Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 08, 2009

Taman

Semenjak kematian Ayah, Ibu kerap tercenung memandangi tanah yang berceruk di muka rumah. Tiga bulan lalu, sebelum kematiannya, ayah berencana membuat taman kecil untuk memerindah rumah kami yang sederhana. “Rumah kita terlalu tandus,” kata ayah suatu ketika, mengutarakan keinginannya kepada ibu saat kami sedang makan malam. Ibu mengiyakan saja sambil terus melahap makanannya. Aku tahu ibu tak begitu menyukai bunga. Setahuku ayahpun tidak. Mungkin, bagi ibu ucapan ayah malam itu tak lebih dari rencana kosong belaka sehingga ia tak terlalu menggubrisnya.

Tapi ternyata ayah tak main-main.

Esok hari, ayah benar-benar mulai mengerjakan taman yang ia bicarakan. Yang pertama ia kerjakan adalah menggali sebuah lubang persegi panjang. Rencananya akan ia jadikan kolam ikan kecil untuk melengkapi taman yang akan ia buat. Gaya minimalis katanya. “Taman ini akan menyemarakkan rumah kita nak,” ujarnya ketika aku memerhatikannya mengerjakan lubang bakal kolam itu. Aku mengangguk menyemangati. Namun ketika lubang itu hampir selesai ia kerjakan, ajal menjemputnya.

Kini lubang itu lebih mirip sebuah kuburan.

***

“Kita akan menyelesaikannya nak,” ucap ibuku pelan pada sebuah malam yang dingin, ketika aku memergokinya kembali termangu memandang cerukan itu.

“Menyelesaikan apa bu?” Tanyaku.

“Taman ayahmu nak,” jawabnya. “Kau tahu, sehari sebelum wafat, ayahmu mengajak aku untuk melihat- lihat Kamboja Jepang dan Melati untuk ditanam di taman ini nak,” lanjut ibu, lirih.

“Kita tidak akan kesepian lagi nak, akan ada banyak bunga dan kupu kelak,” ujarnya lagi.

Aku tak menjawabnya. Sesaat, kulihat ibu tersenyum sambil kembali memandang lubang yang ternganga di hadapnya.

“Ya nak, sebentar lagi kita berdua akan punya taman. Tak lebar luas, kecil saja. Satu tak kehilangan lain dalamnya,*” matanya berbinar.

Aku tetap diam.

“Aku akan menyelesaikannya,” ibu berkata setengah berbisik.

“Kita bu. Kita akan menyelesaikannya,” aku menjawabnya sembari merangkul dan mengajaknya masuk.

Di luar, udara semakin dingin.

***
Seperti ayah, ibu tak main-main mewujudkan keinginannya untuk menyelesaikan taman yang direncanakan ayah. Sudah tiga hari ini ibu menyewa seorang tukang untuk meneruskan pekerjaan ayah, membuat sebuah kolam untuk melengkapi taman. Pula, kemarin kulihat ibu telah membawa pulang sebuah pot berisikan bunga Kamboja Jepang.

Aku sebenarnya senang-senang saja. Tapi aku juga sedikit was-was. Aku benar-benar tahu ayah dan ibu tak pernah sungguh-sungguh menyukai bunga. Terlebih membuat sebuah taman. Bagiku, taman, kolam, dan bunga-bunga itu tak lebih dari pertanda yang dirasakan oleh ayah menjelang kematiannya. Bukankah Kamboja dan Melati selama ini lekat dengan kematian? Entahlah. Yang pasti aku telah berjanji kepada ibu untuk membantunya menyelesaikan taman impian ayah. Taman yang kini telah pula dimimpikan oleh ibu.

Aku ingin ibu tak bersedih lagi. Aku akan membantu ibu menyelesaikan taman itu. Membantunya menanam banyak bunga dan mendatangkan banyak kupu.

***

Akhir-akhir ini, aku dengar orang-orang mengeluhkan tanggul situ yang retak lagi. Akhir tahun lalu, tanggul situ yang berada di dekat rumahku ini memang sempat jebol, meski tak ada korban jiwa. Oleh pemerintah, kerusakannya kemudian hanya diperbaiki sekedar saja. Tak heran sekarang, retakan-retakan baru mulai terlihat lagi. Kabarnya, retakan-retakan baru itu telah diberitakan berulang-ulang oleh warga. Tapi seperti biasa, pemerintah seolah tak punya telinga.

Aku tak begitu memedulikan retaknya tanggul situ . Semua tahu kalau situ ini memang sudah selayaknya dibenahi. Usianya sudah renta. Aku dengar dari ayah, situ ini dibuat oleh Belanda saat mereka masih bercokol di nusantara. Tapi untuk apa pula ikut berpusing-pusing mengharapkan pemerintah mengulurkan tangannya untuk membenahi hal-hal yang tak menghasilkan keuntungan bagi mereka? Pemerintah tentu saja lebih suka membangun mesin uang seperti taman wisata yang dibangun di sekitar situ daripada mengurusi retakan situ yang mungkin akan membahayakan kami. Lagipula, lebih baik memikirkan menyelesaikan tamanku, taman ibu.

Sore ini, aku berjalan menyusuri pinggiran situ. Kalau tidak salah, aku pernah melihat bunga bermacam warna tumbuh liar di pinggir-pinggir situ. Bunga Lantana. Orang-orang sekitar menyebutnya bunga tahi. Baunya busuk memang, tapi warnanya yang beragam membuat banyak kupu kerap singgah di atasnya. Aku ingin memetik bunga-bunga itu untuk kutanam di taman. Mungkin saja akan ada banyak kupu singgah ke taman seperti harapan ibu karena bunga ini. Maka, ketika aku menemukan bunga-bunga itu, cepat kucabut beberapa hingga ke akar.

Tak lama kemudian, kulihat langit perlahan menghitam. Aku bergegas pulang.

***

Sedari sore, hujan deras turun. Ibu telah tidur sedari tadi, setelah bersamaku memandangi air hujan mengisi lubang yang kini tak lagi menyerupai lubang kuburan. Adukan semen yang dibentuk menyerupai batang kayu telah melapisi lubang itu. Ibu mengabarkan kepadaku bahwa kolam itu akan telah selesai esok lusa. Dan ibupun telah membeli lagi sebuah pot bunga berisikan Melati. Ibu meletakkan pot itu sejajar dengan kolam, di samping bunga tahi yang tadi kuambil di pinggir situ.

Aku terus saja mengamati air hujan memenuhi kolam itu. Sampai kemudian kolam kecil itu tak lagi dapat menampung air hujan, dan akhirnya tumpah keluar.

Memandangi kolam itu, entah kenapa aku kembali teringat ayah.

***

Aku sempat mendengar suara gemuruh keras yang membuat aku terbangun dari tidur. Cepat kusadari, seisi kamarku telah penuh air. Untunglah aku masih sempat ke luar dari kamar dan menuju luar rumah. Di luar, dari arah situ, aku lihat air bah bergulung-gulung cepat menuju ke arahku. Aku panik. Aku teringat ibu. Dia pasti masih lelap di kamarnya. Namun sebelum aku sempat kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan ibu, aliran air yang seperti ombak besar tersebut menghantam tubuhku.

Pandanganku tiba-tiba gelap.

***

Aku terbangun dan mendapatkan diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus tertanam di lenganku. Pelan kusapukan pandanganku ke sekitar. Banyak orang juga terbaring lemah sepertiku. Di luar, kudengar jerit tangis yang sahut menyahut. Aku belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika melihat aku tersadar, seorang bapak menghampiriku. Ia tetangga sebelah rumah. Kulihat matanya merah. Ia memegang telapak tanganku sambil lalu terisak.

“Tabah ya nak,” ujarnya sambil terus menyeka air mata.

“Apa yang terjadi pak?”

“Kau selamat nak. Kau tersangkut di sebuah pohon ketika tubuhmu dibawa aliran air. Seseorang kemudian menyelamatkanmu. Tapi ibumu nak,” bapak itu tiba-tiba menghentikan perkataannya.

“Musibah apa pak? Ibu kenapa? Di mana dia pak?”

Bapak itu tetap terdiam. Air terus leleh dari kedua bola matanya. Ia lalu mengambil sebuah surat kabar dan menyerahkannya kepadaku.

Aku melihat potret situ yang tak lagi berbentuk terpampang di muka surat kabar. Barulah aku mengerti, ternyata tanggul situ kembali jebol. Aku lalu membaca berita di surat kabar itu. Banyak korban yang meninggal. Bahkan beberapa di antaranya belum diketemukan sampai sekarang. Aku lalu membaca tabel yang berisi daftar korban situ yang hilang. Ada nama ibu di situ.

Aku lemas. Tenggorokanku seperti tercekat. Kupandangi kembali potret situ yang diambil dari atas itu. Bentuknya seperti lubang yang digali oleh ayah.

Ah, takkan ada kolam, takakan ada taman, takkan ada lagi bunga, dan tak akan ada kupu. Air mata basah di pipiku.

Ibu..

***

Catatan:

*: Sajak Chairil Anwar berjudul Taman, dalam “Aku Ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942- 1949”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kedua Puluh, Jakarta, 2008. Hlm. 16.

Kamis, April 30, 2009

Maling

Lama juga kami tak berjumpa. Genap lima tahun sudah. Kami dulu kental bersahabat. Tiga tahun kami selalu di kelas yang sama. Tiga tahun pula semua kami lakukan bersama. Kewarasan dan kegilaan. Sebelum akhirnya detik memisahkan kebersamaan yang kami punya. Detik kelulusan.

Setelah menanggalkan seragam putih abu, kami sama-sama meninggalkan tanah Sumatera, menyeberang ke pulau Jawa. Aku melanjutkan studi ke Jogjakarta, sementara ia pergi ke Jakarta. Di pulau yang sama, namun berjarak. Lima tahun sudah. Bukan waktu yang singkat. Aku merindunya. Tentu telah banyak yang berubah.

“Aku di Jogja sekarang,” bunyi pesan singkat di telepon genggamku dua hari yang lalu.

Ternyata darinya, sahabatku. Rupanya bulan lalu ia bertandang ke rumahku di Lampung, tapi tak mendapatkanku. Ia pun meminta nomor telepon genggamku pada ibu.

Ia di Jogjakarta sekarang. Melanjutkan studinya, S2. Aku lalu meminta alamat kosannya. Ternyata kosannya tak begitu jauh dari tempatku menetap.

“Kau ada janji sore ini? Aku ke kosmu kalau tidak ada janji, mungkin sekitar jam lima,” aku mengirim pesan kepadanya.

“Tak ada, kau datang saja, aku tunggu,” jawabnya.

Ah, lima tahun sudah kami tak jumpa. Lima tahun! Tak sabar aku menjumpanya. Tentu telah banyak yang berubah.
***

Aku sampai di kosannya ketika adzan maghrib berkumandang. Kuparkirkan motor di depan gerbang. Tepat ketika itu, kulihat wajah yang tak asing. Ya, sahabatku. Kulihat ia mengenakan jubah putih panjang dan kopiah. Janggut lebat bergantung di dagunya. Ia sedang tergesa.

“Hei, kawan!” sapanya ketika melihatku. Wajahnya terlihat gembira.

“Hei,” jawabku.

Ia lalu menyalamiku. Kami lalu bertatapan, dan saling berbalas senyum. Sepintas kulihat ia memerhatikan piercing yang terpasang di kedua kupingku.

“Sudah lama sekali,” katanya sesaat kemudian.

“Ya, lima tahun,” kataku.

Diam..

“Mm, aku sedang bergegas ke musholla. Sudah waktu maghrib,” ujarnya kemudian.

“Oh, ya. Silahkan kawan,” ujarku.

“Kau tidak ikut salat?” Tanyanya.

“Kau saja,” jawabku.

Ia mengangguk.

“Oke, kau tunggu saja di kamarku. Aku salat sebentar,” ujarnya lagi sembari memberiku kunci kamarnya.

“Kamar ke tiga sebelah kanan, sebentar aku kembali. Kita ngobrol banyak nanti,” ujarnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.

“Motormu masukkan saja, di sini lumayan rawan,” katanya.

“Biar di sini saja, aku cuma sebentar. Ada janji jam 7,” jawabku.

“Oh, baiklah. Aku ke musholla dulu,” ujarnya lagi.

Ia pun bergegas menuju musholla. Ah, lima tahun sudah. Memang telah banyak yang berubah.
***

Kosan sedang sepi. Maklum akhir pekan, pikirku. Mungkin banyak yang pulang kampung, atau menghabiskan hari minggu. Aku kemudian mengamati kamar sahabatku itu. Tata ruangnya sederhana. Hanya ada kasur tanpa ranjang, lemari kayu sederhana, meja belajar dan kursinya, dua buah rak buku yang tergantung di atas meja belajar, jam dinding yang bergambarkan Ka’bah, serta sebuah poster besar yang bertuliskan “Save Palestine” . Aku lalu melihat-lihat koleksi bukunya. Kebanyakan buku agama, selain buku-buku manajemen yang menjadi bidang ilmunya.

Memang telah banyak yang berubah. Setahuku dulu dia kurang lebih sama denganku, tak begitu memedulikan agama. Tapi melihat penampilannya sekarang, dan buku-buku yang dia punya, tentu dia tak seperti dulu lagi.

Aku juga sedikit banyak berubah. Masih bebal seperti dulu, terutama masalah agama. Bedanya, sekarang aku memiliki landasan yang kuat untuk menjustifikasi kebebalan-kebebalan yang kulakukan.

Ah, aku jadi sedikit menyesali pertemuan kami. Seperti orang lain dengan dandanan yang serupa dengan sahabatku itu, dia tentu akan mengomentari penolakanku untuk salat bersamanya tadi. Dan tentu, aku akan mengomentarinya dengan keras. Sama seperti aku menjawab komentar orang-orang yang menggugat pemahamanku tentang agama, atau pandangan hidupku.

Dua puluh menit kemudian, sahabatku telah kembali.
***

“Kau tidak salat?” Tanyanya, setelah beberapa obrolan ini-itu yang lebih sekedar basa-basi.

Ah, akhirnya pertanyaan ini ke luar juga. Aku sebenarnya benci menanggapinya. Karena aku pasti akan menjawabnya dengan keras. Terlebih, aku tak ingin pertanyaan ini merusak suasana pertemuan kami setelah sekian lama.

“Aku sekarang tak percaya agama,” akhirnya aku menjawab pertanyaannya.

“Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Entahlah kawan, kita mungkin harus mengobrolkan masalah ini di lain waktu. Karena waktunya tak akan cukup sekarang. Aku hanya sebentar di sini. Tapi yang pasti, aku benci agama karena agama itu egois. Agama hanya bisa melarang dengan ayat-ayat yang bahkan tidak dapat ditentang lagi kebenarannya, tanpa memedulikan alasan-alasan sosial yang membuat seseorang menentang larangan itu. Bahkan ironisnya, agama tak pernah bisa mengajukan solusi yang tepat atas larangannya yang dibuatnya sendiri,” jawabku lagi.

“Maksudmu?” ia penasaran.

“Ya, contoh mudahnya, agama hanya bisa melarang-larang orang supaya tidak maling. Agama menegasikan alasan-alasan yang menyebabkan mengapa seseorang memutuskan untuk maling. Misalkan karena ia tidak memiliki akses ke ekonomi, karena ekonomi hanya dikuasai turun temurun oleh pihak yang memiliki kuasa. Sedangkan ia, katakanlah, memiliki anak dan istri untuk diberi makan, dan yang dapat dilakukannya hanyalah maling. Ini tentu saja contoh kecil. Masih banyak alasan lain yang bisa kita perdebatkan,” aku berapi-api.

Tidak sesuai dengan perkiraanku, sahabatku itu hanya tersenyum.

“Hahaha, ternyata benar. Telah banyak yang berubah,” ujarnya.

“Aku benar-benar merindukan kau. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa. Dan aku pikir pasti kau telah berubah. Tapi tenanglah sahabatku, aku tidak akan menghakimimu dengan ayat-ayat yang kau bilang egois itu. Aku cukup percaya kalimat Allah, lakum dinukum waliyadin. Lagi pula, kau sahabatku. Aku tak mau merusak pertemuan kita setelah sekian lama ini hanya dengan perdebatan yang pasti tidak akan berujung. Walaupun aku punya banyak rasionalisasi untuk menentang pernyataanmu tadi,” katanya lagi.

“Syukurlah, kau bisa memahami isi kepalaku. Aku tadinya juga takut perbedaan kita sekarang membuat kita tidak bisa bersahabat lagi,” aku tersenyum.

“Tapi aku bersikeras agama itu egois,” kataku lagi.

Ia tertawa, kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk pundakku.

Sesaat kemudian terdengar suara adzan bersahut-sahutan. Kulihat ternyata sudah jam 7 malam. Tak terasa sudah hampir sejam kami bersama.

“Kau ke musholla?” tanyaku.

“Ya, setelah adzan,” jawabnya.

“Oh, ya sudah, aku sekalian pamit pergi. Aku ada janji sebentar lagi. Lain kali aku mampir lagi,” kataku sembari beranjak.

“Baiklah, kapan-kapan kalau aku sempat, aku main ke kosmu. Senang sekali bertemu denganmu,” ujarnya sembari menyalami tangan dan memelukku.

“Ya, aku juga kawan. Senang sekali bertemu denganmu,” jawabku.

Akhirnya kami bersama-sama berjalan ke arah gerbang. Saat itulah baru kusadari, ternyata sepeda motorku sudah tidak ada lagi di depan gerbang.

“Ke mana motorku!?” teriakku panik.

Astaghfirullah,” sahabatku ikut panik.

Ia lalu kemudian berlari ke arah warung di sebelah kosannya, dan sebentar ia kembali bersama beberapa orang warga.

Montore ilang to mas? Wah, saiki pancen rawan mas. Ngopo mau ra digowo mlebu to mas motore?” ucap seorang bapak.

Aku diam.

“Kata bapak ini, motormu masih ada sekitar lima belas menit yang lalu. Di sini memang banyak maling, aku sudah peringatkanmu tadi,” kata kawanku kemudian.

Aku tetap diam. Dengkulku tiba-tiba lemas.

“Dasar maling, Anjing!” aku berteriak dalam hati sambil memandangi wajah kawanku yang tersenyum simpul sembari menenangkan aku.

Jumat, April 10, 2009

Lelaki Yang Dicekam Kenang


Udara malam ini pecah lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dari retakannya aku menemukan potongan-potongan kenangan yang enggan musnah oleh waktu.

Kau tahu sayang? Ingatan seperti bocah yang enggan beranjak dewasa. Ia seperti waktu yang statis. Tak seperti tubuh, yang selalu lekas menua digilas jaman. Ia ibarat kerikil yang kau lempar ke tengah kolam yang permukaannya tenang. Yang menimbulkan riak walau sejenak. Dan meski kau bisa lihat permukaan kolam itu perlahan menjadi tenang kembali, batu kerikil itu telah terlanjur terbenam di dasar. Begitupun ingatan. Ia selalu benam di kepala, seperti kerikil di kolam.

Eli, eli, lama sabachtani? Kekasih, kekasih, mengapa kau meninggalkanku?

Sejarah hidupku kini hanyalah gerak yang kuarahkan menuju lupa. Lupa kau. Lupa kita. Lupa ingatan. Tapi sungguh, melupakan kau seperti menyembuhkan borok yang telah menua, tak mudah seperti membalik telapak. Luka itu terlanjur kekal, dan terus bernanah tiap kali udara pecah pada malam sepertiga. Seperti malam ini, atau malam-malam kemarin.

Ingatkah kau pada waktu-waktu kita yang biru? Pada perbincangan-perbincangan kita tentang hidup, yang selalu kita sempatkan di tengah uap kopimu dan asap rokokku yang mengepul, lalu menari hingga lenyap bersama waktu. Tentang kegelisahan, yang selalu kurasakan di antara pagutan bibirmu yang basah yang membuat basah bibirku. Tidakkah kau rasakan kegelisahan yang sama ada padaku sayang? Ah, mungkin tidak. Karena aku selalu berusaha menyembunyikan kegelisahanku untuk redakan gelisahmu akan nasib yang terus-terus mengejarmu.

Dan akhirnya, kitapun harus mengalah pada waktu. Kau tinggalkan aku. Dan seperti kisah-kisah sinetron murahan di televisi yang tidak pernah kita cermati, aku harus relakan kepergianmu. Meski perasaanku padamu telah membatu di hatiku. Tapi sungguh sayang, tak sepenggal sesalpun yang hadir di diriku. Meski kepalaku harus tertunduk melihat kau mengucap ayat-ayat dengan syahdu, ketika kau menyerahkan dirimu pada laki-laki pilihan ibumu. Atau mungkin itu pilihanmu? Entah sayang. Aku bahagia. Ya, aku bahagia melihat kau di pelaminan. Seperti tokoh yang kalah di sinetron-sinetron itu.

Setelah perpisahan yang menyisa luka itu, aku membebaskan diriku dari segala macam ikatan. Meleburkan diriku pada banyak macam perempuan tanpa pernah menjadikan diriku milik mereka. Atau sebaliknya, menganggap mereka milikku. Aku bebas, sejak kau bebas dari diriku. Tapi mengapa kau terus membayangku seperti hantu sayang? Terus saja memburuku seperti kutukan.

Liurmu selalu membasah di rasa lidahku ketika aku dan perempuan-perempuan itu berpagut. Kecupmu kerap merayap di rasa kulitku ketika mereka mencumbuku dengan geram. Bayangmu tak henti meradang di lihat mataku kala aku membenamkan wajahku di antara dada mereka yang pejal. Harummu tak henti semerbak di cium hidungku kala aku membaui liang mereka yang apak. Dan rintihmu terus mengaduh di dengar kupingku saat napas mereka tercekat oleh nafsu. Kau rasakan yang samakah sayang?

Waktu terus bergulir, mencari-cari yang baru di hadapan, dan sialnya, tak pernah meninggalkan yang lama di belakang. Aku terus saja mengembara di banyak pagutan, geram cumbuan, dada-dada yang pejal, liang-liang yang apak, dan nafsu yang mencekat napas. Tapi sayang, ingatan sungguh seperti bocah yang enggan beranjak dewasa.

Eli, eli, lama sabachtani? Udara malam ini pecah lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dari retakannya aku menemukan potongan-potongan kenangan yang enggan musnah oleh waktu.


Gambar diunggah dari: http://graphics8.nytimes.com/images/2007/08/15/nyregion/15smoking.span.jpg


Rabu, Desember 10, 2008

Mabuk

Dua lelaki itu sudah menenggak tiga botol Whisky murahan yang mereka beli di kios minuman pinggir jalan. Setengah kepala mereka telah hilang, nafas mereka hampir tanggal. Tapi salah seorang dari mereka merasa belum cukup.

“Lagi, lagi,” bisik lelaki itu ke lelaki yang lain yang telah tergeletak dan terpejam.

Tapi mimpi seperti telah mencengkeram lelaki yang tergeletak itu. Bisikan lelaki di sebelahnya tak ia pedulikan. Ia malah semakin dalam terpejam.

Lelaki yang berbisik itu tak terima, ia merasa lambungnya belum penuh. Lagipula, ia tak suka kepalanya hanya hilang setengah. Ia terbiasa menenggelamkan seluruh kepalanya dalam minuman, sampai napasnya benar-benar hilang.

“Lagi!!” kini ia berteriak. Tepat di telinga lelaki yang tergeletak itu, yang terlihat mulai menyeriusi mimpi.

Lelaki itu terhenyak, demi teriakan yang membuat telinganya pekak.

“Anjing,” makinya dalam hati.

Ia perlahan beranjak dari geletak. Sembari menahan amarah yang pelan mulai memuncak.

“Jangan berteriak,” ucapnya pelan kepada lelaki yang meneriakinya itu, sambil mengusap biji matanya. Namun ketika matanya telah terbuka, tersadarlah ia. Tak ada orang lain di sekelilingnya.

Ia sendirian.

“Ah, aku mabuk,” ia membisiki dirinya sendiri. Matanya kembali berat, setengah kepalanya kembali hilang, nafasnya kembali tanggal. Tergeletak.

“Lagi, lagi,” sebuah suara berbisik. Tetap ia tergeletak. “Lagi!!” suara bisikan itu berubah menjadi teriakan. Tapi ia terlanjur menyetubuhi mimpi.

Senin, Oktober 06, 2008

TANGISAN

Aku bisa melihat bulan dengan jelas dari jendela kamar yang kubiarkan terbuka. Bentuknya bulat. Bulat sempurna. Ini tanggal 17. Sesekali, angin yang sepoi masuk menyejukkan kamar. Pipiku basah. Aku menangis.

Suara itu kembali terngiang. Suara tangisan. Tangisan bayi. Bayi sialan itu.

Aku ingat malam itu. Malam yang liar. Setidaknya untukmu. Saat kau menari berahi. Menggoyangkan tubuhmu yang mungil di atas tubuhku. Erang, gelinjang. Getar, kapar.

”Aku ingin bersamamu,” katamu.

”Tidak,” kataku. ”Kau kekasih sahabatku”

Kau menangis. Aku menyuruhmu diam. Lalu kau membalikkan badanmu. Tidak lagi menghadapku. Dan kau diam. Walau aku tahu kau masih menangis, tubuhmu bergetar.

Aku hanya diam. Kau telah diam. Aku benci tangisan.

Aku tidak mengenalmu. Aku hanya mengenal kekasihmu. Yang angkuh, karena ketampanannya. Ketampanan yang membuat banyak perempuan menekukkan lutut. Ketampanan yang mulai ia salah pergunakan ketika perempuan yang ia cintai meninggalkannya karena lelaki lain. Lelaki pilihan ibunya. Ketampanan yang membuat ia percaya dapat menjadikan semua perempuan sebagai boneka. Dan kau salah satunya. Bonekanya.

Aku tak peduli dengan sifatnya. Dia sahabatku. Hingga saat itu. Saat ia menghancurkan kepercayaan yang aku berikan kepadanya. Kepercayaan yang aku berikan sejak lama, kepada semua kawan, semua sahabat. Ia merebut perempuanku. Kekasihku. Yang aku cinta, aku jaga.

”Aku berciuman dengannya,” kata perempuan itu, kekasihku. Mengakui dosanya.

Aku terdiam.

”Hanya sekali, dan aku menyesal, aku mencintaimu,” katanya lagi.

Aku menatapnya. Melihat kesungguhan di matanya saat ia bilang ia mencintaiku. Aku masih terdiam.

”Dia sahabatku, kau kekasihku”. Aku mulai bicara.

”Aku sayang kau, juga dia,” kataku. Aku kembali diam.

Saat itu, perempuan itu bukan lagi kekasihku. Dan kekasihmu, bukan lagi sahabatku.

Perempuan itu menangis. Aku melangkah pergi. Aku benci tangisan.


Aku mengenalmu suatu ketika. Saat perempuan itu, yang dulu kekasihku, melangsungkan pernikahannya. Ia menikah dengan lelaki yang tidak ia cinta. Atau mungkin ia mencintainya, entah. Aku hanya tahu mereka dijodohkan.

Kau datang dengannya, pria itu, yang dulu sahabatku. Kau tampak mesra dengannya. Menggandeng tangannya. Menatap wajahnya dalam. Tertawa. Sesekali kau letakkan kepalamu di dadanya. Kau mencintainya.

Tapi aku juga lihat kebencian. Di sudut lain matamu. Sinar yang lain, saat kau menatap matanya. Kebencian entah apa. Saat itu, aku tahu, aku bisa membalaskan dendam. Dendam yang dua tahun ini aku pendam.

Aku hampiri kalian. Menjabat tangan kekasihmu. Memeluknya, layaknya seorang sahabat. Ia senang melihatku lagi, setelah sekian lama. Aku dan lelaki itu pun hanyut dalam cerita, tentang ini dan itu.

Dan akhirnya, saat yang aku tunggu tiba. Kesempatan yang aku tunggu sejak tadi. Ia kenalkan aku padamu. Kita bersalaman. Aku menatapmu dalam. Kau menatapku malu. Dan kebencian di matamu semakin terlihat. Semakin jelas aku merasakannya. Dan aku semakin tahu, aku bisa mendapatkanmu. Membalaskan dendam yang kupendam. Pada lelaki itu. Pada kekasihmu, sahabatku. Dendam yang bisa kulampiaskan, dengan menjadikan engkau sebagai tumbal.

Dan sungguh, ia tidak tahu aku mendendam. Ia hanya tahu bahwa aku telah berpisah dengan perempuan itu, yang dulu kekasihku. Tanpa tahu kenapa.

”Aku dan dia tidak cocok,” jawabku suatu saat. Ketika lelaki itu, kekasihmu, yang dulu sahabatku, bertanya alasan aku dan perempuan itu, yang kini ada di pelaminan, berpisah.

Aku juga berpisah dengan lelaki itu, kekasihmu. Sahabatku. Juga dengan orang-orang di kehidupanku dahulu. Aku memutuskan untuk berkelana. Tak lama setelah pengakuan perempuan itu. Perempuan yang dulu kekasihku. Aku cairkan semua tabungan yang aku punya, dan mulai menjelajah. Dari satu tempat ke tempat lain. Menemui orang-orang yang belum pernah aku kenal, dan menjadikan mereka awal dari sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

”Aku ingin menenangkan diri,” kataku pada lelaki itu, kekasihmu, saat ia tanya alasanku pergi.

Dan setelah dua tahun. Sekarang. Aku memutuskan untuk pulang. Setelah mendengar kabar itu. Kabar pernikahannya. Pernikahan perempuan itu. Perempuan yang dulu kekasihku. Aku masih mencintainya, walau tidak pernah mau memberikan dia pengampunan. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali. Melihat ia pergi. Selamanya..

Di pelaminan, perempuan itu, yang dulu kekasihku, menangis. Ia terisak, menciumi tangan kedua orangtuanya. Dan orangtua lelaki itu, yang kini suaminya. Meminta restu agar bahagia di kehidupan yang akan datang.

Aku muak. Aku pergi. Aku benci tangisan.

Dan kini, kau telah kudapatkan. Kau telah jatuh ke dalam pelukanku. Telah hanyut dalam ciuman dan cumbuku. Seperti yang telah kuperkirakan, mudah bagiku mendapatkanmu.

Aku hanya mendekati engkau, mencoba mengenal kau lebih dalam, mendengarkan cerita dan keluh kesahmu, sembari mencari titik lemahmu. Suatu saat, akhirnya kau membuka diri.

”Aku beberapa kali dihianatinya,” katamu. Menjelaskan kebencian yang pernah aku lihat. Di matamu. Dulu. Di pernikahan itu.

”Beberapa kali aku memergoki dia meniduri perempuan lain,” katamu lagi.

Tapi kau mencintainya. Sungguh mencintainya. Dia lelaki pertama yang menyentuhmu. Merenggut kesucianmu. Dan seperti perempuan lain. Perempuan-perempuan bodoh yang menganggap keperawanan sebuah kemuliaan. Kau menghamba padanya. Seperti manusia yang menghamba Tuhan. Dan lelaki itu, sahabatku, juga mencintaimu. Seperti kau mencintainya. Walau kenyataannya, kau hanya ia jadikan boneka.

Kau menangis. Sedang aku benci tangisan. Tapi ini tangisan yang aku tunggu. Setelah aku menenangkanmu, aku menidurimu. Aku membalaskan dendam.

Setelah malam itu, malam percintaan kita yang terakhir. Malam saat kau katakan kau ingin bersamaku, aku memutuskan hubungan denganmu. Aku katakan padamu untuk melupakanku, dan kembali ke pangkuan lelaki itu. Kekasihmu, bekas sahabatku, yang tak pernah tahu bahwa aku telah menidurimu. Aku sengaja membiarkan kau kembali menghamba. Di malam terakhir kita bercinta, kau katakan padaku. Bahwa kau akan menikah dengannya. Aku menyeringai dalam hati. Beberapa malam sebelum kalian menikah, aku akan memberitahu lelaki itu, kekasihmu, tentang dosa yang kita perbuat di belakangnya.

Aku ingin melihatnya menangis. Seperti tangisanmu, tangisan kekasihku dulu, atau tangisan perempuan-perempuan lain yang ia jadikan boneka. Setelah melihatnya menangis, aku akan pergi, kembali mengembara. Aku benci tangisan.


Tapi nasib tidak memihakku. Satu bulan setelah percintaan itu, kau menghadapku. Dengan tangis.

”Aku hamil,” katamu.

”Ini anakmu, aku tidak pernah bercinta dengannya setelah percintaan kita yang terakhir,” katamu lagi.

Aku terdiam.

”Nikahi aku,” kau kembali berujar.

”Aku akan meninggalkannya,” ujarmu lagi.

Aku masih terdiam.

”Tidak,” aku berkata, tidak lagi diam.

”Aku tidak mau menikahimu, aku tidak mencintaimu,” tegasku.

”Lahirkan anak itu, aku akan bertanggungjawab terhadap penghidupan dan kehidupannya kelak,” kataku lagi.

”Tapi aku tidak mau menikahimu. Tidak bisa,” kataku.

Aku kembali terdiam (sejenak).

”Atau gugurkan,” aku kembali bicara.

”Hanya itu pilihannya,” kataku, ragu.

Kau terdiam (sejenak). Dan mulai menangis. Aku menyuruhmu diam. Kau terdiam (lagi). Aku benci tangisan. Sungguh aku benci.


Akhirnya engkau memutuskan pilihan. Pilihan kedua yang aku tawarkan, bukan yang pertama. Kau gugurkan anak itu, anakmu, anakku. Kau tidak sanggup melahirkannya tanpa aku nikahi. Kau terlalu takut dengan gunjingan yang akan kau terima. Dan kau, terlalu takut ditinggalkan oleh lelaki itu, kekasihmu, calon suamimu, sahabatku.
Aku yang mengantarkanmu. Mengantar kau ke seorang dukun tua di sebuah entah. Mengantarmu menggugurkan kandunganmu, anakku.

Aku meringis melihat prosesi itu. Melihat dukun tua itu memasukkan benda asing ke kemaluanmu. Melihatmu meringis menahan erang. Melihat kau berdarah-darah. Dan aku, lagi-lagi, hanya terdiam.

Kau tidak menangis. Kau diam. Kau telah mengerti, aku benci tangisan.


Dua bulan setelah kejadian itu. Kau kembali menjalankan kehidupanmu yang biasa. Kembali mesra dengannya. Kembali menggandeng tangannya. Kembali menatap wajahnya dalam. Tertawa. Sesekali kau letakkan kepalamu di dadanya. Tapi kau tak lagi mencintainya. Kau bahagia, kau akan menikah sebentar lagi.

Tapi tiba-tiba kau mendadak gila.

”Aku sering mendengarkan tangisan,” katamu padaku, suatu ketika.

”Bayi itu, bayi kita, menghantuiku,” katamu.

Aku tahu, bayi itu tidak menghantuimu. Penyesalan yang menghantuimu. Penyesalan yang selama ini kau pendam di bawah sadar. Penyesalan yang sengaja kau lupakan.

Kau menangis lagi. Aku terdiam. Aku mulai menangis dalam hati. Tapi sungguh, aku benci tangisan.


Tanah kuburan itu masih basah. Kuburanmu, perempuan yang kujadikan tumbal atas kepercayaanku akan ”ada”. Tumbal atas dendam entah apa. Kau menyerah. Setelah lelaki itu, kekasihmu, yang dulu sahabatku, meninggalkanmu. Ia membatalkan pernikahan karena kegilaanmu. Ia tidak lagi mencintaimu. Ia beralih ke perempuan lain. Boneka lain. Kau tenggak pil penenang. Hingga seberkas sinar menjemputmu. Kau meregang nyawa.

Aku terdiam. Melihat tanahmu yang masih basah. Selintas, aku lihat lelaki itu, yang dulu kekasihmu, yang dulu sahabatku. Melihatnya menangis. Tapi tidak menangisi kekalahan. Seperti yang dulu aku rencanakan. Dan aku, tak jadi menertawai tangisannya. Tangisan yang benar-benar aku tunggu, setelah tangisanmu malam itu. Malam terakhir kita bercumbu. Dia, lelaki itu, menangisi kematianmu. Aku terdiam.

Tangisan itu kini menghantuiku. Tangisanmu, dan tangisan bayi itu, anakku. Aku terkena karma. Karma yang kau dan bayi itu kutukkan kepadaku. Karma yang menjelma tangis. Sungguh, aku benci tangisan.

Aku bisa melihat bulan dengan jelas dari jendela kamar yang kubiarkan terbuka. Bentuknya bulat. Bulat sempurna. Ini tanggal 17. Sesekali, angin yang sepoi masuk menyejukkan kamar. Pipiku basah. Aku menangis. Tapi suara itu tak lagi terngiang. Suara tangisan itu. Tangisan bayi itu. Bayi sialan itu. Aku meregang nyawa.

Lampung, 30 September 2008.