Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 13, 2009

Ratu Punya Cerita

23 Mei 2009. Jl. Baung III RT. 04/ RW. 02 No.13, Kebagusan, Pasar Minggu. Jakarta Selatan. Rumah ini sangat sederhana. Di depan, ada taman kecil dengan beberapa jenis tanaman. Di teras, ditaruh meja kecil dan dua kursi.

“Akhirnya sampe juga kamu di sini,” kata Teteh sembari menyuruh saya masuk. Saya mengikuti Teteh ke dalam.

Ruang tamu difungsikan ganda. Ada alat untuk jogging. Rak di dinding, yang berisi banyak sekali piala. Dan sebuah meja. Di atasnya ada komputer yang sedang menyala. Seorang lelaki setengah baya sedang asik duduk di depannya.

“Ini Bapak,” kata Teteh. Saya langsung menyalami tangannya.

Di ruang tengah, ada televisi, kulkas, dan lemari yang penuh sesak dengan buku. Ruang tengah bersebelahan langsung dengan dua kamar tidur dan dapur. Saya duduk di atas karpet yang sudah digelar di ruang itu. Di atasnya, sudah ada lauk pauk dan nasi. Di dapur, ada suara orang sedang memasak.

Tak lama, datang seorang perempuan dari arah dapur. Badannya gemuk, wajahnya ramah.

“Ini Mamahku,” kata Teteh. “Ini lho mah, si badung yang sering kuceritain itu,” katanya lagi.

Perempuan itu langsung menyalami saya. Ia lalu bertanya tentang perjalanan saya. Setelah itu obrolan mengalir deras dari mulutnya. Tentang Teteh yang sering bercerita tentang saya. Keinginannya untuk bertemu dengan saya. Dan banyak lagi. Senyum seperti tak pernah lepas dari wajahnya. Saya senang melihat, dan mendengarnya berbicara. Bapak yang sedang asik bermain komputerpun menghentikan kegiatannya dan ikut pembicaraan kami. Seru.

“Udah, obrolannya dilanjut nanti aja,” kata Teteh. “Sekarang makan dulu,” kata Teteh lagi.

Ayam goreng, lalapan, dan salah satu lauk kesukaan saya: ikan asin. Kami makan dengan lahap.

***

Oktober 2008, saya pertama kali mengenal Ratu Gumelar. Saya biasa memanggilnya Teteh, panggilan khas orang Sunda. Maklum ia Sunda tulen. Ibunya, Popon Rukmini, asli Tasikmalaya. Sedangkan Bapaknya, M. Soleh, keturunan Banten dan Cianjur. Saya mengenalnya secara kebetulan, lewat seorang kawan kuliah. Namanya Didik Irawan.

Ceritanya, Didik pernah bekerja di Yayasan Pantau Jakarta. Sebuah organisasi wartawan yang bertujuan untuk memajukan jurnalisme di Indonesia melalui pelatihan-pelatihan menulis bagi jurnalis dan umum. Yayasan ini juga mengelola Mailing List (milis) Pantau Kontributor dan Pantau Komunitas. Selain itu, Pantau pun memiliki Website, pantau.or.id. Situs yang berfokus pada pemberitaan Aceh paska Tsunami. Agustus 2007- Agustus 2008, Didik bekerja sebagai Web Master, orang yang bertanggungjawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan Website milik Pantau itu.

Pada waktu bekerja di Yayasan Pantau inilah Didik mengenal Dyah Ayu Pratiwi. Dia biasa dipanggil Dayu. Saat itu, ia juga bekerja di Pantau sebagai Project Coordinator Kursus Jurnalisme Sastrawi. Salah program kursus yang rutin diadakan oleh Pantau. Dayu memang telah terbiasa dengan Jurnalisme semenjak kuliah. Ia pernah aktif di Teknokra, sebuah Lembaga Pers Mahasiswa di Universitas Lampung (UNILA), tempatnya dulu kuliah. Di Pantau, Didik dan Dayu menjadi teman akrab. Dayu biasa meledek Didik dengan memanggilnya “Om”. Dayu, adalah adik perempuan Teteh.

Pada bulan akhir tahun 2008 inilah, Teteh dan Dayu berlibur ke Yogyakarta. Didik yang menjemput mereka di stasiun dan mencarikan mereka hotel untuk menginap. Tapi pada hari ke dua mereka di Yogyakarta, Didik jatuh sakit. Sebetulnya saya tahu, Didik sudah merasa kondisi badannya tidak terlalu bagus sebelum Teteh dan Dayu datang ke Yogyakarta. Tapi saya juga tahu, kawan adalah segalanya bagi Didik. Lagipula, mereka sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Tidak mungkin untuk tidak memedulikan mereka.

Pada waktu Didik sakit, Teteh dan Dayu menjenguknya. Kebetulan jarak hotel dan kosan tempat Didik tinggal tidak seberapa jauh. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kebetulan pula, saya sedang menginap di sana. Waktu itu saya sedang sibuk mengurus bab terakhir skripsi. Di kosan Didik ada sambungan internet. Jadi saya menumpang mengetik di sana. Lebih mudah ketika saya kekurangan data. Bisa langsung tersambung ke dunia maya. Namun karena Didik sedang istirahat, saya tidak mengetik di kamarnya. Tapi di kamar seorang kawan kuliah, namanya Nur Legawa. Ia ikut menjemput Teteh dan Dayu di stasiun. Dan ia juga kebetulan mengontrak kamar di kosan yang sama.

Saya mengetik sejak siang. Dan ketika hari mulai gelap, saya mematikan Laptop dan beranjak ke atas, ke kamar Didik. Saya ingin mengecek keadaannya. Ternyata sudah ada Teteh dan Dayu. Kamar Didik penuh makanan, dibawakan oleh mereka.

Saya sudah tahu Dayu. Meski tidak pernah berkenalan secara langsung. Dayu sering menelepon Didik, dan saya pernah bertemunya sekali di kantor Pantau. Di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kalau tidak salah bulan Februari 2008. Saya agak lupa. Saat itu saya sedang berada di Jakarta untuk mengurus sebuah keperluan. Saya menginap di kosan Didik. Di Jakarta, Didik tinggal berdua dengan Eko Rusdianto, seorang penulis asal Makassar, Sulawesi Selatan. Eko saat itu kontributor, menulis untuk Pantau. Ketika Didik sedang tidak ada di Jakarta, mengurus peluncuran website Pantau di Aceh, saya jadi lebih akrab dengan Eko. Suatu hari dia mengajak saya ke kantor Pantau. “Daripada kau ga ada kerjaan di kosan,” kata Eko waktu itu. Di kantor Pantau, Eko menunjukkan Dayu kepada saya. “Itu yang namanya Dayu,” ujar Eko sembari mengacungkan jarinya ke arah perempuan berkulit coklat yang sedang sibuk mengetik di meja kerjanya. Ia memakai kacamata dan jilbab. Tapi saat itu, saya tidak menegurnya.

Di kosan Didik, saya berkenalan formal dengan Dayu. Dia bilang, dia juga sudah tahu saya. “Kamu ikut kursus narasi yang di Yogyakarta ya?” Tanya Dayu. Saya mengiyakan. 21 Juni- 13 Juli 2008, Pantau mengadakan kursus menulis Narasi di Yogyakarta. Pengajarnya Andreas Harsono dan Budi Setiyono. Keduanya jurnalis, bekerja untuk Pantau. Serta Anugerah Perkasa, Jurnalis, bekerja di Bisnis Indonesia, Jakarta. Saya ikut ambil bagian di kursus itu.

Lalu saya juga berkenalan dengan Teteh. Wajahnya bulat, matanya bundar, tubuhnya agak gemuk, serta memakai kacamata dan jilbab. Kesan saya ketika pertama kali bertemu dengannya, dia menyenangkan. Senyuman seperti tak pernah lepas dari bibirnya. Tapi saya tetap agak canggung, maklum orangnya terlihat dewasa. Tapi ketika saya melihat celana Jeans yang dia pakai berlubang, saya beranikan diri untuk membalas candaan-candaannya. Ternyata dia lebih menyenangkan dari yang saya pikirkan. Obrolan-obrolan mengalir deras antara kami berempat. Di luar kamar, hujan tak berhenti mengguyur sedari sore.

Saat sedang tak ada obrolan, Didik bilang ke Teteh kalau saya punya blog puisi. “Oh ya? Wah, pujangga rupanya” kata Teteh. Rupanya Teteh juga jago membuat puisi. Teteh minta diperlihatkan blog kepunyaan saya. Sayapun menunjukkannya. Dia lalu membaca beberapa tulisan. “Bagus,” kata Teteh setiap selesai membaca tulisan. Saya hanya tersenyum, sok acuh. Yang lucu, dia kemudian beranjak dari depan layar komputer dan menyidekapkan tangannya di depan dada. Dia membaca puisi saya sembari menirukan mimik muka anak kecil. Kakinya ia maju mundurkan. Kami bertiga terbahak-bahak melihat kelakuannya. Saya, tertawa sambil malu karena dibegitukan. “Ada-ada aja,” pikir saya.

Selepas Adzan Isya, hujan telah berhenti. Perut saya lapar minta diisi. Sayapun izin keluar untuk cari makan. Rupanya Teteh dan Dayu juga merasa lapar. “Bareng aja, kami sekalian pulang,” kata Teteh. “Ya udah,” kata saya. Kami bertigapun ke luar mencari makan. Didik sudah makan bubur instan yang mereka bawakan.

Kami memilih untuk makan di sebuah warung Mie dan Nasi Goreng Magelang pinggir jalan. Tidak jauh dari kosan Didik. Di sana, kami melanjutkan obrolan. Saya menceritakan tentang skripsi saya yang hampir selesai, dan rencana saya untuk ke Jakarta segera setelah tulisan selesai. Saya menulis tentang Marjinal, sebuah Band Punk yang bermarkas di Jl. Moch Kafi, Srengseng Sawah, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Wah kebetulan, rumah kami juga di Jakarta Selatan,” kata Teteh.

“Jangan lupa mampir ke rumah kalau jadi ke Jakarta,” katanya lagi. Saya mengiyakan.
Makanan habis. Saya segera beranjak hendak membayar. Tapi Teteh tidak membolehkan. Dia yang membayar semua. Setelah itu kami sama-sama beranjak pulang. Mereka ke hotel, dan saya kembali ke kosan Didik.

Pertemuan saya secara langsung dengan Teteh memang sangat singkat. Tapi setelah itu saya dan Teteh tetap berkomunikasi. Pulang ke Jakarta, Teteh dan Dayu membuat blog mereka sendiri. Kamipun saling menautkan alamat blog kami di blog masing-masing. Setelah itu, Teteh meminta alamat Yahoo Messenger (YM) dan Facebook saya. Keduanya layanan internet yang memungkinkan penggunanya untuk berkomunikasi langsung, ngobrol lewat dunia maya.

Semenjak itu, kami makin intens berkomunikasi. Berdiskusi tentang banyak hal, mengomentari tulisan masing-masing, atau sekedar saling menyapa ketika saya dan Teteh kebetulan sama-sama online. Terlebih, ketika saya dan Teteh kemudian bertukar nomor telepon genggam. Dia sering menelepon saya. Mengocehi saya agar semangat menyelesaikan skripsi, atau sekadar menanyakan kabar. Perlahan, saya mulai menganggap dia Kakak, dan dia menganggap saya Adik.

Kadang saya berpikir, kemajuan teknologi komunikasi menjadi salah satu penyebab rusaknya hubungan sosial. Dulu kita harus bertatap muka, bertemu langsung dengan keluarga, sahabat, pacar, atau siapa saja. Saling bertandang ke rumah masing-masing untuk mengobati rasa rindu ketika sudah lama tidak berjumpa. Semenjak telepon genggam merebak, lalu muncul koneksi internet, kebiasaan mengunjungi rumah masing-masing berkurang, bahkan menghilang. Kita sudah merasa cukup hanya dengan menyapa atau bertanya kabar lewat pesan singkat di telepon genggam atau surat elektronik. Tapi, tanpa teknologi komunikasi yang terus berkembang itu, saya dan Teteh mungkin tidak akan seakrab sekarang.

Akhir Desember, skripsi yang saya kerjakan selesai. Sayapun mendaftar untuk mengikuti ujian. 9 Januari 2009, saya mengikuti ujian skripsi. Puji Tuhan, saya bisa menjalaninya dengan lancar. Saya mendapat nilai A. Sepulang ujian, telepon genggam saya berbunyi. Rupanya Teteh, menelepon menanyakan hasil ujian. Dia orang pertama yang menyelamati saya.

***

Setelah makan, kami pindah ke teras. Teteh membuatkan saya kopi. Dari teras saya memerhatikan piala yang berjejer rapi di rak di dinding ruang tamu.

“Itu piala lomba puisi,” kata Teteh.

“Aku ga seperti kamu, berpuisi karena memang suka sastra,” katanya. “Aku ikut lomba puisi buat bantu-bantu uang makan sekeluarga,” kata Teteh lagi.

Teteh bercerita, ia dan keluarganya sudah biasa susah semenjak ia kecil.

“Makan sama garam dan terasi doang sih udah biasa,” katanya.

“Kita bahkan pernah makan biji karet saking ga ada makanan,” kata Teteh lagi.

Untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari, Mamah biasa menjahitkan pakaian pesanan orang dengan mesin jahit yang diberi oleh saudaranya. Dan Bapak, menjadi seorang penulis naskah kecil untuk drama televisi. Dan Bapak hanya menulis jika mendapat pesanan. Sebenarnya, ia adalah seorang penulis yang lumayan.

“Bapak dulu orang teater,” kata Teteh.

“Tapi sayang, Bapak ngambil jalur kepenulisan belakang layar,” kata Teteh lagi.

Naskah yang dibuat Bapak banyak yang digunakan oleh orang lain. Bapak hanya menuliskan, lalu diganti namanya. Tapi Bapak hanya menerima saja. Maklum, ia butuh uangnya untuk penghidupan keluarganya. Penghasilan Mamah dari menjahit dan Bapak yang bekerja serabutan sembari menulis, tentu saja tak mencukupi.

Tapi keadaan ekonomi keluarga tidak membuat Teteh serta abang dan adiknya tidak kecil hati. Mereka malah merasa beruntung memiliki orangtua yang selalu memberi pengertian kepada mereka tentang keadaan keluarga. Punya Bapak yang tegas dan Mamah yang bijaksana. Mamah, sering menasehati mereka mengenai ketegaran hidup lewat dongeng-dongeng pengantar tidur.

Sosok Bapak dan Mamah, seta keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak banyak menuntut. Bahkan masing-masing dari mereka berusaha keras untuk membantu menambah penghasilan keluarga.

Aa’ misalnya, kerap menawarkan jasa ojek payung ketika tiba musim hujan. Berjualan es, bahkan meminta amal. Keliling dari masjid ke masjid. Ketika ada acara di Pasar Festival (saat itu Gelanggang Mahasiswa), Aa’ sering datang untuk mengumpulkan makanan-makanan sisa konsumsi. Aa’ yang dimaksud Teteh adalah Wisynu, abangnya.

Untuk membantu ekonomi keluarga pula, Teteh mengikuti berbagai lomba puisi. Ia masih duduk di kelas tiga Sekolah dasar ketika pertama kali mengikuti lomba puisi. Waktu itu Masjid Istiqlal mengadakan lomba puisi. Iseng saja, ia ikut lomba itu. Ternyata ia menang, juara satu! Hadiahnya, piala bergilir dari Menteri Agama. Semenjak itu, Teteh akhirnya rajin ikut lomba puisi.

Ketika ia duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), Radio Republik Indonesia (RRI) mengadakan lomba puisi. Ia mengikutinya, dan kembali menjadi juara. Teteh kaget, selain mendapat piala, ia mendapat uang dua ratus lima puluh ribu dan sebuah Radio bermerek Sony.

“Buat kita yang kekurangan, wah, ini luarbiasa!” Kenang Teteh. Uang hasil lomba puisi, ia pergunakan untuk membayar SPP sekolah.

Semenjak Teteh menang di lomba puisi RRI dan sadar bisa mendapatkan uang, ia mulai “berburu” lomba puisi. Berbagai lomba ia ikuti. Di Taman Ismail Marzuki, Gelanggang Mahasiswa, Museum Juang, Museum Sumpah Pemuda, dan banyak lagi. Yang terbesar, ia pernah mendapatkan uang satu setengah juta rupiah dari lomba yang diadakan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ketika memeringati hari lahir Soekarno.

“Uang hadiahnya sih ga jauh-jauh larinya. Buat bayar kontrakan rumah, SPP, sama biaya sehari-hari
kami,” kata Teteh.

“Dayu mulai ikut lomba puisi juga pas dia kelas 2 SMP, dan sering menang juga. Jadi, lumayanlah” kata Teteh.

“Pokoknya bukan karena melek sastra karena kamu,” kata Teteh lagi.

Saya tersenyum mendengar cerita Teteh. Lalu melihat lagi piala-piala yang tersusun rapi di atas rak di dinding ruang tamu.

***

Teteh lahir 29 tahun yang lalu.
Tepatnya Empat Februari 1980. Di Kampung Pedurenan Haji Cokong, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Kampung ini menyimpan kenangan yang mendalam bagi Teteh. Di kampung inilah ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya.

“Waktu itu belum masuk listrik. Jadi penerangan masih ngandelin petromak atau lampu tempel, jadinya gelep kalo malem,” Teteh bercerita.

Di Kampung Pedurenan ini, Teteh dan keluarganya pindah-pindah rumah kontrakan.

“Ada mungkin enam kali pindah,” kata Teteh.

Mereka pindah dari rumah ke rumah dengan tipikal sama. Teteh menyebutnya rumah 3 petak: ruang tamu, ruang tengah, dan dapur. Lalu satu atau dua kamar tidur. Jika beruntung, ia dan keluarganya mendapat rumah dengan kamar mandi di dalam. Jika tidak, terpaksa memakai kamar mandi di luar. Berbarengan dengan tetangga-tetangga sekitar rumah.

“Yang aku inget, kita sekeluarga pernah ngontrak di rumahnya Pak Sanusi, orang Betawi,” katanya lagi.
Perkampungan Pedurenan pada tahun 1980an memang masih menjadi salah daerah tempat tinggal keluarga-keluarga Betawi asli yang memiliki tanah berhektar-hektar. Warisan keluarga turun temurun. Kawan kuliah saya di Yogyakarta, namanya Risman Fardela, ia keturunan Betawi asli, tinggal di Jatinegara, Jakarta Timur pernah bilang kepada saya. “Dulu saking luasnya, kadang-kadang mereka sampai lupa di mana batas tanah yang mereka miliki,” kata Risman.

Pada waktu kecil, Teteh ingat di sekitar kampung Pedurenan masih banyak perkebunan kelapa yang luas dan kolam-kolam ikan milik orang-orang Betawi.

“Ada yang punya Haji Maman, Babe Husin, dan lainnya,” ujar Teteh.

Dulu, kampung padat perumahan tempat Teteh tinggal itu kerap dipusingkan dengan datangnya banjir saat tiba musim penghujan. Pernah hujan yang menyebabkan banjir itu datang ketika malam hari saat ia dan keluarganya sedang terlelap.

“Aa’ sama Mamah yang tidur di kasur yang digelar kebangun karena udah kerendam air,” kata Teteh sambil tertawa.

Tapi musibah rutin yang menimpa kampung Pedurenan itu kadang menjadi hiburan bagi Teteh dan teman sebayanya.

“Kalo banjir, bisa ujan-ujanan trus renang-renangan sama temen-temen,” kata Teteh mengingat kembali masa kecilnya.

Teteh bercerita banyak sekali mengenai kenangan-kenangannya di Kampung ini.

“Pokoknya seru kalo nginget masa kecil dengan temen-temen di Pedurenan,” kata Teteh lagi.
Tapi, Kampung Betawi yang ketika Teteh kecil masih berupa perkebunan dan kolam-kolam serta gelap gulita saat malam hari tiba itu kini tinggal cerita. Seiring waktu, pembangunan mulai merambah daerah itu, sampai sekarang menjadi segitiga emas Kuningan. Pusat bisnis dan pemerintahan. Gedung-gedung pemerintahan, perkantoran, apartemen dan pusat-pusat perbelanjaan mewah berjamuran. Menggusur tanah-tanah perkebunan, kolam-kolam, hingga perumahan milik penduduk. “Tuan-tuan tanah” Betawi terpaksa harus minggir, menjual tanah milik mereka dengan harga murah kepada para spekulan dan calo tanah. Pindah ke daerah-daerah pinggiran Jakarta, bahkan sampai ke daerah Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Waktu saya mencari data di Internet tentang Kampung Pedurenan, saya beruntung menemukan tulisan berjudul “Dua Lelaki Terbelit Kenangan” di webblog “pukultigadinihari”. Tulisan itu menceritakan kisah Abdul Rahman, yang biasa dipanggil Maman. Warga asli Betawi asal Kampung Pedurenan. Ternyata dia adalah Haji Maman. Salah satu orang Betawi yang diceritakan oleh Teteh memiliki kolam ikan hias kala ia kecil. Tahun 1990, Maman terpaksa harus melego tanah keluarganya dengan harga tiga ratus ribu per meternya. Setelah menjual tanah, ia terpaksa berpindah-pindah, ke daerah Condet, Depok, Pasar Minggu, hingga ke Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Usaha kolam yang dirintisnya pun ambruk.

Maman, menurut tulisan itu kini menjadi pengurus Masjid Al Awwabin, di RT 15, RW 10, Pedurenan Haji Cokong, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Ia kembali ke kampung itu setelah berkali-kali pindah karena kerap memimpikan kenangan di tanah tempat ia lahir dan besar itu.

Ketika saya menunjukkan tulisan tentang Haji Maman kepada Teteh, dia seakan tak percaya.
“Wah, Masjid Al Awwabin ya? Aku pernah tinggal di belakang masjid itu lho,” kata Teteh ketika selesai membaca tulisan itu. Ia tak menyangka, banyak perubahan yang terjadi pada kampung dan orang-orang di kampung tempat ia lahir dan dibesarkan itu.

“Yang jelas, aku nyaksiin mulai daerah itu jarang penduduk karena mulanya kebon kelapa, terus berdesak-desakan, sampe jarang lagi karena digusur, dan sekarang udah jadi Rasuna Episentrum,” ujar Teteh.

Rasuna Episentrum yang dimaksud Teteh adalah sebuah “megasuperblok” terpadu. Kompleks apartemen, perkantoran, dan pusat perbelanjaan di segitiga emas Kuningan. Kompleks terpadu ini dimiliki oleh PT Bakrieland Development. Salah satu dari banyak perusahaan milik Kelompok Usaha Bakrie, dinasti bisnis keluarga Bakrie yang saat ini dikomandani oleh Aburizal Bakrie. Sekarang ia menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Kabinet Pembangunan, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada awal pembangunannya, kompleks ini bernilai lebih dari Rp. 3,5 triliun. Megasuperblok ini berdiri di atas tanah seluas lebih dari 50 hektar. Di situsnya, Rasuna Episentrum menyebut dirinya “A city within a City”, kota di dalam Kota! Mungkin karena luasnya.

Melihat nasib warga keturunan Betawi yang tergusur seperti Maman, saya teringat nasib banyak penduduk di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Yang juga seperti mereka, kehilangan rumah dan tanahnya karena obsesi “pembangunan”.

Sejak 29 Mei 2006, lumpur panas menyembur di desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, dari sumur Banjar Panji-1 milik PT. Lapindo Brantas. Salah satu perusahaan yang ditunjuk oleh BP MIGAS, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi untuk melakukan pengeboran minyak dan gas di sana. Akibat semburan lumpur yang tak henti itu, puluhan pabrik, ratusan hektar sawah serta tak terhitung pemukiman penduduk, tenggelam di dasar lumpur.

Sampai saat tulisan ini dibuat, mereka masih hidup terlunta-lunta di penampungan sembari mengingat sesekali rumah dan tanah mereka yang kini terkubur lumpur. Dan saya ingat, PT. Lapindo Brantas, perusahaan tambang yang teledor itu, yang mengusir penduduk Porong, Sidoarjo, Jawa Timur itu dari rumah, tanah, serta kenangan mereka, juga adalah anak perusahaan milik keluarga Bakrie.

***

Kopi tinggal setengah
. Di teras rumah, Teteh lalu menceritakan tentang kedua saudaranya. Aa’ Wisynu dan Dayu.

Teteh ingat, Aa’nya dulu adalah pribadi yang keras. Ia telah menjadi pentolan tawuran semenjak SMP. Menurut Teteh, mungkin karena Aa’ terinspirasi dengan cerita-cerita Bapak. Sebelum menulis, M. Soleh, Bapak Teteh adalah seorang jawara. Preman di Pasar Mencos, Setiabudi, Jakarta Selatan. Bapak memang mewarisi kemampuan pamannya, jawara silat di Bogor.

Teteh juga ingat, dulu ia kerap diajak Bapak ke Pasar Mencos, memalak orang-orang yang menang judi.
“Aku sampai bisa main kartu karena keseringan liat orang judi,” kata Teteh.

Setiap menjelang lebaran, Teteh juga ingat ia kerap diajak Bapaknya pergi ke Pasar Mencos. Pernah, katanya, ia ikut Bapak pergi ke Pasar Mencos ketika hari raya sudah dekat. Di kantong Bapak, cuma ada uang dua ribu lima ratus rupiah. Pulangnya, mereka bisa membawa kulit ketupat, beras, lauk, saus, dan kebutuhan lebaran lainnya. Uang di kantong Bapak bertambah menjadi empat ribu rupiah. Teteh
bercerita sembari tertawa. Kebiasaan Bapaknya memalak ini berlangsung hingga Teteh SMP.

“Waktu aku SMU sih kayaknya ga pernah lagi,” kata Teteh.

“Malu juga sih kalo inget, tapi mau gimana lagi,” kata Teteh lagi.

Tapi paling tidak, Teteh, Aa’, serta Dayu bisa belajar keberanian dari sosok Bapaknya. Walaupun perempuan, Teteh dan adiknya, Dayu, terbiasa pergi ke mana-mana sendirian.

Di ruang tengah sebelum kami makan, Bapak bilang ke saya, “Tiap orang sebenarnya punya rasa takut, tapi bagaimana caranya kita mengurangi rasa takut di diri kita, dan memperbesar rasa takut orang yang kita lawan,” kata Bapak.

Sifat Aa’ yang keras, menurut Teteh berkurang ketika ia telah menamatkan kuliahnya di STMIK Jayakarta. Setelah kuliah, Aa’ lama tidak mendapatkan pekerjaan. Ia sampai putus asa. Sambil menangis, ia bilang ke Teteh bahwa ia menyerahkan nasib keluarga sepenuhnya ke Teteh.

“Soalnya gua kayaknya ga bisa,” ujar Aa’ kepada Teteh waktu itu sembari meneteskan air mata.

Untuk membuat Aa’nya lebih baik dan kembali semangat, Teteh membuatkan sebuah puisi.

Kita Masih Punya, Kita Masih Bisa

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan sang elang,
hanya seekor camar?
Kita masih bisa terbangkan sayap keliling dunia
dan jelajahi samudera, langit biru
membentang luas.

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan sang matahari,
hanya sebuah mercu suar?
Kita masih bisa berbagi terang
dan berikan arah
bagi kapal-kapal terjebak badai.

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan sang harimau,
hanya seekor kijang?
Kita masih bisa berlari menembus hutan
dan nikmati hijaunya dedaunan.

Lantas kenapa kalau ternyata kita bukan batu karang,
hanya sebuah batu kali?
Kita masih bisa jadi pondasi
bagi bangunan bangunan raksasa pencakar langit.

Lantas kenapa kalau kita hanya seorang manusia,
Kita masih punya Yang Maha,
Sang pemilik segala
yang akan selalu ada.

Puisi ini membuat Aa’ sedikit lebih baik. Aa’ sadar, tak ada guna menyerah melawan kehidupan. Aa’ kembali bangkit, bekerja berpindah-pindah. Menjadi sales asuransi, membuat jasa undangan pernikahan, dan sebagainya. “Tapi tetap aja Aa’ jatuh bangun,” kata Teteh.

Akhirnya Aa’ bertemu dengan seorang perempuan, Shelvy Gandara Putri. Dia yang menemani Aa’ dan menyemangatinya tiap kali Aa’ gagal menjalankan usaha yang ia rintis. Tahun 2007, Aa’ menikahi perempuan ini.

Teteh lalu memerlihatkan sebuah album foto kepada saya.

“Ini foto pernikahan Aa’,” ujar Teteh sembari membuka halaman demi halaman album foto itu.
Sebuah pernikahan yang sangat sederhana. Tidak ada pelaminan, kursi duduk buat undangan, terlebih hiburan seperti layaknya pesta pernikahan. Di foto itu, terlihat orang-orang yang sedang makan beralaskan tikar. Beberapa bahkan hanya jongkok di jalan di depan rumah. Tapi Aa’ dan perempuan yang akan dinikahinya terlihat bebahagia. Mata mereka bersinar.

Teteh mengaku sedih jika ingat momen itu. Menyesal tidak bisa memberikan yang lebih baik untuk abang satu-satunya yang sangat ia sayang itu.

“Perjalanan hidup Dayupun ga kalah sedihnya,” ujar Teteh kemudian.

Lulus SMU tahun 2000, Dayu merantau ke Lampung. Ia diterima di Universitas Lampung. Jurusan Manajemen Kehutanan. Ia berangkat dengan tabungan sendiri. Teteh sekeluarga dengan berat hati melepas kepergiannya.

Di Lampung, Dayu hidup dengan kiriman yang tak layak. Seperti Teteh, Dayu harus sering mengirit agar kirimannya bisa bertahan sampai akhir bulan. Mengirit, bagi Teteh dan Dayu berarti berpuasa. Atau hanya memakan gorengan untuk mengisi perut. Dayu sering sekali harus menahan lapar tiap hari. Di Lampung, Dayu bahkan pernah terserang Demam Berdarah dan Malaria. Semua harus ia hadapi sendiri. Jarak dan biaya membuat keluarganya tak bisa berkunjung. Merawatnya, atau sekedar menengok keadaannya.

“Untung dia bisa sampe lulus,” ujar Teteh. Matanya berkaca-kaca.

Sembari mendengar cerita Teteh, saya ingat ketika saya kuliah. Meski sebenarnya uang yang dikirimkan oleh orangtua saya perbulan lebih dari cukup, saya kerap merasa kurang dan selalu meminta uang tambahan lebih. Membandingkan kisah saya dan kisah mereka, saya jadi malu sendiri.

Setelah bercerita, Teteh mengambil beberapa buku harian Dayu ketika ia kuliah di Lampung dan menunjukkannya kepada saya. Hati saya tergetar membacanya.

***

Tahun 1998, Teteh diterima di Institut Pertanian Bogor. Di jurusan Sosial Ekonomi Agribisnis. Seperti Dayu dan Aa’nya, kehidupan Teteh juga tak jauh beda.

Di Bogor, tempat tinggal barunya itu jarang sekali lomba puisi. Artinya, tak ada lagi duit tambahan.Tentu saja ia harus memutar otak untuk bisa bertahan hidup. Kemudian ia ingat makanan yang menjadi favorit kawan-kawannya di SMU. Pisang Coklat (piscok). Tetehpun memutuskan untuk mencoba menjual piscok. Resep piscokpun ia cari. Uang Rp. 10.000,- yang diberi Mamahnya untuk ongkos dan hidup di Bogor akhirnya ia putar untuk membeli bahan untuk membuat Pisang Coklat. Tentu saja awalnya ia harus berpuasa karena uangnya untuk makan habis ia belikan bahan.

“Aku biasanya beli bahan-bahannya di Pasar Bogor, jalan kaki dari kos, pagi atau siang sepulang kuliah,” cerita Teteh.

Tiap hari, ia bangun pukul setengah lima. Memasak piscok untuk kemudian dijual siangnya. Siapa sangka, ternyata dagangannya laris. Hasil penjualannya benar-benar berguna buat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Kalo pulang ke Jakarta, aku bisa ngasih mamaku Rp. 20.000,” kata Teteh.

Tapi nasib baik tak selalu berpihak. Karena kesibukannya menjual piscok ini, ia kelelahan dan terserang TBC. Ia beruntung, saat itu ada program peberantasan TBC dari pemerintah. Karenanya ia tak perlu membuat orangtuanya pusing untuk lebih bekerjakeras, mencari uang untuk membeli obat. Enam bulan ia harus menjalani pengobatan karena penyakitnya ini.

Karena penyakitnya ini, tentu saja ia tak bisa lagi bangun saban pagi untuk membuat piscok.

“Alhamdulillah, selalu ada pintu lain yang dibukakan oleh Tuhan,” kata Teteh.

Di kota hujan ini, ia mendapatkan sesuatu yang kelak mengubah hidupnya, beasiswa.
International Community Activity Center, sekarang Yayasan Goodwill memilihnya sebagai penerima beasiswa. Ia mendapatkan Rp. 225.000,- per bulannya. Ini tentu saja cukup membantu meringankan beban keluarga. Uang yang ia terima, ia bagi dua. Rp. 100.000,- untuk menambah kiriman Dayu per bulan, dan Rp.125.000,- untuk keperluan rumah.

Tahun 2000, Yayasan yang mensponsori beasiswa Teteh mengirim Teteh ke Amerika. Homestay selama seminggu di Georgia. Pengalaman luarbiasa, bahkan tak pernah terbayangkan sekalipun olehnya.

“Aku bener-bener dapet pertolongan dari Allah,” ujar Teteh.

Dalam hati, saya mengiyakan.

***

Kopi di gelas sudah habis saya tenggak. Setelah selesai bercerita, Teteh lalu mandi. Hari sudah agak sore. Rencananya hari ini, ia dan Bapak akan pergi ke Sukabumi. Menumpang mobil saudaranya. Karena ada beberapa barang yang dibawa, mobil penuh. Hanya Bapak yang berangkat lebih dulu. Teteh kemudian berencana menyusul saja, naik angkutan.

“Ga apa, kan mau nganter kamu naik bis juga,” kata Teteh.

Saya, bermaksud ingin ke Jl. Moch. Kahfi, Srengseng Sawah, Setiabudi, Jakarta Selatan. Ke markas Marjinal Band, Komunitas Sapi Betina. Band Punk asal Jakarta Selatan yang lagu-lagunya saya bahas dalam skripsi. September 2007, ketika saya selesai live in di komunitas mereka, saya berjanji akan berkunjung lagi suatu saat. Memberikan tulisan saya jika sudah selesai.

Ketika Teteh di kamar mandi, saya ditemani Mamah. Kami lalu berbincang. Mamah beberapa kali mengatakan, merasa bersyukur mendapatkan anak-anak seperti Aa’, Teteh, dan Dayu.

“Ga nyangka mereka udah pada lulus kuliah semua,” kata Mamah.

Anak-anaknya sekarang memang telah menjadi orang yang bisa ia banggakan. Semuanya telah selesai kuliah. Dan, telah bisa menghidupi diri sendiri.

Aa’, tahun 2006, setelah beberapa kali gagal menjalankan usaha, mencoba untuk menjual piscok di Sukabumi. Makanan yang pernah membantu Teteh untuk menyambung hidup ketika kuliah. Resep yang diberikan oleh Teteh, ia modifikasi. Lalu ia mencoba menjual resep piscok hasil eksperimennya itu. awalnya, dari sekolah ke sekolah. Ternyata banyak yang suka.

Tapi berjualan dari sekolah ke sekolah beresiko tinggi ke usaha yang dirintisnya. Terutama jika libur. Tidak ada pesanan. Ia akhirnya memutuskan untuk membeli gerobak agar tidak hanya mengandalkan pesanan dari sekolah. Gerobak ini cukup membantu usahanya. Dan, ternyata bisnisnya maju. Perlahan, ia memunyai pelanggan tetap yang bertambah hari ke hari.

Sekarang, Aa’ telah memiliki dua gerai. Di Jalan Arif Rahman Hakim, dan di daerah Cisaat, Sukabumi. Ia telah memiliki sekitar 18 pekerja. Cakra Buwana Silihwawangi, nama gerai piscoknya, sudah akrab di telinga orang-orang Sukabumi.

Dayu, setelah tidak lagi bekerja di Pantau, bekerja sebagai Freelance Transcipter untuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pula, ia telah memiliki lahan sekitar 5 Hektar di Lampung. Rencananya, akan ia tanami pohon Sengon.

Dan Teteh, kini bekerja sebagai Research Manager di PT Acorn Konsultan. Sebuah perusahaan penelitian pemasaran di Jakarta.

Desember 2002, tiga bulan setelah lulus, Teteh mendapat panggilan dari kantor Goodwill, Yayasan yang pernah memberinya beasiswa saat ia kuliah. Orang yang pernah menjadi sponsornya, bekerja di sana. Waktu itu, ia datang dengan pakaian seadanya. Ia tidak mengira, ternayata itu panggilan wawancara untuk bekerja.Hari itu juga, Teteh menandatangani kontrak untuk mulai bekerja bulan Januari 2003 di Acorn Konsultan.

Di teras, Mamah bilang kepada saya. Teteh dan Aa’ pernah membincangkan untuk pindah ke rumah yang lebih layak. Tapi Mamah menolak.

“Masih ada Dayu yang belum diselamatkan,” kata Mamah saat itu. Mamah lebih suka uang untuk menyicil rumah digunakan untuk “menyelamatkan” Dayu. Tanah yang dibeli Dayu di Lampung, adalah hasil sumbangan mereka bersama.

“Mamah ga pernah nyeselin keadaan Mamah, kalo Mamah inget mereka,” ujar Mamah. Matanya sedikit basah. Saya terharu mendengarnya.

Setelah Teteh selesai mandi, saya pun bersiap hendak ke Srengseng Sawah, Setia Budi, Jakarta Selatan. Ketika Teteh sudah siap mengantar, saya pamit kepada Mamah. Saya dan Teteh pun berjalan menuju Stasiun Tanjung Barat untuk menunggu bis.

Ketika kami telah sampai di ujung gang, Teteh menengok ke belakang.

“Coba lihat ke belakang deh,” kata Teteh.

Ketika saya menoleh ke belakang, saya lihat Mamah sedang melambai kepada kami dan mengecup kedua tangannya sembari seakan melempar kecupan di tangannya kepada kami. Dia sedang mengirimkan kecupan kasih sayangnya, doanya. Kamipun membalasnya.

“Mamah selalu begitu dari kami kecil tiap kali anaknya mau pergi,” kata Teteh.

Ah, saya langsung teringat Ibu saya di Lampung.

***

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Tryin' to make his way home?

Di atas, adalah petikan lagu Joan Osborne, penyanyi perempuan asal Amerika. Judulnya “One Of Us”. Lagu itu terdapat dalam album Relish yang ia keluarkan tahun 1995.

Jika dicerna mentah-mentah, tentu saja lirik lagu itu membuat beberapa dari kita akan marah. Betapa tidak, Osborne memertanyakan sesuatu yang menggelitik. Bagaimana jika Tuhan adalah salah seorang dari kita? Hanya seorang asing di dalam bus yang sedang dalam perjalanan pulang? Pernyataan sekaligus pertanyaannya dalam lagu itu sungguh mengusik kuping.

Tapi saya suka lagu itu. Karena menyimpan pesan yang amat mendalam. Paling tidak bagi saya.
Osborne, ingin mengatakan bahwa “Tuhan” ada di sekitar kita, selalu mengiringi kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Lebih jauh lagu tersebut ingin mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Semua kejadian, keberuntungan atau kesialan yang kadang melekat di keseharian, selalu mengandung pesan.

Apa yang dialami oleh Teteh dalam cerita mengenai keluarganya. Kesialan-kesialan, kesusahan-kesusahan, lalu keberuntungan-keberuntungan dan kebahagiaan-kebahagiaan yang mereka alami, saya kira merupakan refleksi hadirnya “Tuhan” dalam kehidupan mereka. Teteh dan keluarganya telah berhasil menghayati “pesan” yang ingin disampaikan oleh Tuhan dalam setiap kejadian dalam tiap detik kehidupan mereka.

Perjumpaan pun demikian. Tak ada yang benar-benar kebetulan. Dan tiap pertemuan, selalu membawa pesan bagi kita untuk lebih menghayati “Tuhan”.

Perjumpaan saya dengan Teteh yang terlihat sangat kebetulan pun saya rasa mengandung pesan yang sangat dalam bagi saya. Teteh, dan ceritanya membuat saya lebih menghargai yang saya punya. Membuat saya lebih menghayati setiap detik kehadiran saya di dunia, beserta pengalaman yang menyertainya tentunya.

“Jangan-jangan Tuhan dalam lagu Joan Osborne adalah Teteh?” Saya bertanya genit dalam hati.
Kini, saya dan Teteh masih terus berhubungan. Ia kerap memberikan petuah-petuahnya ketika saya sedang bermasalah. Selain saya, Teteh juga memiliki dua orang. Yang walau hanya dijumpainya sekali, telah ia anggap adik. Dan seperti saya, mereka juga menganggap Teteh sebagai kakak.

Yang pertama Nur Legawa, kawan kuliah saya yang pernah menjemput Teteh di Stasiun bersama Didik. “Buku nasehat kehidupan yang paling emoh aku bacapun kayanya bakal aku beli kalo Teteh yang nulis,” kata Nur Legawa ketika saya menanyakan kesannya akan Teteh.

“Teteh pintar ngasih nasehat yang bikin aku semangat,” katanya lagi.

Adik angkat Teteh yang satunya lagi, adalah Eko Rusdianto. Penulis asal Makassar yang pernah bekerja bersama Didik dan Dayu di Pantau. Teteh bertemu dengan Eko sekali di Makassar, ketika ia sedang ada tugas ke luar kota dari kantornya. Mereka juga tetap saling menyapa. Berhubungan walau dipisahkan waktu dan jarak.

Kami, kini seperti sebuah keluarga besar, yang saling mendukung satu sama lain.
Ah, saya makin merasa bahwa hidup ini benar-benar dipenuhi kebetulan yang menyimpan pesan, jika kita menghayatinya.

***

Lampung, Juli 2009.


Selasa, Juli 21, 2009

Suara Hati, Sayap Ibu


AKU tidak tahu kapan tepatnya. Kalau tidak salah sekitar akhir Mei atau awal Juni 2007. Waktu itu hari menjelang malam. Itulah kali pertama aku menjejakkan kaki di halaman muka Yayasan Sayap Ibu (YSI), di Jl. Rajawali 3, Pringwulung, Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta. .

Halaman muka sepi, tidak ada siapa-siapa. Tapi kemudian aku dengar suara sayup-sayup dari arah dalam. Pelan kuarahkan langkah mengikuti jejak suara, ada 2 orang wanita dan beberapa orang bayi yang sedang sibuk sendiri di peraduannya. Ada yang tersenyum-senyum sendiri, tertawa sambil membolak-balik mainannya, atau bergumam, entah tentang apa.

Lalu kuberanikan diri mengucap salam

“Permisi” ujarku.

Seorang wanita kemudian menghampiriku. Aku sudah lupa siapa namanya. Yang pasti perawakannya kecil dan berkulit coklat muda, umurnya sekitar 27 tahun.

“Ya, ada apa mas?” tanyanya.

“Cuma mau tanya mbak, kalau mau nyumbangin sesuatu gimana ya?” tanyaku.

“Oh, tunggu mas saya ambilkan bukunya, mas duduk saja dulu,” jawabnya sembari bergegas masuk ke dalam, sementara aku menuju ruang duduk tamu.

Tak lama berselang, “si Mbak” datang sambil membawa sebuah buku.

“Mas dari mana?” tanyanya kemudian.

“Saya kuliah mbak, di Gadjah Mada” jawabku.

“Oh, ya sudah, mas tulis nama mas di sini,” ujarnya sembari menyodorkan buku tamu. Aku langsung menuliskan namaku di situ

“Mmm, aku nyumbangnya ga sekarang Mbak,” kataku setelah menuliskan nama.

“Mungkin minggu depan, dan itupun hanya sedikit makanan dan susu bayi,” ujarku lagi.

“Makanya aku datang sekarang cuma mau tanya, boleh atau tidak nyumbang seadanya,” kataku.

“Oh, tentu boleh Mas. Kami malah berterimakasih masih ada yang mau peduli,” jawabnya.

ITU dialog yang aku ingat antara aku dan “Si Mbak”, aku lupa siapa (maaf). Aku pertama bertandang ke YSI memang hanya untuk bertanya cara memasukkan sumbangan. Waktu itu, kebetulan mantan kekasihku (ehm..) sebentar lagi akan merayakan hari lahir. Aku ingin memberikan hadiah untuknya. Hadiah yang tidak hanya menyenangkan dia, tapi juga bisa membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum gembira. Aku sempat kebingungan, maklum uang yang aku punya tidak seberapa. Tapi kemudian aku punya ide untuk mengajaknya menyumbangkan makanan dan susu seadanya ke Panti Asuhan anak. Hadiah senyuman anak kecil untuknya tentu bisa membuat hari lahirnya lebih bermakna.

Akhirnya aku bertanya pada Mbak Sumi, dulu teman satu kos.

“Mbak, tahu panti asuhan atau yayasan yang fokusnya ngurusin anak kecil ga Mbak?” tanyaku.

“Untuk apa Rie?” ia menjawab dengan pertanyaan pula.

“Ada aja,” jawabku.

“Halah gayamu. Aku tahunya Sayap Ibu, semacam yayasan gitu. Ngurusin anak-anak kecil juga,” katanya kemudian.

“Ada dua tempat, tapi yang dekat di daerah Selokan Mataram. Dari Jembatan Merah daerah Gejayan, kamu masuk terus sampe ketemu perempatan. Trus kamu belok kiri. Nah, sebelum jembatan liat ada plang Yayasan Sayap Ibu di sebelah barat. Gedungnya di jalan masuk sebelah timur. Kamu coba kesana aja, anaknya lucu-lucu,” ujarnya lagi.

“Wah, ya udah tar aku coba ke sana. Makasih Mbak,” ujarku.

Akupun ke sana dan berbicara dengan salah satu pengasuhnya seperti kuceritakan di atas. Setelah berbincang dengan “Si Mbak”, akhirnya aku tahu bahwa Sayap Ibu menerima sumbangan walau alakadarnya.

Aku tersenyum gembira. Rencanaku memberikan hadiah hari lahir seadanya namun bermakna akan kesampaian. Setelah pamitan dengan “Si Mbak”, akupun melangkah keluar ruangan, bergegas. Hari itu aku ada janji dengan kawan.

Nah, saat itulah mataku tertuju pada lembaran pengumuman yang ditempelkan di pintu kedua dari luar.

“SUARA HATI”, teks yang pertama kubaca. Lalu akupun membaca secara mendetail. Ternyata tulisan itu adalah pengumuman tentang sebuah kegiatan pendampingan anak-anak kecil di YSI yang sedang membutuhkan relawan untuk ikut aktif di dalamnya.

“Wah, bagus nih”, pikirku dalam hati. Ada baiknya aku coba, lagipula aku sedang tidak banyak kegiatan waktu itu. Hanya mengurus salah organisasi perkumpulan mahasiswa Lampung dan menulis skripsi. Niat pulang kuurungkan, aku kembali lagi ke dalam.

“Mbak, maaf mengganggu lagi. Aku baca selembaran Suara Hati yang ditempel di depan. Kalau mau ikut gimana caranya ya?” tanyaku.

“Oh, kalau itu mas datang aja besok jam 4 sore, ketemu mas Ryan atau Mas Romi,” jawabnya.

“Oh, gitu ya. Ya sudah mbak, makasih,” kataku.

Aku lalu kembali bergegas ke arah motor. Pulang.

ESOKNYA, tepat pukul 4. Aku sudah berada di halaman muka YSI lagi. Dengan misi lain: ikut Suara Hati. Dari mula aku baca nama kelompok relawan itu, entah kenapa aku langsung suka. Namanya terdengar seksi, serupa judul lagu Iwan Fals, salah satu musisi Indonesia yang lirik lagunya kusuka.

Aih, rupanya lebih ramai kalau sore. Di sudut selatan, dua orang kekasih sedang bercengkrama dengan akrabnya, si jejaka menggendong bayi lucu (yang akhirnya kutahu bernama Fauzan), sedang yang mojang berdiri di sampingnya, sambil sesekali “berdialog” dan mencubiti gemas pipi si adik bayi.

Di lain sudut, bayi-bayi lain sedang digendong juga oleh pengunjung yang banyak datang. Anak yang sudah agak besar, berlalu lalang berkejar-kejaran.

Hari itu minggu, dan rupanya ini hari sibuk di Sayap Ibu. Banyak pengunjung. Kucari “Si Mbak”, setelah kutemukan langsung saja kusapa. “Halo mbak, aku yang kemarin ke sini. Eh iya, yang namanya Ryan dan Romi yang mana ya?”.

“Oh. Mas to. Yang itu mas,” sahutnya sembari menunjuk pada seorang lelaki yang rupanya bernama Ryan yang sedang menggendong seorang anak kecil yang juga imut (yang ini bernama Valent). Kuhampiri dan langsung aku memperkenalkan diri serta menyatakan maksud kedatanganku.

“Oh iya. Silahkan mas isi formulir aja,” kata Ryan. Entah Ryan masih ingat atau tidak awal mula kami jumpa. Yang pasti semenjak itu aku “resmi” bergabung dengan kawan-kawan di Suara Hati.

SUARA hati didirikan sekitar akhir 2006. Oleh beberapa orang yang terlanjur “ediktit” (baca: kecanduan) dengan tingkah laku dan polah lugu anak-anak kecil di Sayap Ibu. Memang, setelah kualami sendiri, senyuman dan tawa anak-anak ternyata memiliki efek sihir, bak mantra dukun tua. Idenya, mengumpulkan relawan untuk mendidik serta mengasuh anak-anak di Sayap Ibu. Simsalabim: tercipta Suara Hati.

Suara hati serupa organisasi. Hierarki sudah ada, ketua, sekretaris, bendahara. Tapi entah bisa dibilang organisasi atau tidak, belum ada AD- ART dan sebagainya, perangkat awal organisasi. Aku juga waktu itu tidak tertarik untuk bertanya mengenai ini. Yah, lagi pula mungkin lebih baik jika Suara Hati tidak “di- organ- kan”. Nanti ketulusannya menghilang, ditelan tetek bengek organisasi yang njelimet.

Anggotanya, jika tidak salah ingat, hampir 50-an. Data ini kudapat dari Edo, juga anggota Suara Hati ketika perayaan kelahiran Suara Hati. Tapi yang aktif hanya sekitar 20an orang (aku termasuk yang tidak aktif, haha ). Anggotanya kebanyakan mahasiswa, yang tertarik bergabung dengan alasan beragam. Tapi mungkin satu alasan yang dapat merangkum semuanya: menyumbangkan sedikit tenaga untuk kemanusiaan. Rata-rata mereka menyempatkan 2 hari dalam kesibukan mereka dalam seminggu untuk datang dan bercengkrama dengan anak-anak yang kulihat gembira kala mereka hadir, manja.

Kegiatan yang sempat aku ikuti, mengajari anak-anak menggambar dan berhitung. Yang lebih sering: menggendong adik-adik bayi, memberinya manakn atau mencoba menggati popoknya yang basah karena air seni. Itupun hanya dua bulan, setelah itu aku banyak kesibukan. Seliweran ke sana-sini, serta bergumul dengan teks skripsi yang tak kunjung selesai.

November 2007, setelah 3 bulan menghilang, aku muncul lagi di Sayap Ibu, dan tentu Suara Hati. Rindu rasanya dengan tangis dan tawa anak-anak kecil di situ, yang kadang secara ajaib dapat mengobati kejenuhan atau pusing kepala yang sering tiba-tiba datang. Bertemu kembali dengan Ryan, Romi, dan Edo. Tiga bujang di Suara Hati yang namanya kuingat dengan kuat. Rupanya mereka tetap aktif di Suara Hati kala itu. Datang saban sore untuk membagi sedikit tenaga yang mereka punya. Salut untuk kalian, kawan.

Yang lain aku lupa. Terlebih yang perempuan, susah sekali mengingat nama mereka. Lagipula, aku waktu itu aku tidak terlalu akrab dengan mereka, karena agak minder bergaul dengan wanita. Terlebih yang cantik rupa. (Hahaha, lebai abis). Lagipula, dulu budaya mereka agak lain denganku. Mereka senang nongkrong di Mall selepas dari Sayap Ibu. Aku beberapa kali mereka ajak. Tapi aku memilih langsung pulang saja.

Ada kejadian lucu tentang mereka. Waktu itu aku sempat diajak berkumpul oleh empat sekawan Suara Hati: Ryan, Romi, Vita, dan Tia, setelah dari Sayap Ibu. Kami ke daerah Seturan, dekat kampus STIE YKPN. Rupanya mereka berolahraga, renang. Aku tidak membawa celana pengganti, jadi aku tidak ikut mereka membenamkan diri ke dalam kolam. Aku sedikit berbicara dengan mereka ketika mereka sedang berenang. Tapi tiba-tiba kebiasaan yang dulu mulai menjadi budaya karena ada beberapa masalah dan skripsi yang tak kunjung kelar datang kembali: bengong. Sementara mereka terus asik berenang.

Lucunya, ketika sedang di pinggir kolam aku menemukan mainan baru, botol mineral dan air kolam. Iseng saja, kumasukkan dan kukeluarkan air ke dalam botol secara berulang-ulang. Nah, pada saat itu aku sadari airnya berbau tawas, pemutih. Untuk meyakinkan, kutuangkan sedikit airnya kearah muka untuk mencium langsung baunya. Dua sekawan, Tia dan Vita sontak berteriak.

“Ih, Arie jorok!! Jangan diminum airnya!” seru mereka, kompak. Rupanya sedari tadi mereka memerhatikan aku yang terbengong-bengong sendirian di pinggir kolam. Dan mereka salah paham, mengira aku hendak meminum air kolam.

Sejurus kemudian, lamat-lamat kudengar kembali Vita dan Tia “Rom, temanmu satu itu ANEH ya.” Aku tak hiraukan omongan mereka. Tetapi merutuk dalam hati: “Gua ga aneh woi! Tapi GILA. Hahaha.”

HAMPIR dua tahun aku tak lagi bertandang ke YSI. Tak lagi aktif di Suara Hati. Tak lagi mendengar isak tangis atau tawa gelak mereka yang dulu jadi obat ampuh untuk menghapus kelelahan dan kegelisahan.

Kini aku sudah lulus. Tidak lagi dipusingkan dengan skripsi. Pekerjaan, jodoh, remeh temeh hidup, atau mungkin mati, kini mulai jadi hal-hal baru yang sering mengganjal di kepala tiba-tiba.

Aku kerap mengingat kembali nama-nama mereka di saat-saat seperti ini: Valen, Agus, Fauzan, Juwita, Mamat, Tomo, Ito, Nugroho. Entah mereka sudah sebesar mana sekarang. Terakhir, aku tahu Ito telah dipindahkan ke Yayasan Sayap Ibu di Desa Kadirojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman
Yogyakarta, dan Juwita telah diadopsi sebuah keluarga. Lalu entah pula di mana Romi, Ryan, Vita, Tia, Edo, atau kawan-kawan lain. Yang pasti, pengalaman sejenak bersama kalian adalah sebuah kesenangan yang tak terlupakan.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pengharapan:

Soe Hok Gie berkata bahwa nasib yang paling baik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua. Mungkin ada benarnya, tapi:

Persetan, aku ingin mati tua hingga
melihat kalian kawan-kawan kecilku
tumbuh dewasa dan berdiri tegak,

mengacungkan tinju kalian pada
kesombongan dunia,
melihat kalian menggenggam cahaya
yang dipercikkan surga.

Aku ingin berumur tua,
melihat kalian tumbuh besar,
berbicara macam-macam
tentang benci
juga cinta.

Ketika itu telah berlaku,
maukah kalian datang
ke pemakamanku yang kini mulai
dihantui ketakutan akan tua
dan kematian,
kawan?



Lampung, Juli 2009. Pagi buta.
Untuk kawan-kawan kecilku di Yayasan Sayap Ibu.

Sabtu, Juli 12, 2008

SENANG MEMILIKIMU, PHOENIX

Cerita Tentang Pengalaman Saya Bersepeda.

Oleh: Arie Oktara

11 JULI 2008. Sudah tiga hari ini saya bersepeda. Alasannya sederhana, saya butuh kendaraan untuk transportasi. Ban sepeda motor saya, Shogun hijau tahun 1999 (saya menamainya Menur) bocor. Entah kenapa, saya benar-benar malas untuk menambalnya. Sudah dua kali bocor, jadi saya pikir memang sudah saatnya ganti.

Tiga hari kemarin, saya main ke Asrama Mahasiswa Lampung, di Jalan Pakuningratan Nomor 7 Yogyakarta. Waktu hari mulai sore, telepon genggam saya berbunyi. Rupanya ada sms dari Dita, salah seorang kawan, cukup akrab. Kami membuka warung kopi bersama-sama, dengan tiga kawan lain, Sodik, Weli, dan Sendi. Rupanya Dita sedang sakit, dan mengusulkan untuk meliburkan warung kopi sehari saja.

Saya bingung, malam ini ada beberapa kawan yang berjanji datang ke warung. Tapi karena Weli dan Sodik belum ada di Yogyakarta, masih di Lampung (Ayah Weli sedang sakit, dan kerabat Sodik melangsungkan pernikahan), dan agak berat kalau cuma kerja berdua, akhirnya saya setujui usul Dita. Lagipula agak cape hari itu.

Saya bergegas ke kamar Sendi. Kamar kedua di sebelah Utara, lantai satu Asrama. Pintunya tertutup. Walau tidak dikunci, pintu kamarnya tidak bisa dibuka dari luar. Kuncinya rusak, jadi harus dibuka dengan anak kunci, atau dibuka dari dalam. Saya ketuk berkali-kali, tapi tidak juga ada jawaban. Pintu kamar tidak juga terbuka. Sendi kalau sedang tidur, gempa bumi pun susah membangunkan. Cara terakhir, lewat jendela depan. Setelah badannya saya goyang-goyangkan dari jendela, akhirnya Sendi bangun.

“Sen, Dita sakit. Warung libur aja?” Tanya saya sambil memperlihatkan telepon genggam.

Dia membaca sms sebentar.

“Hooh,” jawab Sendi sambil memutar badan membelakangi saya dan langsung tidur lagi. Luar biasa memang prestasi Sendi kalau urusan tidur.

Sesaat kemudian saya bingung lagi, malam ini tidak ada rencana kemana-mana. Akhirnya saya sms beberapa orang kawan. Perempuan tentu saja. Saya ajak mereka keluar. Ternyata semuanya ada acara. Harapan saya memanfaatkan waktu libur keluar dengan cewekpun gagal. Pilihan terakhir hanya satu tempat: kos Didik. Sudah lama juga tidak kesana.

“Kesana ah,” pikir saya .

Tapi kebingungan datang lagi. Naik apa? Saya ingat, Sepertinya ada sepeda tidak terpakai di Garasi asrama. Ternyata benar. Di sana saya lihat ada empat sepeda yang tidak terpakai. Terbengkalai, kotor bahkan. Dua sepeda balap (hijau dan merah), satu sepeda onthel, dan sepeda federal biasa.

Sepeda balap merah kepunyaan Asrowi, yang hijau kepunyaan Novan. Asrowi mudik ke Lampung, ada acara keluarga. Novan ke Pare, kursus bahasa Inggris, memanfaatkan libur kuliah. Sepeda milik Asrowi kondisinya lumayan, cuma ban depan agak gundul. Sepeda balap kepunyaan Novan kondisinya lebih baik dari kepunyaan Asrowi. Penampilannya masih terlihat sangar. Tapi waktu saya coba menaikinya, ternyata rantainya bermasalah. Tidak bisa berputar, rusak. Sepeda onthel milik Erwin (dia biasa dipanggil Jabrik) kondisinya parah. Stangnya sudah tidak simetris, joknya sudah goyang, di sana- sini karat, pokoknya perlu perjuangan keras untuk bisa mengendarainya dengan baik. Sepeda federal, saya tidak tahu siapa yang punya. Akhirnya,saya memutuskan untuk memakai sepeda Asrowi untuk ke kosan Didik.

KOSAN Didik di Jalan Kaliurang Km 4,5. Di depan Bank Bukopin Jalan Kaliurang ada swalayan Gading Mas. Tepat di samping selatan Gading Mas ada jalan masuk. Itu jalan ke kosan Didik. Lurus saja sampai ketemu turunan. Di awal turunan ada Fotokopi di sebelah selatan. Belok kanan di depannya, lalu belok kiri, sampai kosannya. Nomor G 5. Agak jauh dari asrama. Kalau dihitung-hitung sekitar 7 kilometer. Saya bersepeda kesana.

Sepeda Asrowi ternyata masih enak dipakai. Di jalan menuju kos Didik, saya beberapa kali berdiri dan mengayuh sepeda seperti berlari, agar lajunya kencang. Euforia barang baru. Haha.

Dan ternyata, naik sepeda itu menyenangkan. Apalagi kalau sembari mendengar musik. Waktu seperti berhenti. Gerak benda di sekitar kita seperti lebih lambat. Dan kita, dengan sepeda, seperti melaju lebih cepat. Berlebih memang deskripsinya, tapi itu yang saya rasakan.

Yang bikin susah saat bersepeda, tentu saja asap kendaraan. Wah, jengkel rasanya kalau sedang di belakang bis kota. Kadang kaget asap tiba-tiba mengepul tanpa aba-aba. Paru-paru langsung sesak karena terlalu banyak menghirup karbon dari asap bis yang hitam. Indonesia memang tidak bersahabat dengan alam. Setahu saya tidak ada peraturan yang mencantumkan berapa tahun maksimal kendaraan masih bisa dipakai di jalan raya. Hasilnya, mobil-mobil dan motor-motor tua yang seharusnya sudah pensiun masih merajalela di jalanan. Dan tentu saja, tidak lagi bersahabat dengan alam. Sumber polusi.

Dari asrama Lampung ke kosan Didik di Jalan Kaliurang, suasana yang paling asik saya rasa ketika melewati jembatan di Jetis. Kalau naik sepeda, tidak seperti mobil dan motor, kita bisa agak merapat ke pinggir jalan. Bahkan naik ke atas trotoar. Dari atas jembatan, pemandangan ke arah sungai benar-benar membuat hati saya damai. Walaupun air sungainya berwarna coklat. Tapi tetap saja, damai.

Di jalan, saya menyadari satu keadaan. Keangkuhan. Ternyata benar kalau kita memiliki lebih banyak dari orang lain, gigantisme, perasaan angkuh dan merasa lebih, merasuk. Beberapa mobil dan motor berkali-kali membunyikan klakson hanya karena saya terlalu lambat mengayuh sepeda. Padahal, saya sudah meminggirkan sepeda saya.

Awalnya, satu-dua kendaraan masih saya acuhkan. Tapi lama-lama kesal juga. Akhirnya ketika kendaraan ketiga, mobil Jazz plat B berwarna merah membunyikan klakson berulang-ulang dari belakang. Saya langsung merapatkan jari-jari ke arah dalam, menyisakan jari tengah, dan menunjukkannya ke arah mobil sambil berteriak: “ASU!!”

Tidak sesuai dengan perkiraan saya, suara klakson tidak berhenti, malah makin menjadi. Saya ngeri saja, tiba-tiba di tabrak dari belakang. Untung saja di depan ada jalan masuk ke arah Fakultas Farmasi UGM, saya langsung berbelok dan berhenti sebentar. Memandangi mobil Jazz merah. Pengemudinya (ternyata perempuan muda) menengok ke arah saya sambil menunjukkan juga jari tengahnya. Dasar, tak mau kalah.

Keadaan aman. Perjalanan kembali saya lanjutkan. Setelah sepuluh menit kembali mengayuh sepeda, saya sampai di kosan Didik.

Di kamarnya, Didik sedang mengutak atik gambar di Laptop. Dia sedang mendesain sesuatu. Didik memang tidak bisa dilepaskan dari komputer, dia seorang hacker.

Dulu dia sempat nakal. Kenakalan pertamanya waktu kelas 5 Sekolah Dasar. Orangtuanya pernah dipusingkan karena Didik berurusan dengan polisi. Dia “iseng” masuk ke sistem komputer PLN Bandar Lampung dan mengacak programnya. Hasilnya, aliran listrik di Bandar Lampung terputus selama seminggu. Masalahnya ternyata sepele. Aliran listrik di rumah Leonardo kawannya ketika kecil diputus. Didik kesal dan balas dendam ke PLN. Didik Kini Didik sudah tobat. Dia bekerja di Pantau sebagai web master.

“Halah, masih inget lu jalan kesini?” kata Didik. Saya cuma tersenyum.

“Wuih, banyak duit lu sepeda baru,” katanya. “Ga, sepeda temen,” jawab saya.

Saya masuk dan ngobrol ngalor ngidul dengan Didik. Ada Ian juga disitu, juga kawan saya.

Waktu semakin malam, segelas kopi dan berbatang-batang rokok sudah habis. Jam sepuluh malam saya pamit.

“Ngopi ga? Tika minta dianter ke kopi joss,” tanya saya. Waktu di jalan menuju kos Didik, Tika, kontributor tvOne dari Palopo Sulawesi Selatan, teman yang saya kenal di kursus narasi Pantau yang saya ikuti mengirim sms. Dia minta di antar ke angkringan Lik Man yang terkenal dengan kopi yang di campur dengan arang, di Utara Stasiun Tugu. Saya menyanggupi.

“Ga boy, ngantuk gua” katanya. Saya pun pergi. Ke kosan Tika, di daerah Seturan.

Saya ke Seturan lewat Selokan Mataram. Jalannya banyak yang rusak. Lumayan berat buat saya yang baru mulai bersepeda. Terlebih sepeda balap yang saya pinjam ban depannya sudah gundul. Saya beberapa kali berhenti, menunggu mobil atau motor lewat. Selain rusak, beberapa sudut jalan gelap. Karena itu, saya mengandalkan cahaya dari kendaraan yang melaju di situ.

Dua puluh menit kemudian saya sampai. Dari kosan Tika, kami naik motor ke Code. Kami tidak jadi ke angkringan Lik Man. “Ke Code aja, udah lama ga ke sana,” kata saya pada Tika. Sepeda saya titipkan di sana.

Pulang dari Code, dari Seturan saya lewat jalan yang sama. Jalanan sudah sepi. Beberapa kali sepeda yang saya tumpangi masuk lubang. Untungnya tidak sampai jatuh. Sebelum melewati jembatan di Selokan Mataram, saya dikagetkan dengan salakan dua anjing. Mereka ditaruh pemiliknya di halaman rumah. Pagar rumahnya pendek. Anjing yang lebih besar, sepertinya berjenis herder terlihat seperti ingin melompati pagar. Binatang yang saya takuti ada dua, anjing galak dan tikus besar. Saya mempercepat laju sepeda.

Badan sudah letih, tidak kuat rasanya menggenjot sepeda ke Asrama Lampung. Saya ke kosan Didik dan menginap di sana.

DUA hari kemudian, saya menginap di Asrama Lampung. Setelah bangun dan merokok, sekitar jam dua siang hasrat bersepeda kembali bergejolak. Saya ke garasi mengambil sepeda dan mengayuhnya keluar asrama, tanpa punya tujuan. Di Tugu, saya punya ide untuk ke Terminal Terban. Saya ingat seorang kawan pernah memberitahu di belakang terminal ada toko sepeda bekas. Saya pikir tidak ada salahnya lihat-lihat. Siapa tahu ada sepeda murah.

Di Terban, saya tidak melihat satupun toko sepeda. Seorang ibu sedang merokok dengan asiknya di pinggir tumpukan sampah. Saya bertanya padanya. “Bu, tempat jual sepeda di sini di mana ya?” Kata saya. “Ga ada mas, coba cari ke Utara,” timpal si Ibu. Setelah berterimakasih, saya mengarah ke Utara. Ternyata sampai di Mirota Kampus, tidak ada toko sepeda. Saya kecewa, tapi masih ingin mencari sepeda. Perjalanan saya lanjutkan.

UGM, Kolombo, Demangan, dan tak terasa, sudah sampai depan Universitas Islam Negeri (UIN) di Jalan Solo. Tempat jual sepeda tidak juga saya lihat.

Sepeda terus saya kayuh. Setelah melewati jembatan di depan UIN, sekitar dua ratus meter di sebelah utara dari kejauhan saya lihat ada banyak sepeda anak kecil yang digantung. Akhirnya, ketemu juga.

Sepeda balap saya parkir. Dengan langkah pasti saya masuki toko sepeda. Dua orang lelaki sedang menyetel sepeda. Di dalam, banyak sepeda bagus. Tapi perhatian saya langsung mengarah ke tiga sepeda gunung yang disusun sejajar menghadap selatan. Sepeda gunung dengan stang tambahan yang menyerupai tanduk. Sangar, itu kesan pertama saya ketika melihat ketiganya.

Setelah sejenak melihat-lihat, saya hampiri seorang bapak tua. Rambutnya sudah memutih. Dari wajahnya, dia keturunan Tionghoa. Si bapak duduk di bangku menghadap meja dengan kertas kuitansi yang bertumpuk di atasnya. Sedang sibuk memencet-mencet tombol kalkulator.

“Yang itu berapa pak?” Tanya saya sambil menunjuk ke tiga sepeda gunung.

“Sing loro wolu ngatus. Sijine pitu ngatus,” jawabnya.

“Mahal amat,” kata saya lagi.

“Memang segitu mas,” katanya acuh.

“Wah, ga bawa duit segitu e pak,” kata saya sambil mengeluarkan uang yang ada di kantong depan celana. “Tuh,” saya tunjukkan dua lembar uang seratus ribu dan dua lembar uang lima puluh ribu.

“Yo, De Pe wae ra popo. Sisuk lunasi,” timpal bapak itu.

Saya berpikir agak lama. Saya ingat kalau tidak salah uang di kamar masih ada sekitar empat ratus ribu rupiah.

“Enam wis sing pitu ngatus,” kata saya. Bapak itu tersenyum.

“Ra iso e mas, saiki munggah kabeh. Kui barang terakhir,” katanya sambil menunjuk sepeda yang dihargainya tujuh ratus ribu rupiah.

Saya terus saja menawar. Tak terasa sudah hampir satu jam. Akhirnya setelah agak lama itu bapak itu menyerah. “Yo wis, enam atus selawe,” katanya. Saya setuju. Saya berikan uang tiga ratus ribu sebagai tanda jadi. Saya pulang bersepeda. Senang, akhirnya bakal punya sepeda baru. Tapi bingung, uang yang saya pakai untuk beli sepeda adalah jatah saya bulan ini. Sepertinya hari-hari kedepan pasti susah makan.

BESOKNYA, tanggal 11 Juli 2008. Saya bangun dengan segar. Walaupun tidak salat Jumat saya senang, hari ini saya mengambil sepeda.

Saya segera mencari Bang Iwan. Dia saudara jauh saya, tinggal di Asrama Lampung. Kemarin sepulang dari toko sepeda, saya cerita kepadanya kalau baru saja membeli sepeda baru dengan uang jajan.

“Hahaha, goblok,” katanya.

“Iya. Tapi biarin aja, udah terlanjut gua beli. Lu besok anterin gua ambil sepeda ya,” pinta saya.

“Ga tahu nih, gua kebelet bener tadi pengen beli sepeda,” kata saya lagi.

“Iya, tapi liat kondisi geh. Lu dari dulu begitu, kalo ada mau ga bisa entar-entar,” jawabnya.

“Udah, anterin aja,” kata saya. Dia tersenyum.

“Iya,” katanya.

Saya dan dia akhirnya berangkat ke Jalan Solo.

Uang tiga ratus dua puluh lima ribu saya berikan untuk melunasi sepeda itu. Sepeda gunung warna merah hitam, merk Phoenix. Seperti nama burung yang dalam mitos punya ekor dari api. Gearnya ada enam, dan ada persnellingnya. Mantap berkendara di atasnya. Dan yang paling saya banggakan selama dua hari sepeda itu menjadi milik saya, adalah benda bulat yang menempel di sebelah kiri ban depan.

“Ada cakramnya,” kata saya ke setiap kawan yang melihat sepeda baru saya.

Ada kawan yang menjawab begini: “Bagus sih sepedanya. Tapi lu ga bisa makan goblok.”

Saya cuma menjawabnya tenang: “Ya bisalah, kan bisa keliling kosan temen pake sepeda.”

Sepeda baru, semangat baru. Tapi ada satu hal yang mengganggu. Bagaimana nasib si Menur ke depan. Jelek-jelek begitu, dia sudah menemani saya sejak lama.

Tadi malam, selagi asik mengetik di warung. Bemi kawan yang tinggal satu tempat dengan saya, Asrama Lampung Selatan di Bangirejo mengirim sms ke telepon genggam saya.

“Bang, motor masih mau lo pake? Kalo gua bayarin ban depan lo gimana? Kan lo dah punya sepeda,” katanya.

Sedikit kesal saya jawab: “Gua masih punya duit”

Udara pagi makin dingin. Tak terasa sudah jam tiga. Setelah benah-benah warung, saya bergegas menghampiri si Phoenix. Melihatnya sebentar, dan kembali berkendara.

Sabtu, Juli 05, 2008

Sendi Dan Gitar Suzuki

Profil seorang sahabat, tentang mimpi dan dinamika hidupnya

Oleh: Arie Oktara

SENDI belum juga masuk Taman Kanak-kanak (TK). Tapi ia sudah tahu bahwa kesenian adalah hidupnya. Ia senang menggambar. Berpuluh-puluh buku gambar dan pensil warna ia habiskan untuk kesenangannya itu. Tahun 1989, ketika itu ia berumur 5 tahun. Ayahnya mengantarkannya ke TK Aisyah Bushtanul Athfal Bandar Lampung. Di sini, kegemarannya menggambar makin menguat. Dan ternyata ia berbakat. Ia kerap mewakili TK nya ketika ada lomba menggambar. Kelas 3 Sekolah Dasar, ia mulai melukis memakai kuas.

Sendi menghabiskan masa kecilnya di Kaliawi, tepatnya di Jalan Haji Agus Salim Gang Haji M Ali No 43 Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung. Sebuah perkampungan orang-orang Serang di Lampung. Mayoritas warga kampung ini miskin. Karenanya, lingkungannya keras. Karakteristik kampung ini berpengaruh ke dirinya. Selain senang menggambar, sendi kecil juga senang berjudi.

”Dari sebelum sekolah, gua udah kenal maen koprok,” ujarnya santai sambil tertawa.

Selain itu, Sendi kecil juga senang berkelahi.

”Biasalah, lu pasti udah pernah ngeliat anak-anak di lingkungan orang Serang. Gua juga begitu. Ngejer layangan terus berantem sampe pala’ bocor gara-gara satu layangan,” ujarnya.

”Sedikit nakallah,” sambungnya sambil menghisap dalam-dalam rokok kretek Sampoerna Hijau yang tinggal setengah. ”Namanya juga anak kecil,” sambungnya lagi.

Namun siapa sangka, kenakalannya ketika kecil ternyata justru membuatnya menemukan bakatnya yang lain, musik. Sendi ingat, waktu itu ia hampir naik kelas 6 Sekolah Dasar dan mulai senang nongkrong dengan pemuda-pemuda kampung.

”Gua seneng liat dia orang[1] maen gitar,” katanya.

”Awalnya cuma ikut nyanyi-nyanyi doang. Tapi entah kenapa akhirnya pengen belajar,” lanjut Sendi.

Sendi pun meminta orangtuanya untuk membelikan gitar. Orangtuanya tidak mengabulkan, ia dimarahi. Sendi sedih, tapi tekadnya untuk belajar gitar sudah bulat. Sendi pun memberanikan diri untuk meminjam gitar pada pemuda-pemuda kampung. Namun ia diremehkan.

”Udah sih sana anak kecil,” ujar pemuda-pemuda kampung.

Sendi tak goyah. Ia tetap bersikeras meminjam gitar dan diajarkan bermain gitar sampai akhirnya mereka menuruti kemauannya. Sendi senang, gitar ia bawa pulang dan mulai belajar. Frekuensi nongkrongnya mulai ia tingkatkan. Perlahan ia mulai bisa bermain gitar.

”Pertama kali gua bisa maen gitar itu lagu Isabella,” kenangnya sambil tersenyum geli.

Ia tidak ingat siapa yang menyanyikan lagu itu. Ia hanya ingat rambut gondrong penyanyinya.

”Pokoknya waktu itu lagi jamannya lagu-lagu Malaysia,” ia menambahkan. Senyumnya makin lebar.

Gitar mulai menjadi teman baru Sendi. Buku gambar, pensil warna, serta kuas ia tinggalkan. Karena hobinya yang baru itu, nongkrong sambil bermain gitar dengan pemuda-pemuda di kampungnya, Sendi melupakan rutinitas lamanya: mengejar layangan, meski tetap suka berkelahi. Karena hobinya itu pula, Sendi sampai tak punya waktu lagi untuk berjudi. Anak kecil itu sudah punya prioritas. Nongkrong, bermain gitar, dan sesekali menghisap rokok. ”Bujang-bujang itu biasanya nongkrongnya malem,” kata Sendi.

TAHUN 1999. Ini tahun ketiga Sendi bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 9 Bandar Lampung. Sebentar lagi ia akan menghadapi Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Ia gelisah, hatinya tidak tenang. Rupanya, bukan karena ujian akhir sekolah. Tapi karena ia belum juga memunyai gitar. Dia ingin sekali memiliki gitar, kepunyaannya sendiri. Sudah 3 tahun ia bisa bermain gitar, tapi masih pinjam sana-sini. Ini benar-benar mengganggu dirinya. Dan ia benar-benar meyakinkan diri bahwa tak ada obat lain untuk menenangkan pikirannya. Hanya gitar. Tidak perlu baru, pikirnya. Ia pun memulai pencarian. Sampai akhirnya sebuah gitar bermerk Suzuki menarik perhatiannya.

Sendi menghadap orangtuanya dan menyatakan keinginannya untuk membeli gitar itu. Sendi lupa, profesi ayah dan emaknya adalah guru Sekolah Dasar. Sedangkan EBTANAS semakin dekat. Mereka cemas, musik lebih Sendi pentingkan dari pendidikan. Seperti permintaan pertamanya, permintaan keduanya pun tidak dikabulkan.

”Sudah, nanti dulu. EBTANASnya lewatin dulu,” kata orang tua Sendi.

”Ga bisa, nanti ini laku. Diambil orang,” ujar Sendi mengulang adegan pertengkaran dengan orangtuanya.

”Pokoknya sampe ngambek-ngambekanlah. Gua sampe hampir ga negor orang tua gara-gara gitar itu,” ujarnya pelan.

Akhirnya orangtuanya mengalah. Uang untuk membeli gitar terpaksa diberikan. Ada dua alasan menurut Sendi. Yang pertama karena melihat keinginannya yang sangat besar untuk memiliki gitar. ”Gua dulu pas minjem gitar itu, gua sampe tidur dengan gitar. Gua kelonin tidur berhari-hari,” ujar Sendi sambil melingkarkan kedua tangannya dan memiringkan kepalanya ke arah kiri. Yang kedua: EBTANAS tinggal tunggu tanggal.

Namun bagaimanapun, Sendi menang. Setelah lama menunggu, penantiannya berakhir sudah. Gitar akustik Suzuki impiannya, yang tipenya tidak ia ingat lagi sudah ada dalam genggaman.

”Gitar itu gua beli second. Harganya 25 ribu. Stangnya udah patah. Stangnya udah banyak pakunya pokoknya,” Sendi bercerita dengan semangat.

Sampai sekarang, gitar itu masih dia simpan dengan baik di rumahnya di Lampung. Beberapa orang sepupunya sempat ingin mengambil gitar itu karena sayang melihatnya tidak terpakai. Tapi sendi tidak membolehkan.

”Mending[2] gua kasihin gitar gua yang sekarang daripada gitar itu,” ujarnya serius.

”Sejarahnya yang gua ambil,” kata Sendi kemudian, pelan.

Setelah memiliki gitar sendiri, Sendi makin giat berlatih. Niatnya makin kuat untuk menjadi seorang musisi handal.

TAHUN 2002. Sendi hijrah ke Yogyakarta. Meninggalkan Lampung dan gitar Suzukinya. Anehnya, bukan untuk bermusik, melainkan menuntut ilmu di jurusan Teknik Elektro AKPRIND Yogyakarta. Menuruti kemauan orangtuanya. Orangtuanya senang, sendi bukan lagi seorang calon musisi, ia calon insinyur.

Tahun 2006, aku kira ia hanya digoda ketika ia dipanggil ”junior” oleh Andri, kawannya.

”Woy mahasiswa baru!” teriak Andri memanggil Sendi.

Sendi hanya tersenyum. Malam itu ia mengenakan topi hitam berbordirkan gambar logo Institut Seni Indonesia. Wajahnya cerah. Ternyata ia diterima di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, di Jurusan Etno- Musikologi.

17 Juni 2008. Malam itu Sendi tidak datang ke warung kopi Cangkir 70, warung kopi yang terletak di sebelah timur Komplek H Perumahan Angkatan Udara Republik Indonesia Janti, tempatnya bekerja. Ia libur. Ternyata ia di Alun-alun Selatan. Sedang ada pengajian Padang Bulan[3], pengajian dengan konsep menarik, saya dan beberapa kawan menyebutnya ”pengajian tanpa ngaji”. Menghubungkan diskusi, agama, dan musik yang diadakan oleh Emha Ainun Najib setiap tanggal 17 setiap bulannya. Sobaya, komunitas musik beranggotakan mahasiswa-mahasiswa ISI yang mengusung nasyid etnik, tempat ia sekarang getol berproses menjadi salah satu pendukung acara. Ia bermain biola malam ini. Alat musik yang mulai ia tekuni ketika akan mengikuti tes masuk ISI. Alat musik yang semakin hari makin membuat ia jatuh cinta. Walau begitu, gitar tetap ia mainkan.

21 Juni 2008. Pukul 20.00 saya sampai di warung kopi Cangkir 70. Warung masih sepi. Hanya dua pengunjung yang ada diwarung saat saya datang. Dua wanita yang asik berbincang diatas pondok bambu yang bermandikan sinar merah lampu. Sendi sudah di sana. Duduk di atas amben bambu di bagian selatan warung memakai kaus biru tanpa kerah bertuliskan ”SABURAI CUP 2007” dan celana hijau panjang bermotif loreng. Dia sedang menonton acara TV melalui layar putih 2x2 meter yang dipasang untuk nonton bareng EURO 2008, pertandingan sepakbola terbesar kedua sejagat. Setelah piala dunia tentu saja. Malam ini Belanda akan melawan Rusia.

Malam mulai merangkak, satu persatu pengunjung mulai memenuhi warung. Sejenak, ia sibuk melayani pesanan. Ketika ia sedang tidak melayani tamu, saya ajak dia mengobrol. Tentang proses bermusik yang telah ia jalani. Banyak hal yang ia ceritakan. Dan saya semakin mengenalnya. Paling tidak semakin yakin bahwa ia benar-benar memilih musik sebagai pilihan final untuk hidupnya. Ia kini tidak hanya memiliki gitar Suzuki. Ia sudah punya gitar akustik yang jauh lebih bagus dari gitar Suzuki, gitar elektrik, Sasando, Rebab, Suling Bali, Suling Lombok, Slompret Sunda, ,Saluang, Banzi, dan terakhir, alat musik yang paling dia sayang dan paling ingin ia kuasai: biola. Ia biasa memainkan biola itu dibelakang warung kopi ketika pengunjung sedang sepi. Kesemua alat musik itu ia kumpulkan dengan susah payah. Dari mengamen dan bayarannya ketika manggung.

Ia agak lama menjawab ketika aku tanya kepadanya: ”Sen, gimana kalau proses yang udah lu jalanin dimusik ternyata ga jadiin lu orang yang sukses menurut pengertian umum?”

Sesaat ia menjawab pelan: ”Resiko, itu udah pilihan. Minimal gua bisa makan. Kalau gua ga sukses dimusik, ya udah.”

”Tapi gua yakin, yang ‘di atas’ ngeliat proses gua”, katanya.

”Trus, gimana kuliah lu di teknik dan harapan orang tua lu?”

”Gua bakalan ambil jalan tengahnya” kata Sendi.

”Gua bakalan cari benang merah antara teknik yang gua ambil dengan seni yang gua ambil,” ujarnya lagi.

”Dan mungkin itu bisa jadi masterpiece gua”

Arie Oktara

[1] Mereka. Panggilan khas di Lampung.

[2] Lebih baik

[3] Bahasa jawa, artinya terang bulan.