tunggu,” jawabnya.

Ah, lima tahun sudah kami tak jumpa. Lima tahun! Tak sabar aku menjumpanya. Tentu telah banyak yang berubah.
***

Aku sampai di kosannya ketika adzan maghrib berkumandang. Kuparkirkan motor di depan gerbang. Tepat ketika itu, kulihat wajah yang tak asing. Ya, sahabatku. Kulihat ia mengenakan jubah putih panjang dan kopiah. Janggut lebat bergantung di dagunya. Ia sedang tergesa.

“Hei, kawan!” sapanya ketika melihatku. Wajahnya terlihat gembira.

“Hei,” jawabku.

Ia lalu menyalamiku. Kami lalu bertatapan, dan saling berbalas senyum. Sepintas kulihat ia memerhatikan piercing yang terpasang di kedua kupingku.

“Sudah lama sekali,” katanya sesaat kemudian.

“Ya, lima tahun,” kataku.

Diam..

“Mm, aku sedang bergegas ke musholla. Sudah waktu maghrib,” ujarnya kemudian.

“Oh, ya. Silahkan kawan,” ujarku.

“Kau tidak ikut salat?” Tanyanya.

“Kau saja,” jawabku.

Ia mengangguk.

“Oke, kau tunggu saja di kamarku. Aku salat sebentar,” ujarnya lagi sembari memberiku kunci kamarnya.

“Kamar ke tiga sebelah kanan, sebentar aku kembali. Kita ngobrol banyak nanti,” ujarnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.

“Motormu masukkan saja, di sini lumayan rawan,” katanya.

“Biar di sini saja, aku cuma sebentar. Ada janji jam 7,” jawabku.

“Oh, baiklah. Aku ke musholla dulu,” ujarnya lagi.

Ia pun bergegas menuju musholla. Ah, lima tahun sudah. Memang telah banyak yang berubah.
***

Kosan sedang sepi. Maklum akhir pekan, pikirku. Mungkin banyak yang pulang kampung, atau menghabiskan hari minggu. Aku kemudian mengamati kamar sahabatku itu. Tata ruangnya sederhana. Hanya ada kasur tanpa ranjang, lemari kayu sederhana, meja belajar dan kursinya, dua buah rak buku yang tergantung di atas meja belajar, jam dinding yang bergambarkan Ka’bah, serta sebuah poster besar yang bertuliskan “Save Palestine” . Aku lalu melihat-lihat koleksi bukunya. Kebanyakan buku agama, selain buku-buku manajemen yang menjadi bidang ilmunya.

Memang telah banyak yang berubah. Setahuku dulu dia kurang lebih sama denganku, tak begitu memedulikan agama. Tapi melihat penampilannya sekarang, dan buku-buku yang dia punya, tentu dia tak seperti dulu lagi.

Aku juga sedikit banyak berubah. Masih bebal seperti dulu, terutama masalah agama. Bedanya, sekarang aku memiliki landasan yang kuat untuk menjustifikasi kebebalan-kebebalan yang kulakukan.

Ah, aku jadi sedikit menyesali pertemuan kami. Seperti orang lain dengan dandanan yang serupa dengan sahabatku itu, dia tentu akan mengomentari penolakanku untuk salat bersamanya tadi. Dan tentu, aku akan mengomentarinya dengan keras. Sama seperti aku menjawab komentar orang-orang yang menggugat pemahamanku tentang agama, atau pandangan hidupku.

Dua puluh menit kemudian, sahabatku telah kembali.
***

“Kau tidak salat?” Tanyanya, setelah beberapa obrolan ini-itu yang lebih sekedar basa-basi.

Ah, akhirnya pertanyaan ini ke luar juga. Aku sebenarnya benci menanggapinya. Karena aku pasti akan menjawabnya dengan keras. Terlebih, aku tak ingin pertanyaan ini merusak suasana pertemuan kami setelah sekian lama.

“Aku sekarang tak percaya agama,” akhirnya aku menjawab pertanyaannya.

“Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Entahlah kawan, kita mungkin harus mengobrolkan masalah ini di lain waktu. Karena waktunya tak akan cukup sekarang. Aku hanya sebentar di sini. Tapi yang pasti, aku benci agama karena agama itu egois. Agama hanya bisa melarang dengan ayat-ayat yang bahkan tidak dapat ditentang lagi kebenarannya, tanpa memedulikan alasan-alasan sosial yang membuat seseorang menentang larangan itu. Bahkan ironisnya, agama tak pernah bisa mengajukan solusi yang tepat atas larangannya yang dibuatnya sendiri,” jawabku lagi.

“Maksudmu?” ia penasaran.

“Ya, contoh mudahnya, agama hanya bisa melarang-larang orang supaya tidak maling. Agama menegasikan alasan-alasan yang menyebabkan mengapa seseorang memutuskan untuk maling. Misalkan karena ia tidak memiliki akses ke ekonomi, karena ekonomi hanya dikuasai turun temurun oleh pihak yang memiliki kuasa. Sedangkan ia, katakanlah, memiliki anak dan istri untuk diberi makan, dan yang dapat dilakukannya hanyalah maling. Ini tentu saja contoh kecil. Masih banyak alasan lain yang bisa kita perdebatkan,” aku berapi-api.

Tidak sesuai dengan perkiraanku, sahabatku itu hanya tersenyum.

“Hahaha, ternyata benar. Telah banyak yang berubah,” ujarnya.

“Aku benar-benar merindukan kau. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa. Dan aku pikir pasti kau telah berubah. Tapi tenanglah sahabatku, aku tidak akan menghakimimu dengan ayat-ayat yang kau bilang egois itu. Aku cukup percaya kalimat Allah, lakum dinukum waliyadin. Lagi pula, kau sahabatku. Aku tak mau merusak pertemuan kita setelah sekian lama ini hanya dengan perdebatan yang pasti tidak akan berujung. Walaupun aku punya banyak rasionalisasi untuk menentang pernyataanmu tadi,” katanya lagi.

“Syukurlah, kau bisa memahami isi kepalaku. Aku tadinya juga takut perbedaan kita sekarang membuat kita tidak bisa bersahabat lagi,” aku tersenyum.

“Tapi aku bersikeras agama itu egois,” kataku lagi.

Ia tertawa, kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk pundakku.

Sesaat kemudian terdengar suara adzan bersahut-sahutan. Kulihat ternyata sudah jam 7 malam. Tak terasa sudah hampir sejam kami bersama.

“Kau ke musholla?” tanyaku.

“Ya, setelah adzan,” jawabnya.

“Oh, ya sudah, aku sekalian pamit pergi. Aku ada janji sebentar lagi. Lain kali aku mampir lagi,” kataku sembari beranjak.

“Baiklah, kapan-kapan kalau aku sempat, aku main ke kosmu. Senang sekali bertemu denganmu,” ujarnya sembari menyalami tangan dan memelukku.

“Ya, aku juga kawan. Senang sekali bertemu denganmu,” jawabku.

Akhirnya kami bersama-sama berjalan ke arah gerbang. Saat itulah baru kusadari, ternyata sepeda motorku sudah tidak ada lagi di depan gerbang.

“Ke mana motorku!?” teriakku panik.

Astaghfirullah,” sahabatku ikut panik.

Ia lalu kemudian berlari ke arah warung di sebelah kosannya, dan sebentar ia kembali bersama beberapa orang warga.

Montore ilang to mas? Wah, saiki pancen rawan mas. Ngopo mau ra digowo mlebu to mas motore?” ucap seorang bapak.

Aku diam.

“Kata bapak ini, motormu masih ada sekitar lima belas menit yang lalu. Di sini memang banyak maling, aku sudah peringatkanmu tadi,” kata kawanku kemudian.

Aku tetap diam. Dengkulku tiba-tiba lemas.

“Dasar maling, Anjing!” aku berteriak dalam hati sambil memandangi wajah kawanku yang tersenyum simpul sembari menenangkan aku.