Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kamis, April 30, 2009

Maling

Lama juga kami tak berjumpa. Genap lima tahun sudah. Kami dulu kental bersahabat. Tiga tahun kami selalu di kelas yang sama. Tiga tahun pula semua kami lakukan bersama. Kewarasan dan kegilaan. Sebelum akhirnya detik memisahkan kebersamaan yang kami punya. Detik kelulusan.

Setelah menanggalkan seragam putih abu, kami sama-sama meninggalkan tanah Sumatera, menyeberang ke pulau Jawa. Aku melanjutkan studi ke Jogjakarta, sementara ia pergi ke Jakarta. Di pulau yang sama, namun berjarak. Lima tahun sudah. Bukan waktu yang singkat. Aku merindunya. Tentu telah banyak yang berubah.

“Aku di Jogja sekarang,” bunyi pesan singkat di telepon genggamku dua hari yang lalu.

Ternyata darinya, sahabatku. Rupanya bulan lalu ia bertandang ke rumahku di Lampung, tapi tak mendapatkanku. Ia pun meminta nomor telepon genggamku pada ibu.

Ia di Jogjakarta sekarang. Melanjutkan studinya, S2. Aku lalu meminta alamat kosannya. Ternyata kosannya tak begitu jauh dari tempatku menetap.

“Kau ada janji sore ini? Aku ke kosmu kalau tidak ada janji, mungkin sekitar jam lima,” aku mengirim pesan kepadanya.

“Tak ada, kau datang saja, aku tunggu,” jawabnya.

Ah, lima tahun sudah kami tak jumpa. Lima tahun! Tak sabar aku menjumpanya. Tentu telah banyak yang berubah.
***

Aku sampai di kosannya ketika adzan maghrib berkumandang. Kuparkirkan motor di depan gerbang. Tepat ketika itu, kulihat wajah yang tak asing. Ya, sahabatku. Kulihat ia mengenakan jubah putih panjang dan kopiah. Janggut lebat bergantung di dagunya. Ia sedang tergesa.

“Hei, kawan!” sapanya ketika melihatku. Wajahnya terlihat gembira.

“Hei,” jawabku.

Ia lalu menyalamiku. Kami lalu bertatapan, dan saling berbalas senyum. Sepintas kulihat ia memerhatikan piercing yang terpasang di kedua kupingku.

“Sudah lama sekali,” katanya sesaat kemudian.

“Ya, lima tahun,” kataku.

Diam..

“Mm, aku sedang bergegas ke musholla. Sudah waktu maghrib,” ujarnya kemudian.

“Oh, ya. Silahkan kawan,” ujarku.

“Kau tidak ikut salat?” Tanyanya.

“Kau saja,” jawabku.

Ia mengangguk.

“Oke, kau tunggu saja di kamarku. Aku salat sebentar,” ujarnya lagi sembari memberiku kunci kamarnya.

“Kamar ke tiga sebelah kanan, sebentar aku kembali. Kita ngobrol banyak nanti,” ujarnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.

“Motormu masukkan saja, di sini lumayan rawan,” katanya.

“Biar di sini saja, aku cuma sebentar. Ada janji jam 7,” jawabku.

“Oh, baiklah. Aku ke musholla dulu,” ujarnya lagi.

Ia pun bergegas menuju musholla. Ah, lima tahun sudah. Memang telah banyak yang berubah.
***

Kosan sedang sepi. Maklum akhir pekan, pikirku. Mungkin banyak yang pulang kampung, atau menghabiskan hari minggu. Aku kemudian mengamati kamar sahabatku itu. Tata ruangnya sederhana. Hanya ada kasur tanpa ranjang, lemari kayu sederhana, meja belajar dan kursinya, dua buah rak buku yang tergantung di atas meja belajar, jam dinding yang bergambarkan Ka’bah, serta sebuah poster besar yang bertuliskan “Save Palestine” . Aku lalu melihat-lihat koleksi bukunya. Kebanyakan buku agama, selain buku-buku manajemen yang menjadi bidang ilmunya.

Memang telah banyak yang berubah. Setahuku dulu dia kurang lebih sama denganku, tak begitu memedulikan agama. Tapi melihat penampilannya sekarang, dan buku-buku yang dia punya, tentu dia tak seperti dulu lagi.

Aku juga sedikit banyak berubah. Masih bebal seperti dulu, terutama masalah agama. Bedanya, sekarang aku memiliki landasan yang kuat untuk menjustifikasi kebebalan-kebebalan yang kulakukan.

Ah, aku jadi sedikit menyesali pertemuan kami. Seperti orang lain dengan dandanan yang serupa dengan sahabatku itu, dia tentu akan mengomentari penolakanku untuk salat bersamanya tadi. Dan tentu, aku akan mengomentarinya dengan keras. Sama seperti aku menjawab komentar orang-orang yang menggugat pemahamanku tentang agama, atau pandangan hidupku.

Dua puluh menit kemudian, sahabatku telah kembali.
***

“Kau tidak salat?” Tanyanya, setelah beberapa obrolan ini-itu yang lebih sekedar basa-basi.

Ah, akhirnya pertanyaan ini ke luar juga. Aku sebenarnya benci menanggapinya. Karena aku pasti akan menjawabnya dengan keras. Terlebih, aku tak ingin pertanyaan ini merusak suasana pertemuan kami setelah sekian lama.

“Aku sekarang tak percaya agama,” akhirnya aku menjawab pertanyaannya.

“Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Entahlah kawan, kita mungkin harus mengobrolkan masalah ini di lain waktu. Karena waktunya tak akan cukup sekarang. Aku hanya sebentar di sini. Tapi yang pasti, aku benci agama karena agama itu egois. Agama hanya bisa melarang dengan ayat-ayat yang bahkan tidak dapat ditentang lagi kebenarannya, tanpa memedulikan alasan-alasan sosial yang membuat seseorang menentang larangan itu. Bahkan ironisnya, agama tak pernah bisa mengajukan solusi yang tepat atas larangannya yang dibuatnya sendiri,” jawabku lagi.

“Maksudmu?” ia penasaran.

“Ya, contoh mudahnya, agama hanya bisa melarang-larang orang supaya tidak maling. Agama menegasikan alasan-alasan yang menyebabkan mengapa seseorang memutuskan untuk maling. Misalkan karena ia tidak memiliki akses ke ekonomi, karena ekonomi hanya dikuasai turun temurun oleh pihak yang memiliki kuasa. Sedangkan ia, katakanlah, memiliki anak dan istri untuk diberi makan, dan yang dapat dilakukannya hanyalah maling. Ini tentu saja contoh kecil. Masih banyak alasan lain yang bisa kita perdebatkan,” aku berapi-api.

Tidak sesuai dengan perkiraanku, sahabatku itu hanya tersenyum.

“Hahaha, ternyata benar. Telah banyak yang berubah,” ujarnya.

“Aku benar-benar merindukan kau. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa. Dan aku pikir pasti kau telah berubah. Tapi tenanglah sahabatku, aku tidak akan menghakimimu dengan ayat-ayat yang kau bilang egois itu. Aku cukup percaya kalimat Allah, lakum dinukum waliyadin. Lagi pula, kau sahabatku. Aku tak mau merusak pertemuan kita setelah sekian lama ini hanya dengan perdebatan yang pasti tidak akan berujung. Walaupun aku punya banyak rasionalisasi untuk menentang pernyataanmu tadi,” katanya lagi.

“Syukurlah, kau bisa memahami isi kepalaku. Aku tadinya juga takut perbedaan kita sekarang membuat kita tidak bisa bersahabat lagi,” aku tersenyum.

“Tapi aku bersikeras agama itu egois,” kataku lagi.

Ia tertawa, kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk pundakku.

Sesaat kemudian terdengar suara adzan bersahut-sahutan. Kulihat ternyata sudah jam 7 malam. Tak terasa sudah hampir sejam kami bersama.

“Kau ke musholla?” tanyaku.

“Ya, setelah adzan,” jawabnya.

“Oh, ya sudah, aku sekalian pamit pergi. Aku ada janji sebentar lagi. Lain kali aku mampir lagi,” kataku sembari beranjak.

“Baiklah, kapan-kapan kalau aku sempat, aku main ke kosmu. Senang sekali bertemu denganmu,” ujarnya sembari menyalami tangan dan memelukku.

“Ya, aku juga kawan. Senang sekali bertemu denganmu,” jawabku.

Akhirnya kami bersama-sama berjalan ke arah gerbang. Saat itulah baru kusadari, ternyata sepeda motorku sudah tidak ada lagi di depan gerbang.

“Ke mana motorku!?” teriakku panik.

Astaghfirullah,” sahabatku ikut panik.

Ia lalu kemudian berlari ke arah warung di sebelah kosannya, dan sebentar ia kembali bersama beberapa orang warga.

Montore ilang to mas? Wah, saiki pancen rawan mas. Ngopo mau ra digowo mlebu to mas motore?” ucap seorang bapak.

Aku diam.

“Kata bapak ini, motormu masih ada sekitar lima belas menit yang lalu. Di sini memang banyak maling, aku sudah peringatkanmu tadi,” kata kawanku kemudian.

Aku tetap diam. Dengkulku tiba-tiba lemas.

“Dasar maling, Anjing!” aku berteriak dalam hati sambil memandangi wajah kawanku yang tersenyum simpul sembari menenangkan aku.

2 komentar:

Chik0 McCormick mengatakan...

Ini salah siapa sodara-sodara... Ini Salah siapa...!!! Ini salah yang di atas sodara-sodara...!!! SALAH YANG DI ATAS...!!!! KITA SALAHKAN SEMUA KEPADA YANG DIATAS...!!! Siapa yang diatas sodara-sodara...ALIEN DAN KAWAN-KAWAN....

Ratu bagian dunia mengatakan...

Bagus!

Poskan Komentar