Jumat, Desember 25, 2009

Tralala Trilili


Sebuah komunitas sastra di Jogja, Komunitas Tanpa Nama (KTN) ingin menerbitkan buku, sebagai pengikat komunitas mereka. Lalu mereka sepakat mengumpulkan tulisan berupa sejumlah puisi, cerpen, essai, flash fiction dan lain sebagainya. Kebetulan di antara mereka beberapa ada yang bekerja di penerbitan buku, sebagai editor, jadi untuk cover, editing, froofing, mereka menggunakan kekuatan sendiri, tanpa harus minta bantuan orang lain. Maka setelah bahan-bahan tulisan mereka terkumpul, mereka memutuskan untuk menerbitkan buku itu melalui jalur “Indie Label”. Sangar, kan?


Buku itu diberi judul Tralalatrilili. Dengan semangat menggebu, mereka mendatangi penyair Saut Situmorang ke rumahnya, dan meminta ia memberi sebuah catatan penutup untuk kumpulan tulisan itu. Saut pun setuju, dan memberi sebuah catatan penutup dengan judul Sastra Kampus, Sastra Underground, sebuah essai yang mengkritisi posisi mahasiswa dan corak sastra yang mereka hadirkan di tengah situasi social masyarakatnya.

Alhasil, setelah mengumpulkan sejumlah uang, entah dari tabungan atau uang saku mereka, dan setelah berjuang tak kenal lelah, buku itupun kini telah terbit dan dijualkan pula secara indie oleh mereka. Ada sebelas orang penulis di dalamnya: Arfin Rose, Dimas Prastisto, Mega Aisyah Nirmala, Mega Ayu Krisandi Dewi, Dhaniel Gautama, Arie Oktara, Rizal Fernandez, Amier Chan, Irwan Bajang, Djali Gafur, Anita Sari.

Ini adalah satu lagi bentuk buku indie yang berani tampil di tengah hingar bingar bisnis buku yang semakin market oriented. Penerbit mana yang mau menerbitkan buku kumpulan tulisan dari manusia-manusia tak terkenal seperti mereka ini? Mungkin bagi penerbit, buku ini tak akan memeberi hasil jika diterbitkan, hanya menambah ongkos produksi dan menyurutkan penghasilan. Tapi tidak buat lascar KTN, buku ini adalah sebuah semangat dan sebuah anak bersama yang mereka rawat dan jaga. Sebuah kebanggaan bagi mereka untuk memiliki sebuah buku bersama-sama. Mereka mulai menulis, menerbitkan juga mengedaran buku ini dengan semangat Indie, semangat muda yang menyala-nyala.

Apakah Anda tidak tergugah? Siapkan tulisan Anda dan majulah dengan semangat indie!
Berikut ini, sebuah kata pengantar yang mereka tulis untuk bukunya.

Anak Kami Bernama Tralalatrilili

Barangkali kami tak punya cita-cita yang besar ketika memulai berkumpul dan berproses, lalu berniat untuk melahirkan anak bersama kami ini. Tapi begitulah, kami memang tak punya banyak impian kala itu, selain bermimpi anak kami ini lahir dan bisa bermain bersama orang-orang yang kelak (mau) menjadi teman, sekadar kenalan atau bahkan kelaknya bermusuhan. Kami menjaga setiap proses kelahirannya, memberinya gizi yang (barangkali cukup) seimbang, sembari berdoa, kelak anak kami ini menjadi jejak sejarah keberadaan kami. Menjadi cerita bahwa kami pernah ada dan pernah sedikit bermimpi.
“Kenapa Tralala Trilili?”
“Pertanyaan Anda aneh sekali, tolong jangan tanyakan itu.”
“Kenapa? Saya mau tahu!”
Waduh, baiklah, akan kami coba jawab seadanya. Tralala Trilili barangkali representasi dari imajinasi nakal kami. Imajinasi yang kadang tak terbendung, kadang garing, aneh, gila bahkan konyol dan tak masuk akal. Tapi percayalah jika imajinasi itu kadang kami rindukan sendirian di pojok kamar kami. Kami jadikan bahan hiburan saat sedih dan patah hati. Kami merangkai tulisan-tulisan ini di kamar-kamar kami, ditemani kopi dan insomnia barangkali. Sesekali di kampus, seringnya di warung tempat kami makan, di kantin, di halaman, saat putus cinta,
saat dapat beasiswa, atau saat bersebrangan pilihan dengan pacar, suami atau istri salah satu di antara kami.
Dari situ kami yakin TralalaTrilili ini lahir. Dia bukan anak yang dahsyat, yang jika dibaca akan membuat mata berkaca-kaca, atau membuat kemarahan Anda meledak-ledak. Ia hanyalah kumpulan keceriaan sekaligus kegelisahan. Sebuah perpaduan sifat yang sungguh sangat bertolak belakang. Jadi harap maklum jika seusai (atau bahkan sebelum) membacanya, Anda sudah tidak suka dan ingin menyobek atau membuangnya.
Tapi begitulah, dengan segala kerendahan hati kami, tapi juga dengan penuh kebanggaan, melahirkannya, memberinya nama dan berjanji akan menjaganya. Kelak akan kami asuh di tengah-tengah Anda semua. Kami tak ingin berharap banyak, karena keterbatasan dan ketololan kami. Kami hanya ingin kelak anak kami, Anda dan juga kami mengingat dua kalimat yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar: Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Kami hanya ingin tersenyum menyambutnya. Memperkenalkannya pada banyak orang. Dan tanpa malu mengaku bahwa kamilah bapak dan ibunya.

Salam sehat selalu untuk Anda.

KTN

Lanjut Baca...

Senin, November 16, 2009

Ode Sepi Buat Hari Lahirmu


: SBU

kini, adalah ruang yang sukarela kita masuki,
meski kita tahu, kita tak pernah bisa
kembali.



1>
hari ini kau kembali dipaksa bertanya:

tentang peristiwaperistiwa, tentang selaksa
makna, tentang hakekat, rahasiarahasia
yang melekat abadi pada
usia.

adakah satu yang kau jumpa
jawabnya?


2>
hari ini pula, kau kembali dipaksa berhitung:

sudah berapa sujud yang kau wujud?
berapa telimpuh yang kau tempuh?
berapa rukuk yang kau khusyuk?
berapa takbir yang kau
syair?

angka mana yang tlah tuntas kau
genapkan?


3>
lilinlilin yang kau susun sedemikian
tlah padam sebagian.

percakapanpercakapan yang riuhrendah
di pesta ini hari, tlah pula
dihentikan.

seakan mengisyaratkan bahwa hidup
mesti mengarah ke sepi,
bukan? mengarah ke
mati.

tapi baitbait sajakku ini ingin pula tegaskan,
mulai ini hari, kau takkan
kurelakan sendirian.*


4>
kini, adalah ruang yang sukarela kita masuki,
meski kita tahu, kita tak pernah bisa
kembali.
“tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.~ kita abadi.

ya, tentu saja kita
yang abadi.


5>
selamat hari lahir,
sepi..


Lampung, 17 November 2009


Keterangan:
* Diambil dari sajak Sapardi Djoko Damono, “Pada Suatu Hari Nanti”. Bunyi aslinya: “…/ tapi dalam bait-bait sajak ini/ kau takkan kurelakan sendiri/ …”, dalam Hujan Bulan Juni, Grasindo, cetakan ketiga (2004), hal. 101


~ Diambil dari sajak SDD, “Yang Fana Adalah Waktu”, Hujan Bulan Juni, Grasindo, cetakan ketiga (2004), hal. 77.

Lanjut Baca...

Minggu, November 15, 2009

Masih

Pun, perhelatan yang riuh ini tak
mampu keringkan sepi yang memeluh
di tubuh.

Lanjut Baca...

Perpustakaan Emperan, Komunitas Tanpa Nama




Kali terakhir saya mengunjungi Jogjakarta, bulan Ramadhan lalu. Saya bertemu dengan Dimas Pratisto, seorang kawan di Komunitas Tanpa Nama (KTN), komunitas sastra yang kami dan delapan orang kawan lain bentuk di Jogjakarta. Siang hari yang panas itu, saya berjanji betemu dengan Dimas di tempat usahanya, warung masakan Aceh di daerah Baciro, dekat Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta. Ketika saya sampai di Baciro, Dimas sudah ada di sana. Dia lalu mengajak saya untuk mengobrol di dapur warungnya, sebuah kontrakan di dekat situ.

“Biar lebih santai,” katanya. Saya pun mengiyakan. Kami lalu beranjak ke sana.

Sesampai di kontrakan, Dimas membuatkan kopi. Kami mengobrol santai sambil menyeruput kopi yang ia buatkan. Kami berdua sedang tidak berpuasa. Saya, hari itu akan melakukan perjalanan jauh, pulang ke Lampung. Karenanya saya malas berpuasa. Dimas, dia agnostik, tak terlalu percaya tuhan ada (hahaha). Setelah beberapa obrolan basa-basi sekadar, saya mengutarakan maksud saya bertemu dengannya siang itu. Saya bilang ke dia, saya tidak bisa lagi menetap di Jogjakarta. Saya sudah terikat ruang lain. Untuk sementara, saya akan tinggal di Lampung, menyenangkan hati orangtua saya agar menetap di sana, sembari mencari kemungkinan “ruang” lain. Karenanya, segala kegiatan yang ada di Jogjakarta, sedikit terpaksa harus saya tinggalkan. Termasuk kegiatan komunitas.

Tapi, karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan kegiatan menulis dan berkomunitas, saya bilang ke dia, bahwa saya ingin membuat komunitas sastra di kampung halaman saya, Kalianda, ibukota Kabupaten Lampung Selatan. Komunitas baru, dan tentu saja, orang-orang baru. Di dapurnya itu, saya sekaligus berpesan agar kegiatan komunitas kami jangan sampai mengendur. Sayang sekali jika komunitas yang sudah kami bentuk dengan mengorbankan tidak sedikit waktu dan tenaga harus berhenti di tengah jalan. Dimas mengiyakan.

“Kamu yakin mau bentuk komunitas baru?” Tanya Dimas kemudian.

“Kenapa tidak melanjutkan komunitas yang udah ada aja?” tanyanya lagi.

“Kan kamu tinggal cari orang-orang buat aktif di komunitas.”

“Lagipula, beberapa kawan komunitas suatu saat pasti juga balik kampung seperti kamu,” ujarnya.

“Nanti mereka yang balik kampung juga, suruh buat KTN di daerahnya masing-masing,”

“Nanti sapatahu malah kita bisa bikin jaringan nasional dari bibit-bibit komunitas yang kalian bentuk, ” kata Dimas lagi.

Saya lalu berpikir, usulan Dimas untuk “memindahkan” KTN ke kampung halaman saya tak ada salahnya. Mimpi membangun jaringan komunitas yang lebih luas tentu saja mimpi yang masuk akal. Lagipula, dengan cara ini, ikatan emosional saya dengan kawan-kawan komunitas di Jogja bisa tetap ada. Sebenarnya juga, saya agak berat pisah dengan mereka. Saya lalu menyetujui usulan Dimas.

Tak terasa, kopi sudah habis. Sudah jam dua lewat tiga puluh. Telepon genggam saya berbunyi. Ternyata Didik menelepon. Didik kawan kuliah saya, juga asal Lampung. Hari itu saya dan dia naik bis yang sama. Dia marah-marah kepada saya. Setengah jam lagi bis yang kami tumpangi akan berangkat.

“Cepet balik woy,” kata Didik. Untung saja dia menelepon, kalau tidak saya pasti lupa waktu. Dan saya tiba-tiba teringat, saya bahkan belum mengepak pakaian.

Setelah berpamitan dengan Dimas dan menitip salam ke kawan-kawan komunitas yang lain, saya bergegas menuju kosan Didik.

Di bis menuju Lampung, entah kenapa saya sedikit sedih meninggalkan Jogja, kota yang lima tahun lebih saya tinggali. Lesehan pinggir jalannya, warung-warung kopi serta obrolan-obrolannya, orang-orangnya, suasananya, semua.

***

Setelah sampai di Lampung, saya berpikir keras. Kegiatan awal apa yang bisa mengumpulkan kawan-kawan untuk berkomunitas? Dengan modal saya yang tidak seberapa tentunya. Lalu saya melihat buku-buku saya yang tersusun di lemari. Saya kemudian berpikir, kenapa tidak mencoba membuat perpustakaan pinggir jalan? Orang-orang yang datang membaca bisa saya ajak bikin komunitas. Paling tidak, saya bisa sedikit beramal. Mumpung ini masih bulan puasa. Saya kemudian mengumpulkan semua buku di dalam lemari. Ternyata cuma ada satu kardus, dan kebanyakan buku-buku sastra. Saya pikir lumayanlah untuk perpustakaan kelas emperan.

Setelah yakin mau bikin perpustakaan emperan sebagai mula kegiatan mengumpulkan orang-orang untuk berkomunitas, saya kemudian menemui Napoleon Bonaparte. Dia biasa dipanggil Leon. Dia aktif di Asosiasi Seni Independen Kalianda (ASIK). Dia menjabat ketua. Saya langsung mengingat dia dan ASIKnya, soalnya mungkin saja dia tertarik dengan kegiatan sosial non profit seperti ini. Lagipula, saya tahu dia juga senang menulis. Saya pun menemuinya di distro tempat biasa dia nongkrong.
Ketika bertemu dengan dia, saya tanpa basa-basi langsung bertanya: “Lu sibuk ga Yon?”

“Ngemper yuk, ngabuburit sambil buka perpus,” ajak saya.

Dia menanyakan maksud saya lebih lanjut. Saya lalu menceritakan kehendak saya, tentang keinginan berkomunitas, saran Dimas di Yogyakarta, dan lainnya. Tak menyangka, dia mengiyakan ajakan saya.

“Ya udah, kalo lu setuju besok gua bikin spanduknya,” kata saya.

“Kalo spanduknya udah jadi, tar gua hubungin ya,” kata saya lagi. Saya senang dia bersedia bantu-bantu saya.

Tapi ternyata, spanduk tidak bisa jadi cepat. Baru bisa jadi tiga hari kemudian. Padahal lebaran tinggal lima hari lagi. Saya hitung-hitung, perpustakaan bakal tidak efektif. Saya lalu menjumpai Leon lagi, dan bilang ke dia kalau kegiatan perpustakaan tidak jadi dilaksanakan di akhir bulan puasa ini. Mungkin setelah lebaran baru bisa dilaksanakan. Lagi-lagi, Leon mengiyakan. Saya merasa agak sedikit bersalah karena kegiatan tidak jadi jalan, padahal dia sudah semangat membantu. Dan waktu saya konfirmasi ke dia kalau jadwal ngemper diundur, dia bilang ada beberapa orang yang tertarik dan mau bantu. Dan ada beberapa bahkan tertarik buat menyumbang buku. Ah, saya jadi tambah merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, mengingat hari lebaran yang sudah di depan mata, dan sarana kegiatan belum lengkap, mau tidak mau kegiatan harus saya batalkan.

***

23 Oktober 2009. Sudah empat hari ini perpustakaan emperan yang saya rencanakan berjalan. Setelah lama tertunda karena tetekbengek silaturahmi paska lebaran, dan ada beberapa keperluan yang harus saya lakukan, akhirnya mimpi ini bisa terealisasi.

Tadinya saya ingin mengajak Leon untuk menemani saya ngemper. Tapi ternyata dia sedang sakit, terkena tipes.

“Ya udah, lu istirahat aja dulu. Biar gua sendiri aja,” kata saya.

“Ga, gua bisa kok, besok gua temenin,” jawab Leon. Dia memang sedikit keras kepala walau kepalanya tak sekeras saya. Hahaha.

Ternyata, kekeraskepalaannya tidak bisa menyembuhkan sakit yang dia derita. Kabarnya, kondisi badannya semakin menurun. Tentu dia tak bisa menemani saya ngemper, buka perpustakaan.

Untungnya M Nur Andriansyah, saya biasa memanggilnya Bang Andri, bersedia menemani saya memermalukan diri, ngemper di trotoar dekat bunderan tugu Adipura, dekat kantor Bupati Lampung Selatan. Mulai dari awal buka perpus sampai hari ke empat ini, dia menemani saya, mulai dari memasang spanduk, menggelar tikar, menyusun buku, makan batagor, minum es buah, sampai bengong-bengong menunggu orang-orang yang sudi mampir dan menumpang baca.

Ternyata, minat baca di Lampung Selatan memang tidak sebagus Jogja. Hari pertama, cuma ada dua orang perempuan yang membaca sebentar. Salah satunya malah mencari buku hukum berbahasa inggris. Rupanya, dia kira saya sekaligus berjualan buku. Ada-ada saja. Pengunjung lain, hanya beberapa orang kawan yang lewat dan mampir untuk sekedar menyapa. Hari ke dua tak jauh beda. Cuma, ada seorang mbak yang mampir untuk melihat-lihat dan menawarkan bantuan buku. Saya cuma mengiyakan. Hari ke tiga pun begitu.

Hari ke empat ini, lebih lumayan dari hari-hari sebelumnya. Ada dua orang bapak, yang satu datang membaca sembari menunggui istri dan anaknya yang sedang menghabiskan waktu sore di lapangan Pemda, dan satunya mampir membaca sejenak setelah menjemput anaknya yang berlatih Volley. Lalu ada seorang mbak yang mampir baca, dan setelah beberapa kali membolak-balik halaman beberapa buku, dia bilang: “Wah, berat-berat. Pusing mbak bacanya.” Mbak itu, juga menjanjikan akan memberikan buku untuk disumbangkan, saya juga mengiyakan tawarannya.

Sedikitnya orang-orang yang datang baca, malah makin menyemangati saya untuk terus melakukan kegiatan ini selama saya masih punya tenaga dan waktu yang cukup. Ala bisa karena biasa, bukan? Perpustakaan emperan ini, rencananya akan rutin saya dan Bang Andri buka di trotoar bunderan Tugu Adipura setiap hari. Mulai dari jam tiga sampai menjelang maghrib. Mudah-mudahan tetap bisa konsisten dan tetap punya kelebihan waktu dan tenaga. Tentu saja, karena ini masih kegiatan awal, mungkin ada beberapa hari perpustakaan tidak bisa buka.

Ke depannya, saya kepingin buat klub diskusi penulisan. Saya rencananya memeruntukkan klub ini buat kawan-kawan pelajar di Kalianda. Walau saya bukan penulis yang baik dan kesohor, siapa tahu dari kegiatan ini saya bisa bantu-bantu kawan-kawan pelajar yang punya bakat menulis buat mengembangkan kemampuannya. Dengan cara berdiskusi dan bertukar pengalaman tentu saja. Saat ini, saya masih menulis dan mengumpulkan bahan-bahan buat rencana saya ke depan itu. Yang entah, bisa terwujud atau tidak. Yang penting niat dulu sajalah, urusan terealisasi atau tidak, itu permasalahan ke sekian, bukan?

***

NB: Tulisan dan kegiatan saya ini, saya peruntukkan buat kawan-kawan KTN di Jogja. Mudah-mudahan kalian tetap tidak bosan berkomunitas, paling tidak untuk sekedar ngumpul dan berbagi cerita. Ayo!

Lanjut Baca...

Tanya 2

Aku ingin hidupku bahagia
tapi bagaimana mungkin, jika aku
nyemplung ke kekuasaan?

Aku ingin hidup banyak orang di sekelilingku
berbahagia. Tapi bagaimana mungkin jika
cuma punya sedikit kekuasaan?

Lanjut Baca...

Sudah

sudah. lama sekali kau selesaikan
dialog kau dan kau yang lian,
percakapan yang bikin gaduh
di tubuh,
sungguh.

tapi. masih sisa kenangankenangan
yang tak sempat lumat. sementara
tangantangan tengadah
terus meminta kau
kelarkan rengekanmu
yang makin kotori
tanah,
sudah.

Lanjut Baca...

Ode Sepi Untuk Sigaret

Lama aku mematung di depan cermin
mematutmatut pakaian mana yang pantas
kupakai ke pemakaman kau

yang rela membakar tubuhmu sendiri
untuk menghanguskan sepi
yang beku di tubuhku.

Lanjut Baca...

Satu!

mari kita bersepakat,
tuk tak menyepakati apapun.

aku makin tua,
satu angka baru bergelayut di angka dua.

dan aku,
masih belum apaapa,

masih belum apaapa!

mari bersepakat,
kita masih tak menyepakati apapun.

kau hijau, aku demikian.
masihkah kau menyangkal, aku lebih dari kau sebagian?

mari bersepakat, kini kita tak meyepakati apapun.
ke depan, kita bersetuju, kau dan aku samasama tahu
satu rasa, satu menuju!

satu menuju!!

Lanjut Baca...

Ode Umur Untuk Janji

angkaangka berjatuhan dari almanak
yang tergantung di dinding
kamar kau,

juga suka,
juga
luka.

di tanggal ini setiap tahun,
banyak orangorang yang datang dan mendoakan,
dan kau akan terpaksa menjanjikan:

sebelum mati,
hidup kau harus lebih berarti.

angkaangka berjatuhan kian deras,
tapi kau tetap keras,
masih enggan berjanji,
tak yakin bakal bisa menepati..

Kalianda, 9 Oktober 2009

Lanjut Baca...

Ode Umur Untuk Gempa

masih ada sedikit tawa
kau selipkan di ujung air mata.

tangismu untuk lindu.
tawa itu, untuk
aku?

Kalianda, 9 Oktober 2009

Lanjut Baca...