Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Selasa, April 28, 2009

Ambigu

Aku kerap bermimpi sedang berkaca
mengagumi lipatan usia
di kening yang menua

jua, kadang ingin mati muda saja.

Istirah

jangan ganggu,
aku sedang berkelahi dengan waktu..

Jumat, April 10, 2009

Lelaki Yang Dicekam Kenang


Udara malam ini pecah lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dari retakannya aku menemukan potongan-potongan kenangan yang enggan musnah oleh waktu.

Kau tahu sayang? Ingatan seperti bocah yang enggan beranjak dewasa. Ia seperti waktu yang statis. Tak seperti tubuh, yang selalu lekas menua digilas jaman. Ia ibarat kerikil yang kau lempar ke tengah kolam yang permukaannya tenang. Yang menimbulkan riak walau sejenak. Dan meski kau bisa lihat permukaan kolam itu perlahan menjadi tenang kembali, batu kerikil itu telah terlanjur terbenam di dasar. Begitupun ingatan. Ia selalu benam di kepala, seperti kerikil di kolam.

Eli, eli, lama sabachtani? Kekasih, kekasih, mengapa kau meninggalkanku?

Sejarah hidupku kini hanyalah gerak yang kuarahkan menuju lupa. Lupa kau. Lupa kita. Lupa ingatan. Tapi sungguh, melupakan kau seperti menyembuhkan borok yang telah menua, tak mudah seperti membalik telapak. Luka itu terlanjur kekal, dan terus bernanah tiap kali udara pecah pada malam sepertiga. Seperti malam ini, atau malam-malam kemarin.

Ingatkah kau pada waktu-waktu kita yang biru? Pada perbincangan-perbincangan kita tentang hidup, yang selalu kita sempatkan di tengah uap kopimu dan asap rokokku yang mengepul, lalu menari hingga lenyap bersama waktu. Tentang kegelisahan, yang selalu kurasakan di antara pagutan bibirmu yang basah yang membuat basah bibirku. Tidakkah kau rasakan kegelisahan yang sama ada padaku sayang? Ah, mungkin tidak. Karena aku selalu berusaha menyembunyikan kegelisahanku untuk redakan gelisahmu akan nasib yang terus-terus mengejarmu.

Dan akhirnya, kitapun harus mengalah pada waktu. Kau tinggalkan aku. Dan seperti kisah-kisah sinetron murahan di televisi yang tidak pernah kita cermati, aku harus relakan kepergianmu. Meski perasaanku padamu telah membatu di hatiku. Tapi sungguh sayang, tak sepenggal sesalpun yang hadir di diriku. Meski kepalaku harus tertunduk melihat kau mengucap ayat-ayat dengan syahdu, ketika kau menyerahkan dirimu pada laki-laki pilihan ibumu. Atau mungkin itu pilihanmu? Entah sayang. Aku bahagia. Ya, aku bahagia melihat kau di pelaminan. Seperti tokoh yang kalah di sinetron-sinetron itu.

Setelah perpisahan yang menyisa luka itu, aku membebaskan diriku dari segala macam ikatan. Meleburkan diriku pada banyak macam perempuan tanpa pernah menjadikan diriku milik mereka. Atau sebaliknya, menganggap mereka milikku. Aku bebas, sejak kau bebas dari diriku. Tapi mengapa kau terus membayangku seperti hantu sayang? Terus saja memburuku seperti kutukan.

Liurmu selalu membasah di rasa lidahku ketika aku dan perempuan-perempuan itu berpagut. Kecupmu kerap merayap di rasa kulitku ketika mereka mencumbuku dengan geram. Bayangmu tak henti meradang di lihat mataku kala aku membenamkan wajahku di antara dada mereka yang pejal. Harummu tak henti semerbak di cium hidungku kala aku membaui liang mereka yang apak. Dan rintihmu terus mengaduh di dengar kupingku saat napas mereka tercekat oleh nafsu. Kau rasakan yang samakah sayang?

Waktu terus bergulir, mencari-cari yang baru di hadapan, dan sialnya, tak pernah meninggalkan yang lama di belakang. Aku terus saja mengembara di banyak pagutan, geram cumbuan, dada-dada yang pejal, liang-liang yang apak, dan nafsu yang mencekat napas. Tapi sayang, ingatan sungguh seperti bocah yang enggan beranjak dewasa.

Eli, eli, lama sabachtani? Udara malam ini pecah lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dari retakannya aku menemukan potongan-potongan kenangan yang enggan musnah oleh waktu.


Gambar diunggah dari: http://graphics8.nytimes.com/images/2007/08/15/nyregion/15smoking.span.jpg


Senin, April 06, 2009

Aku Akan Mencinta Kau Hingga..

Aku akan mencinta kau hingga
bayangmu berhenti meradang
di lihat mataku hingga
baumu berhenti semerbak
di cium hidungku.

Akan kucinta kau hingga
kecupmu tak lagi merayap
di rasa kulitku hingga
rintihmu tak lagi mengaduh
di dengar kupingku.

Kucinta kau hingga
liurmu berhenti membasah
di rasa lidahku hingga
jantungmu tak lagi berdenyut
di detak nadiku.

Aku akan mencinta kau hingga akan
kucinta kau hingga kucinta
kau hingga..

Hingga...

Aku sebut ini rindu saja

mantramantra yang lekat pada ujung lingga
yang kucuri dari seratserat kemul
sisa kita gumul

yang kerap kurapal pada malam sepertiga
sembari memerpanjang ingatan betapa

waktu tak lagi
berbaik hati
pada kita.

Kepala

Di taman kota aku jumpa banyak macam kepala
yang ikutikuti gerak leher ke mana

di antara mereka, berapa yang punya tanya
sama dengan aku punya kepala:
"mengapa ini kepala bisa menjejak di taman kota?"

Lelah

Termangu aku melihat serombongan semut yang tergopoh
menggotong remahremah roti jauh
menuju rumah.

Aku lalu merutuk: "kenapa bukan
aku yang tergopoh menuju rumah
menggotong remahremah, dan

semutsemut itu
yang terpaku
menatap aku?"

Iklan Cinta di Televisi

aku cuma punya satu
kubelah saja biar
jadi dua
MAU?

Su

seng seng su
oseng oseng
asu

kowe kuwi pancen a
su
kok aku sayang kowe
yo su

asu!

Deja Vu

kapan kita bercumbu?
aku ingin bermain gundu
di lorong waktu tubuhmu.