Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Sabtu, Juli 12, 2008

SENANG MEMILIKIMU, PHOENIX

Cerita Tentang Pengalaman Saya Bersepeda.

Oleh: Arie Oktara

11 JULI 2008. Sudah tiga hari ini saya bersepeda. Alasannya sederhana, saya butuh kendaraan untuk transportasi. Ban sepeda motor saya, Shogun hijau tahun 1999 (saya menamainya Menur) bocor. Entah kenapa, saya benar-benar malas untuk menambalnya. Sudah dua kali bocor, jadi saya pikir memang sudah saatnya ganti.

Tiga hari kemarin, saya main ke Asrama Mahasiswa Lampung, di Jalan Pakuningratan Nomor 7 Yogyakarta. Waktu hari mulai sore, telepon genggam saya berbunyi. Rupanya ada sms dari Dita, salah seorang kawan, cukup akrab. Kami membuka warung kopi bersama-sama, dengan tiga kawan lain, Sodik, Weli, dan Sendi. Rupanya Dita sedang sakit, dan mengusulkan untuk meliburkan warung kopi sehari saja.

Saya bingung, malam ini ada beberapa kawan yang berjanji datang ke warung. Tapi karena Weli dan Sodik belum ada di Yogyakarta, masih di Lampung (Ayah Weli sedang sakit, dan kerabat Sodik melangsungkan pernikahan), dan agak berat kalau cuma kerja berdua, akhirnya saya setujui usul Dita. Lagipula agak cape hari itu.

Saya bergegas ke kamar Sendi. Kamar kedua di sebelah Utara, lantai satu Asrama. Pintunya tertutup. Walau tidak dikunci, pintu kamarnya tidak bisa dibuka dari luar. Kuncinya rusak, jadi harus dibuka dengan anak kunci, atau dibuka dari dalam. Saya ketuk berkali-kali, tapi tidak juga ada jawaban. Pintu kamar tidak juga terbuka. Sendi kalau sedang tidur, gempa bumi pun susah membangunkan. Cara terakhir, lewat jendela depan. Setelah badannya saya goyang-goyangkan dari jendela, akhirnya Sendi bangun.

“Sen, Dita sakit. Warung libur aja?” Tanya saya sambil memperlihatkan telepon genggam.

Dia membaca sms sebentar.

“Hooh,” jawab Sendi sambil memutar badan membelakangi saya dan langsung tidur lagi. Luar biasa memang prestasi Sendi kalau urusan tidur.

Sesaat kemudian saya bingung lagi, malam ini tidak ada rencana kemana-mana. Akhirnya saya sms beberapa orang kawan. Perempuan tentu saja. Saya ajak mereka keluar. Ternyata semuanya ada acara. Harapan saya memanfaatkan waktu libur keluar dengan cewekpun gagal. Pilihan terakhir hanya satu tempat: kos Didik. Sudah lama juga tidak kesana.

“Kesana ah,” pikir saya .

Tapi kebingungan datang lagi. Naik apa? Saya ingat, Sepertinya ada sepeda tidak terpakai di Garasi asrama. Ternyata benar. Di sana saya lihat ada empat sepeda yang tidak terpakai. Terbengkalai, kotor bahkan. Dua sepeda balap (hijau dan merah), satu sepeda onthel, dan sepeda federal biasa.

Sepeda balap merah kepunyaan Asrowi, yang hijau kepunyaan Novan. Asrowi mudik ke Lampung, ada acara keluarga. Novan ke Pare, kursus bahasa Inggris, memanfaatkan libur kuliah. Sepeda milik Asrowi kondisinya lumayan, cuma ban depan agak gundul. Sepeda balap kepunyaan Novan kondisinya lebih baik dari kepunyaan Asrowi. Penampilannya masih terlihat sangar. Tapi waktu saya coba menaikinya, ternyata rantainya bermasalah. Tidak bisa berputar, rusak. Sepeda onthel milik Erwin (dia biasa dipanggil Jabrik) kondisinya parah. Stangnya sudah tidak simetris, joknya sudah goyang, di sana- sini karat, pokoknya perlu perjuangan keras untuk bisa mengendarainya dengan baik. Sepeda federal, saya tidak tahu siapa yang punya. Akhirnya,saya memutuskan untuk memakai sepeda Asrowi untuk ke kosan Didik.

KOSAN Didik di Jalan Kaliurang Km 4,5. Di depan Bank Bukopin Jalan Kaliurang ada swalayan Gading Mas. Tepat di samping selatan Gading Mas ada jalan masuk. Itu jalan ke kosan Didik. Lurus saja sampai ketemu turunan. Di awal turunan ada Fotokopi di sebelah selatan. Belok kanan di depannya, lalu belok kiri, sampai kosannya. Nomor G 5. Agak jauh dari asrama. Kalau dihitung-hitung sekitar 7 kilometer. Saya bersepeda kesana.

Sepeda Asrowi ternyata masih enak dipakai. Di jalan menuju kos Didik, saya beberapa kali berdiri dan mengayuh sepeda seperti berlari, agar lajunya kencang. Euforia barang baru. Haha.

Dan ternyata, naik sepeda itu menyenangkan. Apalagi kalau sembari mendengar musik. Waktu seperti berhenti. Gerak benda di sekitar kita seperti lebih lambat. Dan kita, dengan sepeda, seperti melaju lebih cepat. Berlebih memang deskripsinya, tapi itu yang saya rasakan.

Yang bikin susah saat bersepeda, tentu saja asap kendaraan. Wah, jengkel rasanya kalau sedang di belakang bis kota. Kadang kaget asap tiba-tiba mengepul tanpa aba-aba. Paru-paru langsung sesak karena terlalu banyak menghirup karbon dari asap bis yang hitam. Indonesia memang tidak bersahabat dengan alam. Setahu saya tidak ada peraturan yang mencantumkan berapa tahun maksimal kendaraan masih bisa dipakai di jalan raya. Hasilnya, mobil-mobil dan motor-motor tua yang seharusnya sudah pensiun masih merajalela di jalanan. Dan tentu saja, tidak lagi bersahabat dengan alam. Sumber polusi.

Dari asrama Lampung ke kosan Didik di Jalan Kaliurang, suasana yang paling asik saya rasa ketika melewati jembatan di Jetis. Kalau naik sepeda, tidak seperti mobil dan motor, kita bisa agak merapat ke pinggir jalan. Bahkan naik ke atas trotoar. Dari atas jembatan, pemandangan ke arah sungai benar-benar membuat hati saya damai. Walaupun air sungainya berwarna coklat. Tapi tetap saja, damai.

Di jalan, saya menyadari satu keadaan. Keangkuhan. Ternyata benar kalau kita memiliki lebih banyak dari orang lain, gigantisme, perasaan angkuh dan merasa lebih, merasuk. Beberapa mobil dan motor berkali-kali membunyikan klakson hanya karena saya terlalu lambat mengayuh sepeda. Padahal, saya sudah meminggirkan sepeda saya.

Awalnya, satu-dua kendaraan masih saya acuhkan. Tapi lama-lama kesal juga. Akhirnya ketika kendaraan ketiga, mobil Jazz plat B berwarna merah membunyikan klakson berulang-ulang dari belakang. Saya langsung merapatkan jari-jari ke arah dalam, menyisakan jari tengah, dan menunjukkannya ke arah mobil sambil berteriak: “ASU!!”

Tidak sesuai dengan perkiraan saya, suara klakson tidak berhenti, malah makin menjadi. Saya ngeri saja, tiba-tiba di tabrak dari belakang. Untung saja di depan ada jalan masuk ke arah Fakultas Farmasi UGM, saya langsung berbelok dan berhenti sebentar. Memandangi mobil Jazz merah. Pengemudinya (ternyata perempuan muda) menengok ke arah saya sambil menunjukkan juga jari tengahnya. Dasar, tak mau kalah.

Keadaan aman. Perjalanan kembali saya lanjutkan. Setelah sepuluh menit kembali mengayuh sepeda, saya sampai di kosan Didik.

Di kamarnya, Didik sedang mengutak atik gambar di Laptop. Dia sedang mendesain sesuatu. Didik memang tidak bisa dilepaskan dari komputer, dia seorang hacker.

Dulu dia sempat nakal. Kenakalan pertamanya waktu kelas 5 Sekolah Dasar. Orangtuanya pernah dipusingkan karena Didik berurusan dengan polisi. Dia “iseng” masuk ke sistem komputer PLN Bandar Lampung dan mengacak programnya. Hasilnya, aliran listrik di Bandar Lampung terputus selama seminggu. Masalahnya ternyata sepele. Aliran listrik di rumah Leonardo kawannya ketika kecil diputus. Didik kesal dan balas dendam ke PLN. Didik Kini Didik sudah tobat. Dia bekerja di Pantau sebagai web master.

“Halah, masih inget lu jalan kesini?” kata Didik. Saya cuma tersenyum.

“Wuih, banyak duit lu sepeda baru,” katanya. “Ga, sepeda temen,” jawab saya.

Saya masuk dan ngobrol ngalor ngidul dengan Didik. Ada Ian juga disitu, juga kawan saya.

Waktu semakin malam, segelas kopi dan berbatang-batang rokok sudah habis. Jam sepuluh malam saya pamit.

“Ngopi ga? Tika minta dianter ke kopi joss,” tanya saya. Waktu di jalan menuju kos Didik, Tika, kontributor tvOne dari Palopo Sulawesi Selatan, teman yang saya kenal di kursus narasi Pantau yang saya ikuti mengirim sms. Dia minta di antar ke angkringan Lik Man yang terkenal dengan kopi yang di campur dengan arang, di Utara Stasiun Tugu. Saya menyanggupi.

“Ga boy, ngantuk gua” katanya. Saya pun pergi. Ke kosan Tika, di daerah Seturan.

Saya ke Seturan lewat Selokan Mataram. Jalannya banyak yang rusak. Lumayan berat buat saya yang baru mulai bersepeda. Terlebih sepeda balap yang saya pinjam ban depannya sudah gundul. Saya beberapa kali berhenti, menunggu mobil atau motor lewat. Selain rusak, beberapa sudut jalan gelap. Karena itu, saya mengandalkan cahaya dari kendaraan yang melaju di situ.

Dua puluh menit kemudian saya sampai. Dari kosan Tika, kami naik motor ke Code. Kami tidak jadi ke angkringan Lik Man. “Ke Code aja, udah lama ga ke sana,” kata saya pada Tika. Sepeda saya titipkan di sana.

Pulang dari Code, dari Seturan saya lewat jalan yang sama. Jalanan sudah sepi. Beberapa kali sepeda yang saya tumpangi masuk lubang. Untungnya tidak sampai jatuh. Sebelum melewati jembatan di Selokan Mataram, saya dikagetkan dengan salakan dua anjing. Mereka ditaruh pemiliknya di halaman rumah. Pagar rumahnya pendek. Anjing yang lebih besar, sepertinya berjenis herder terlihat seperti ingin melompati pagar. Binatang yang saya takuti ada dua, anjing galak dan tikus besar. Saya mempercepat laju sepeda.

Badan sudah letih, tidak kuat rasanya menggenjot sepeda ke Asrama Lampung. Saya ke kosan Didik dan menginap di sana.

DUA hari kemudian, saya menginap di Asrama Lampung. Setelah bangun dan merokok, sekitar jam dua siang hasrat bersepeda kembali bergejolak. Saya ke garasi mengambil sepeda dan mengayuhnya keluar asrama, tanpa punya tujuan. Di Tugu, saya punya ide untuk ke Terminal Terban. Saya ingat seorang kawan pernah memberitahu di belakang terminal ada toko sepeda bekas. Saya pikir tidak ada salahnya lihat-lihat. Siapa tahu ada sepeda murah.

Di Terban, saya tidak melihat satupun toko sepeda. Seorang ibu sedang merokok dengan asiknya di pinggir tumpukan sampah. Saya bertanya padanya. “Bu, tempat jual sepeda di sini di mana ya?” Kata saya. “Ga ada mas, coba cari ke Utara,” timpal si Ibu. Setelah berterimakasih, saya mengarah ke Utara. Ternyata sampai di Mirota Kampus, tidak ada toko sepeda. Saya kecewa, tapi masih ingin mencari sepeda. Perjalanan saya lanjutkan.

UGM, Kolombo, Demangan, dan tak terasa, sudah sampai depan Universitas Islam Negeri (UIN) di Jalan Solo. Tempat jual sepeda tidak juga saya lihat.

Sepeda terus saya kayuh. Setelah melewati jembatan di depan UIN, sekitar dua ratus meter di sebelah utara dari kejauhan saya lihat ada banyak sepeda anak kecil yang digantung. Akhirnya, ketemu juga.

Sepeda balap saya parkir. Dengan langkah pasti saya masuki toko sepeda. Dua orang lelaki sedang menyetel sepeda. Di dalam, banyak sepeda bagus. Tapi perhatian saya langsung mengarah ke tiga sepeda gunung yang disusun sejajar menghadap selatan. Sepeda gunung dengan stang tambahan yang menyerupai tanduk. Sangar, itu kesan pertama saya ketika melihat ketiganya.

Setelah sejenak melihat-lihat, saya hampiri seorang bapak tua. Rambutnya sudah memutih. Dari wajahnya, dia keturunan Tionghoa. Si bapak duduk di bangku menghadap meja dengan kertas kuitansi yang bertumpuk di atasnya. Sedang sibuk memencet-mencet tombol kalkulator.

“Yang itu berapa pak?” Tanya saya sambil menunjuk ke tiga sepeda gunung.

“Sing loro wolu ngatus. Sijine pitu ngatus,” jawabnya.

“Mahal amat,” kata saya lagi.

“Memang segitu mas,” katanya acuh.

“Wah, ga bawa duit segitu e pak,” kata saya sambil mengeluarkan uang yang ada di kantong depan celana. “Tuh,” saya tunjukkan dua lembar uang seratus ribu dan dua lembar uang lima puluh ribu.

“Yo, De Pe wae ra popo. Sisuk lunasi,” timpal bapak itu.

Saya berpikir agak lama. Saya ingat kalau tidak salah uang di kamar masih ada sekitar empat ratus ribu rupiah.

“Enam wis sing pitu ngatus,” kata saya. Bapak itu tersenyum.

“Ra iso e mas, saiki munggah kabeh. Kui barang terakhir,” katanya sambil menunjuk sepeda yang dihargainya tujuh ratus ribu rupiah.

Saya terus saja menawar. Tak terasa sudah hampir satu jam. Akhirnya setelah agak lama itu bapak itu menyerah. “Yo wis, enam atus selawe,” katanya. Saya setuju. Saya berikan uang tiga ratus ribu sebagai tanda jadi. Saya pulang bersepeda. Senang, akhirnya bakal punya sepeda baru. Tapi bingung, uang yang saya pakai untuk beli sepeda adalah jatah saya bulan ini. Sepertinya hari-hari kedepan pasti susah makan.

BESOKNYA, tanggal 11 Juli 2008. Saya bangun dengan segar. Walaupun tidak salat Jumat saya senang, hari ini saya mengambil sepeda.

Saya segera mencari Bang Iwan. Dia saudara jauh saya, tinggal di Asrama Lampung. Kemarin sepulang dari toko sepeda, saya cerita kepadanya kalau baru saja membeli sepeda baru dengan uang jajan.

“Hahaha, goblok,” katanya.

“Iya. Tapi biarin aja, udah terlanjut gua beli. Lu besok anterin gua ambil sepeda ya,” pinta saya.

“Ga tahu nih, gua kebelet bener tadi pengen beli sepeda,” kata saya lagi.

“Iya, tapi liat kondisi geh. Lu dari dulu begitu, kalo ada mau ga bisa entar-entar,” jawabnya.

“Udah, anterin aja,” kata saya. Dia tersenyum.

“Iya,” katanya.

Saya dan dia akhirnya berangkat ke Jalan Solo.

Uang tiga ratus dua puluh lima ribu saya berikan untuk melunasi sepeda itu. Sepeda gunung warna merah hitam, merk Phoenix. Seperti nama burung yang dalam mitos punya ekor dari api. Gearnya ada enam, dan ada persnellingnya. Mantap berkendara di atasnya. Dan yang paling saya banggakan selama dua hari sepeda itu menjadi milik saya, adalah benda bulat yang menempel di sebelah kiri ban depan.

“Ada cakramnya,” kata saya ke setiap kawan yang melihat sepeda baru saya.

Ada kawan yang menjawab begini: “Bagus sih sepedanya. Tapi lu ga bisa makan goblok.”

Saya cuma menjawabnya tenang: “Ya bisalah, kan bisa keliling kosan temen pake sepeda.”

Sepeda baru, semangat baru. Tapi ada satu hal yang mengganggu. Bagaimana nasib si Menur ke depan. Jelek-jelek begitu, dia sudah menemani saya sejak lama.

Tadi malam, selagi asik mengetik di warung. Bemi kawan yang tinggal satu tempat dengan saya, Asrama Lampung Selatan di Bangirejo mengirim sms ke telepon genggam saya.

“Bang, motor masih mau lo pake? Kalo gua bayarin ban depan lo gimana? Kan lo dah punya sepeda,” katanya.

Sedikit kesal saya jawab: “Gua masih punya duit”

Udara pagi makin dingin. Tak terasa sudah jam tiga. Setelah benah-benah warung, saya bergegas menghampiri si Phoenix. Melihatnya sebentar, dan kembali berkendara.

1 komentar:

Sartika Nasmar mengatakan...

Walah, pake' prolog biar dapat bantuan keuangan ya???

Btw, omongan yang mana seh???

Poskan Komentar