Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Jumat, Agustus 28, 2009

Jangan Bosan Mengeluh di Kupingku

Jangan bosan mengeluh di kupingku
lewat suara kau yang parau
dan samar itu sayang

dunia ini terlalu lengang tanpa keluh kau
meski:

Di perempatan, bocah-bocah tak beribu tak henti teriak minta dikasihani. Mereka dipaksa mengerti, tangan diciptakan untuk menengadah. Bukan buat mengapak kayu biar belah, atau menggodam batu biar pecah.

Jangan bosan mengeluh di kupingku.

Dunia ini terlalu sepi, meski:

Di gang-gang sempit dan basah, perempuan-perempuan teriak jual harga diri. Hidup telah buat mereka paham, kehormatan tak pernah bisa ditukar dengan roti. Lagipula, kita tak pernah bisa kenyang hanya dengan menjaga kesucian bukan? Dan tahukah kau sayang, Tuhan selalu mati saat perut sedang bunyi.

Jangan bosan mengeluh di kupingku.

Dunia terlalu hening meski:

Di televisi, politisi tak bosan teriak obral janji. Syahdan, tak akan ada lagi perut yang lapar asal mereka bisa duduk dengan tenang.
Ah sayang, tak kau lihatkah? Mereka bahkan lupa menggerus lemak di perut sendiri.

Maka jangan pernah berhenti mengeluh lewat suara kau yang berat dan redam itu sayang.
Meski kau punya keluh hanya akan memantul di telinga kau lagi,
lewat keluhku sendiri.

1 komentar:

Eternity mengatakan...

Puisi bagus kawan...

Poskan Komentar