Aku lihat bayangan Prometheus dan Hamlet
memeluk tubuh aku yang ringkih
saat aku mematut diri di cermin pipih.
Keinginan yang sangat
tekad yang bulat
tubuh yang terikat.
Aku lihat bayangan Prometheus dan Hamlet memeluk tubuh aku yang ringkih saat aku mematut diri di cermin pipih. Keinginan yang sangat, tekad yang bulat, tubuh yang terikat.
Sangat bulat terikat…
Minggu, Juni 28, 2009
Sabtu, Juni 20, 2009
Sajak Buat M
Jika nanti janji mengutuk kita semati, aku mau kau perlakukan aku sederhana saja: bila malam telah membunuh dirinya sendiri, iriskan aku roti dan seduh segelas kopi. Cukuplah buat aku seharian jaga. Bikin puisi dan cerita.
Lalu ketika gelap mulai menculik senja, dan malam mulai menggantung di mata, mendongenglah di aku punya telinga. Pastilah aku lelap sambil
memeluk kau yang mulai mahir memusingkan usia.
Lalu ketika gelap mulai menculik senja, dan malam mulai menggantung di mata, mendongenglah di aku punya telinga. Pastilah aku lelap sambil
memeluk kau yang mulai mahir memusingkan usia.
Minggu, Mei 31, 2009
Lorong Waktu
kepala ini berat sekali
ada suarasuara yang terus bunyi
jejakjejak yang tak henti menapak
dan dinding kaca yang makin retak
sementara angkaangka di almanak enggan berhenti berlari
ah, aku ingin rebahkan sesakku di dadamu yang ranum
sekali lagi,
ibu..
angkaangka di almanak itu sungguh enggan berhenti berlari..
ada suarasuara yang terus bunyi
jejakjejak yang tak henti menapak
dan dinding kaca yang makin retak
sementara angkaangka di almanak enggan berhenti berlari
ah, aku ingin rebahkan sesakku di dadamu yang ranum
sekali lagi,
ibu..
angkaangka di almanak itu sungguh enggan berhenti berlari..
Sabtu, Mei 16, 2009
Ada
beberapa adalah tawa
bukan tawa serupa aku dan kau punya
tapi adalah cekakak yang gigil
bahak yang ganjil
beberapa adalah tangis
bukan tangis seperti aku dan kau punya
namun ialah jeritan yang ringis
pilu yang tak biasa
banyakan adalah diam
seperti kau dan aku punya
yang betah kita pendam
sampai pergi kita punya nyawa
bukan tawa serupa aku dan kau punya
tapi adalah cekakak yang gigil
bahak yang ganjil
beberapa adalah tangis
bukan tangis seperti aku dan kau punya
namun ialah jeritan yang ringis
pilu yang tak biasa
banyakan adalah diam
seperti kau dan aku punya
yang betah kita pendam
sampai pergi kita punya nyawa
Minggu, Mei 10, 2009
Resensi Puisi
Salah satu puisi yang gue posting di kemudian.com, yang judulnya Jejak Kopi Yang Kulukis Di Lehermu, kebetulan dapat kesempatan buat di resensi oleh Adi Thoha, seorang penulis cerpen dan puisi. Yah, sembari nunggu tulisan lain kelar, masukin ajalah ke blog. Itung-itung narsis sedikit. Hehe
Nih link resensinya: Memuisikan Kenangan Ruang Waktu
Selamat membaca. METAL!!
Nih link resensinya: Memuisikan Kenangan Ruang Waktu
Selamat membaca. METAL!!
Jumat, Mei 08, 2009
Taman
Semenjak kematian Ayah, Ibu kerap tercenung memandangi tanah yang berceruk di muka rumah. Tiga bulan lalu, sebelum kematiannya, ayah berencana membuat taman kecil untuk memerindah rumah kami yang sederhana. “Rumah kita terlalu tandus,” kata ayah suatu ketika, mengutarakan keinginannya kepada ibu saat kami sedang makan malam. Ibu mengiyakan saja sambil terus melahap makanannya. Aku tahu ibu tak begitu menyukai bunga. Setahuku ayahpun tidak. Mungkin, bagi ibu ucapan ayah malam itu tak lebih dari rencana kosong belaka sehingga ia tak terlalu menggubrisnya.
Tapi ternyata ayah tak main-main.
Esok hari, ayah benar-benar mulai mengerjakan taman yang ia bicarakan. Yang pertama ia kerjakan adalah menggali sebuah lubang persegi panjang. Rencananya akan ia jadikan kolam ikan kecil untuk melengkapi taman yang akan ia buat. Gaya minimalis katanya. “Taman ini akan menyemarakkan rumah kita nak,” ujarnya ketika aku memerhatikannya mengerjakan lubang bakal kolam itu. Aku mengangguk menyemangati. Namun ketika lubang itu hampir selesai ia kerjakan, ajal menjemputnya.
Kini lubang itu lebih mirip sebuah kuburan.
***
“Kita akan menyelesaikannya nak,” ucap ibuku pelan pada sebuah malam yang dingin, ketika aku memergokinya kembali termangu memandang cerukan itu.
“Menyelesaikan apa bu?” Tanyaku.
“Taman ayahmu nak,” jawabnya. “Kau tahu, sehari sebelum wafat, ayahmu mengajak aku untuk melihat- lihat Kamboja Jepang dan Melati untuk ditanam di taman ini nak,” lanjut ibu, lirih.
“Kita tidak akan kesepian lagi nak, akan ada banyak bunga dan kupu kelak,” ujarnya lagi.
Aku tak menjawabnya. Sesaat, kulihat ibu tersenyum sambil kembali memandang lubang yang ternganga di hadapnya.
“Ya nak, sebentar lagi kita berdua akan punya taman. Tak lebar luas, kecil saja. Satu tak kehilangan lain dalamnya,*” matanya berbinar.
Aku tetap diam.
“Aku akan menyelesaikannya,” ibu berkata setengah berbisik.
“Kita bu. Kita akan menyelesaikannya,” aku menjawabnya sembari merangkul dan mengajaknya masuk.
Di luar, udara semakin dingin.
***
Seperti ayah, ibu tak main-main mewujudkan keinginannya untuk menyelesaikan taman yang direncanakan ayah. Sudah tiga hari ini ibu menyewa seorang tukang untuk meneruskan pekerjaan ayah, membuat sebuah kolam untuk melengkapi taman. Pula, kemarin kulihat ibu telah membawa pulang sebuah pot berisikan bunga Kamboja Jepang.
Aku sebenarnya senang-senang saja. Tapi aku juga sedikit was-was. Aku benar-benar tahu ayah dan ibu tak pernah sungguh-sungguh menyukai bunga. Terlebih membuat sebuah taman. Bagiku, taman, kolam, dan bunga-bunga itu tak lebih dari pertanda yang dirasakan oleh ayah menjelang kematiannya. Bukankah Kamboja dan Melati selama ini lekat dengan kematian? Entahlah. Yang pasti aku telah berjanji kepada ibu untuk membantunya menyelesaikan taman impian ayah. Taman yang kini telah pula dimimpikan oleh ibu.
Aku ingin ibu tak bersedih lagi. Aku akan membantu ibu menyelesaikan taman itu. Membantunya menanam banyak bunga dan mendatangkan banyak kupu.
***
Akhir-akhir ini, aku dengar orang-orang mengeluhkan tanggul situ yang retak lagi. Akhir tahun lalu, tanggul situ yang berada di dekat rumahku ini memang sempat jebol, meski tak ada korban jiwa. Oleh pemerintah, kerusakannya kemudian hanya diperbaiki sekedar saja. Tak heran sekarang, retakan-retakan baru mulai terlihat lagi. Kabarnya, retakan-retakan baru itu telah diberitakan berulang-ulang oleh warga. Tapi seperti biasa, pemerintah seolah tak punya telinga.
Aku tak begitu memedulikan retaknya tanggul situ . Semua tahu kalau situ ini memang sudah selayaknya dibenahi. Usianya sudah renta. Aku dengar dari ayah, situ ini dibuat oleh Belanda saat mereka masih bercokol di nusantara. Tapi untuk apa pula ikut berpusing-pusing mengharapkan pemerintah mengulurkan tangannya untuk membenahi hal-hal yang tak menghasilkan keuntungan bagi mereka? Pemerintah tentu saja lebih suka membangun mesin uang seperti taman wisata yang dibangun di sekitar situ daripada mengurusi retakan situ yang mungkin akan membahayakan kami. Lagipula, lebih baik memikirkan menyelesaikan tamanku, taman ibu.
Sore ini, aku berjalan menyusuri pinggiran situ. Kalau tidak salah, aku pernah melihat bunga bermacam warna tumbuh liar di pinggir-pinggir situ. Bunga Lantana. Orang-orang sekitar menyebutnya bunga tahi. Baunya busuk memang, tapi warnanya yang beragam membuat banyak kupu kerap singgah di atasnya. Aku ingin memetik bunga-bunga itu untuk kutanam di taman. Mungkin saja akan ada banyak kupu singgah ke taman seperti harapan ibu karena bunga ini. Maka, ketika aku menemukan bunga-bunga itu, cepat kucabut beberapa hingga ke akar.
Tak lama kemudian, kulihat langit perlahan menghitam. Aku bergegas pulang.
***
Sedari sore, hujan deras turun. Ibu telah tidur sedari tadi, setelah bersamaku memandangi air hujan mengisi lubang yang kini tak lagi menyerupai lubang kuburan. Adukan semen yang dibentuk menyerupai batang kayu telah melapisi lubang itu. Ibu mengabarkan kepadaku bahwa kolam itu akan telah selesai esok lusa. Dan ibupun telah membeli lagi sebuah pot bunga berisikan Melati. Ibu meletakkan pot itu sejajar dengan kolam, di samping bunga tahi yang tadi kuambil di pinggir situ.
Aku terus saja mengamati air hujan memenuhi kolam itu. Sampai kemudian kolam kecil itu tak lagi dapat menampung air hujan, dan akhirnya tumpah keluar.
Memandangi kolam itu, entah kenapa aku kembali teringat ayah.
***
Aku sempat mendengar suara gemuruh keras yang membuat aku terbangun dari tidur. Cepat kusadari, seisi kamarku telah penuh air. Untunglah aku masih sempat ke luar dari kamar dan menuju luar rumah. Di luar, dari arah situ, aku lihat air bah bergulung-gulung cepat menuju ke arahku. Aku panik. Aku teringat ibu. Dia pasti masih lelap di kamarnya. Namun sebelum aku sempat kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan ibu, aliran air yang seperti ombak besar tersebut menghantam tubuhku.
Pandanganku tiba-tiba gelap.
***
Aku terbangun dan mendapatkan diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus tertanam di lenganku. Pelan kusapukan pandanganku ke sekitar. Banyak orang juga terbaring lemah sepertiku. Di luar, kudengar jerit tangis yang sahut menyahut. Aku belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika melihat aku tersadar, seorang bapak menghampiriku. Ia tetangga sebelah rumah. Kulihat matanya merah. Ia memegang telapak tanganku sambil lalu terisak.
“Tabah ya nak,” ujarnya sambil terus menyeka air mata.
“Apa yang terjadi pak?”
“Kau selamat nak. Kau tersangkut di sebuah pohon ketika tubuhmu dibawa aliran air. Seseorang kemudian menyelamatkanmu. Tapi ibumu nak,” bapak itu tiba-tiba menghentikan perkataannya.
“Musibah apa pak? Ibu kenapa? Di mana dia pak?”
Bapak itu tetap terdiam. Air terus leleh dari kedua bola matanya. Ia lalu mengambil sebuah surat kabar dan menyerahkannya kepadaku.
Aku melihat potret situ yang tak lagi berbentuk terpampang di muka surat kabar. Barulah aku mengerti, ternyata tanggul situ kembali jebol. Aku lalu membaca berita di surat kabar itu. Banyak korban yang meninggal. Bahkan beberapa di antaranya belum diketemukan sampai sekarang. Aku lalu membaca tabel yang berisi daftar korban situ yang hilang. Ada nama ibu di situ.
Aku lemas. Tenggorokanku seperti tercekat. Kupandangi kembali potret situ yang diambil dari atas itu. Bentuknya seperti lubang yang digali oleh ayah.
Ah, takkan ada kolam, takakan ada taman, takkan ada lagi bunga, dan tak akan ada kupu. Air mata basah di pipiku.
Ibu..
***
Catatan:
*: Sajak Chairil Anwar berjudul Taman, dalam “Aku Ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942- 1949”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kedua Puluh, Jakarta, 2008. Hlm. 16.
Tapi ternyata ayah tak main-main.
Esok hari, ayah benar-benar mulai mengerjakan taman yang ia bicarakan. Yang pertama ia kerjakan adalah menggali sebuah lubang persegi panjang. Rencananya akan ia jadikan kolam ikan kecil untuk melengkapi taman yang akan ia buat. Gaya minimalis katanya. “Taman ini akan menyemarakkan rumah kita nak,” ujarnya ketika aku memerhatikannya mengerjakan lubang bakal kolam itu. Aku mengangguk menyemangati. Namun ketika lubang itu hampir selesai ia kerjakan, ajal menjemputnya.
Kini lubang itu lebih mirip sebuah kuburan.
***
“Kita akan menyelesaikannya nak,” ucap ibuku pelan pada sebuah malam yang dingin, ketika aku memergokinya kembali termangu memandang cerukan itu.
“Menyelesaikan apa bu?” Tanyaku.
“Taman ayahmu nak,” jawabnya. “Kau tahu, sehari sebelum wafat, ayahmu mengajak aku untuk melihat- lihat Kamboja Jepang dan Melati untuk ditanam di taman ini nak,” lanjut ibu, lirih.
“Kita tidak akan kesepian lagi nak, akan ada banyak bunga dan kupu kelak,” ujarnya lagi.
Aku tak menjawabnya. Sesaat, kulihat ibu tersenyum sambil kembali memandang lubang yang ternganga di hadapnya.
“Ya nak, sebentar lagi kita berdua akan punya taman. Tak lebar luas, kecil saja. Satu tak kehilangan lain dalamnya,*” matanya berbinar.
Aku tetap diam.
“Aku akan menyelesaikannya,” ibu berkata setengah berbisik.
“Kita bu. Kita akan menyelesaikannya,” aku menjawabnya sembari merangkul dan mengajaknya masuk.
Di luar, udara semakin dingin.
***
Seperti ayah, ibu tak main-main mewujudkan keinginannya untuk menyelesaikan taman yang direncanakan ayah. Sudah tiga hari ini ibu menyewa seorang tukang untuk meneruskan pekerjaan ayah, membuat sebuah kolam untuk melengkapi taman. Pula, kemarin kulihat ibu telah membawa pulang sebuah pot berisikan bunga Kamboja Jepang.
Aku sebenarnya senang-senang saja. Tapi aku juga sedikit was-was. Aku benar-benar tahu ayah dan ibu tak pernah sungguh-sungguh menyukai bunga. Terlebih membuat sebuah taman. Bagiku, taman, kolam, dan bunga-bunga itu tak lebih dari pertanda yang dirasakan oleh ayah menjelang kematiannya. Bukankah Kamboja dan Melati selama ini lekat dengan kematian? Entahlah. Yang pasti aku telah berjanji kepada ibu untuk membantunya menyelesaikan taman impian ayah. Taman yang kini telah pula dimimpikan oleh ibu.
Aku ingin ibu tak bersedih lagi. Aku akan membantu ibu menyelesaikan taman itu. Membantunya menanam banyak bunga dan mendatangkan banyak kupu.
***
Akhir-akhir ini, aku dengar orang-orang mengeluhkan tanggul situ yang retak lagi. Akhir tahun lalu, tanggul situ yang berada di dekat rumahku ini memang sempat jebol, meski tak ada korban jiwa. Oleh pemerintah, kerusakannya kemudian hanya diperbaiki sekedar saja. Tak heran sekarang, retakan-retakan baru mulai terlihat lagi. Kabarnya, retakan-retakan baru itu telah diberitakan berulang-ulang oleh warga. Tapi seperti biasa, pemerintah seolah tak punya telinga.
Aku tak begitu memedulikan retaknya tanggul situ . Semua tahu kalau situ ini memang sudah selayaknya dibenahi. Usianya sudah renta. Aku dengar dari ayah, situ ini dibuat oleh Belanda saat mereka masih bercokol di nusantara. Tapi untuk apa pula ikut berpusing-pusing mengharapkan pemerintah mengulurkan tangannya untuk membenahi hal-hal yang tak menghasilkan keuntungan bagi mereka? Pemerintah tentu saja lebih suka membangun mesin uang seperti taman wisata yang dibangun di sekitar situ daripada mengurusi retakan situ yang mungkin akan membahayakan kami. Lagipula, lebih baik memikirkan menyelesaikan tamanku, taman ibu.
Sore ini, aku berjalan menyusuri pinggiran situ. Kalau tidak salah, aku pernah melihat bunga bermacam warna tumbuh liar di pinggir-pinggir situ. Bunga Lantana. Orang-orang sekitar menyebutnya bunga tahi. Baunya busuk memang, tapi warnanya yang beragam membuat banyak kupu kerap singgah di atasnya. Aku ingin memetik bunga-bunga itu untuk kutanam di taman. Mungkin saja akan ada banyak kupu singgah ke taman seperti harapan ibu karena bunga ini. Maka, ketika aku menemukan bunga-bunga itu, cepat kucabut beberapa hingga ke akar.
Tak lama kemudian, kulihat langit perlahan menghitam. Aku bergegas pulang.
***
Sedari sore, hujan deras turun. Ibu telah tidur sedari tadi, setelah bersamaku memandangi air hujan mengisi lubang yang kini tak lagi menyerupai lubang kuburan. Adukan semen yang dibentuk menyerupai batang kayu telah melapisi lubang itu. Ibu mengabarkan kepadaku bahwa kolam itu akan telah selesai esok lusa. Dan ibupun telah membeli lagi sebuah pot bunga berisikan Melati. Ibu meletakkan pot itu sejajar dengan kolam, di samping bunga tahi yang tadi kuambil di pinggir situ.
Aku terus saja mengamati air hujan memenuhi kolam itu. Sampai kemudian kolam kecil itu tak lagi dapat menampung air hujan, dan akhirnya tumpah keluar.
Memandangi kolam itu, entah kenapa aku kembali teringat ayah.
***
Aku sempat mendengar suara gemuruh keras yang membuat aku terbangun dari tidur. Cepat kusadari, seisi kamarku telah penuh air. Untunglah aku masih sempat ke luar dari kamar dan menuju luar rumah. Di luar, dari arah situ, aku lihat air bah bergulung-gulung cepat menuju ke arahku. Aku panik. Aku teringat ibu. Dia pasti masih lelap di kamarnya. Namun sebelum aku sempat kembali ke dalam rumah untuk menyelamatkan ibu, aliran air yang seperti ombak besar tersebut menghantam tubuhku.
Pandanganku tiba-tiba gelap.
***
Aku terbangun dan mendapatkan diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus tertanam di lenganku. Pelan kusapukan pandanganku ke sekitar. Banyak orang juga terbaring lemah sepertiku. Di luar, kudengar jerit tangis yang sahut menyahut. Aku belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika melihat aku tersadar, seorang bapak menghampiriku. Ia tetangga sebelah rumah. Kulihat matanya merah. Ia memegang telapak tanganku sambil lalu terisak.
“Tabah ya nak,” ujarnya sambil terus menyeka air mata.
“Apa yang terjadi pak?”
“Kau selamat nak. Kau tersangkut di sebuah pohon ketika tubuhmu dibawa aliran air. Seseorang kemudian menyelamatkanmu. Tapi ibumu nak,” bapak itu tiba-tiba menghentikan perkataannya.
“Musibah apa pak? Ibu kenapa? Di mana dia pak?”
Bapak itu tetap terdiam. Air terus leleh dari kedua bola matanya. Ia lalu mengambil sebuah surat kabar dan menyerahkannya kepadaku.
Aku melihat potret situ yang tak lagi berbentuk terpampang di muka surat kabar. Barulah aku mengerti, ternyata tanggul situ kembali jebol. Aku lalu membaca berita di surat kabar itu. Banyak korban yang meninggal. Bahkan beberapa di antaranya belum diketemukan sampai sekarang. Aku lalu membaca tabel yang berisi daftar korban situ yang hilang. Ada nama ibu di situ.
Aku lemas. Tenggorokanku seperti tercekat. Kupandangi kembali potret situ yang diambil dari atas itu. Bentuknya seperti lubang yang digali oleh ayah.
Ah, takkan ada kolam, takakan ada taman, takkan ada lagi bunga, dan tak akan ada kupu. Air mata basah di pipiku.
Ibu..
***
Catatan:
*: Sajak Chairil Anwar berjudul Taman, dalam “Aku Ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942- 1949”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kedua Puluh, Jakarta, 2008. Hlm. 16.
Kamis, April 30, 2009
Maling
Lama juga kami tak berjumpa. Genap lima tahun sudah. Kami dulu kental bersahabat. Tiga tahun kami selalu di kelas yang sama. Tiga tahun pula semua kami lakukan bersama. Kewarasan dan kegilaan. Sebelum akhirnya detik memisahkan kebersamaan yang kami punya. Detik kelulusan.
Setelah menanggalkan seragam putih abu, kami sama-sama meninggalkan tanah Sumatera, menyeberang ke pulau Jawa. Aku melanjutkan studi ke Jogjakarta, sementara ia pergi ke Jakarta. Di pulau yang sama, namun berjarak. Lima tahun sudah. Bukan waktu yang singkat. Aku merindunya. Tentu telah banyak yang berubah.
“Aku di Jogja sekarang,” bunyi pesan singkat di telepon genggamku dua hari yang lalu.
Ternyata darinya, sahabatku. Rupanya bulan lalu ia bertandang ke rumahku di Lampung, tapi tak mendapatkanku. Ia pun meminta nomor telepon genggamku pada ibu.
Ia di Jogjakarta sekarang. Melanjutkan studinya, S2. Aku lalu meminta alamat kosannya. Ternyata kosannya tak begitu jauh dari tempatku menetap.
“Kau ada janji sore ini? Aku ke kosmu kalau tidak ada janji, mungkin sekitar jam lima,” aku mengirim pesan kepadanya.
“Tak ada, kau datang saja, aku tunggu,” jawabnya.
Ah, lima tahun sudah kami tak jumpa. Lima tahun! Tak sabar aku menjumpanya. Tentu telah banyak yang berubah.
***
Aku sampai di kosannya ketika adzan maghrib berkumandang. Kuparkirkan motor di depan gerbang. Tepat ketika itu, kulihat wajah yang tak asing. Ya, sahabatku. Kulihat ia mengenakan jubah putih panjang dan kopiah. Janggut lebat bergantung di dagunya. Ia sedang tergesa.
“Hei, kawan!” sapanya ketika melihatku. Wajahnya terlihat gembira.
“Hei,” jawabku.
Ia lalu menyalamiku. Kami lalu bertatapan, dan saling berbalas senyum. Sepintas kulihat ia memerhatikan piercing yang terpasang di kedua kupingku.
“Sudah lama sekali,” katanya sesaat kemudian.
“Ya, lima tahun,” kataku.
Diam..
“Mm, aku sedang bergegas ke musholla. Sudah waktu maghrib,” ujarnya kemudian.
“Oh, ya. Silahkan kawan,” ujarku.
“Kau tidak ikut salat?” Tanyanya.
“Kau saja,” jawabku.
Ia mengangguk.
“Oke, kau tunggu saja di kamarku. Aku salat sebentar,” ujarnya lagi sembari memberiku kunci kamarnya.
“Kamar ke tiga sebelah kanan, sebentar aku kembali. Kita ngobrol banyak nanti,” ujarnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.
“Motormu masukkan saja, di sini lumayan rawan,” katanya.
“Biar di sini saja, aku cuma sebentar. Ada janji jam 7,” jawabku.
“Oh, baiklah. Aku ke musholla dulu,” ujarnya lagi.
Ia pun bergegas menuju musholla. Ah, lima tahun sudah. Memang telah banyak yang berubah.
***
Kosan sedang sepi. Maklum akhir pekan, pikirku. Mungkin banyak yang pulang kampung, atau menghabiskan hari minggu. Aku kemudian mengamati kamar sahabatku itu. Tata ruangnya sederhana. Hanya ada kasur tanpa ranjang, lemari kayu sederhana, meja belajar dan kursinya, dua buah rak buku yang tergantung di atas meja belajar, jam dinding yang bergambarkan Ka’bah, serta sebuah poster besar yang bertuliskan “Save Palestine” . Aku lalu melihat-lihat koleksi bukunya. Kebanyakan buku agama, selain buku-buku manajemen yang menjadi bidang ilmunya.
Memang telah banyak yang berubah. Setahuku dulu dia kurang lebih sama denganku, tak begitu memedulikan agama. Tapi melihat penampilannya sekarang, dan buku-buku yang dia punya, tentu dia tak seperti dulu lagi.
Aku juga sedikit banyak berubah. Masih bebal seperti dulu, terutama masalah agama. Bedanya, sekarang aku memiliki landasan yang kuat untuk menjustifikasi kebebalan-kebebalan yang kulakukan.
Ah, aku jadi sedikit menyesali pertemuan kami. Seperti orang lain dengan dandanan yang serupa dengan sahabatku itu, dia tentu akan mengomentari penolakanku untuk salat bersamanya tadi. Dan tentu, aku akan mengomentarinya dengan keras. Sama seperti aku menjawab komentar orang-orang yang menggugat pemahamanku tentang agama, atau pandangan hidupku.
Dua puluh menit kemudian, sahabatku telah kembali.
***
“Kau tidak salat?” Tanyanya, setelah beberapa obrolan ini-itu yang lebih sekedar basa-basi.
Ah, akhirnya pertanyaan ini ke luar juga. Aku sebenarnya benci menanggapinya. Karena aku pasti akan menjawabnya dengan keras. Terlebih, aku tak ingin pertanyaan ini merusak suasana pertemuan kami setelah sekian lama.
“Aku sekarang tak percaya agama,” akhirnya aku menjawab pertanyaannya.
“Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Entahlah kawan, kita mungkin harus mengobrolkan masalah ini di lain waktu. Karena waktunya tak akan cukup sekarang. Aku hanya sebentar di sini. Tapi yang pasti, aku benci agama karena agama itu egois. Agama hanya bisa melarang dengan ayat-ayat yang bahkan tidak dapat ditentang lagi kebenarannya, tanpa memedulikan alasan-alasan sosial yang membuat seseorang menentang larangan itu. Bahkan ironisnya, agama tak pernah bisa mengajukan solusi yang tepat atas larangannya yang dibuatnya sendiri,” jawabku lagi.
“Maksudmu?” ia penasaran.
“Ya, contoh mudahnya, agama hanya bisa melarang-larang orang supaya tidak maling. Agama menegasikan alasan-alasan yang menyebabkan mengapa seseorang memutuskan untuk maling. Misalkan karena ia tidak memiliki akses ke ekonomi, karena ekonomi hanya dikuasai turun temurun oleh pihak yang memiliki kuasa. Sedangkan ia, katakanlah, memiliki anak dan istri untuk diberi makan, dan yang dapat dilakukannya hanyalah maling. Ini tentu saja contoh kecil. Masih banyak alasan lain yang bisa kita perdebatkan,” aku berapi-api.
Tidak sesuai dengan perkiraanku, sahabatku itu hanya tersenyum.
“Hahaha, ternyata benar. Telah banyak yang berubah,” ujarnya.
“Aku benar-benar merindukan kau. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa. Dan aku pikir pasti kau telah berubah. Tapi tenanglah sahabatku, aku tidak akan menghakimimu dengan ayat-ayat yang kau bilang egois itu. Aku cukup percaya kalimat Allah, lakum dinukum waliyadin. Lagi pula, kau sahabatku. Aku tak mau merusak pertemuan kita setelah sekian lama ini hanya dengan perdebatan yang pasti tidak akan berujung. Walaupun aku punya banyak rasionalisasi untuk menentang pernyataanmu tadi,” katanya lagi.
“Syukurlah, kau bisa memahami isi kepalaku. Aku tadinya juga takut perbedaan kita sekarang membuat kita tidak bisa bersahabat lagi,” aku tersenyum.
“Tapi aku bersikeras agama itu egois,” kataku lagi.
Ia tertawa, kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk pundakku.
Sesaat kemudian terdengar suara adzan bersahut-sahutan. Kulihat ternyata sudah jam 7 malam. Tak terasa sudah hampir sejam kami bersama.
“Kau ke musholla?” tanyaku.
“Ya, setelah adzan,” jawabnya.
“Oh, ya sudah, aku sekalian pamit pergi. Aku ada janji sebentar lagi. Lain kali aku mampir lagi,” kataku sembari beranjak.
“Baiklah, kapan-kapan kalau aku sempat, aku main ke kosmu. Senang sekali bertemu denganmu,” ujarnya sembari menyalami tangan dan memelukku.
“Ya, aku juga kawan. Senang sekali bertemu denganmu,” jawabku.
Akhirnya kami bersama-sama berjalan ke arah gerbang. Saat itulah baru kusadari, ternyata sepeda motorku sudah tidak ada lagi di depan gerbang.
“Ke mana motorku!?” teriakku panik.
“Astaghfirullah,” sahabatku ikut panik.
Ia lalu kemudian berlari ke arah warung di sebelah kosannya, dan sebentar ia kembali bersama beberapa orang warga.
“Montore ilang to mas? Wah, saiki pancen rawan mas. Ngopo mau ra digowo mlebu to mas motore?” ucap seorang bapak.
Aku diam.
“Kata bapak ini, motormu masih ada sekitar lima belas menit yang lalu. Di sini memang banyak maling, aku sudah peringatkanmu tadi,” kata kawanku kemudian.
Aku tetap diam. Dengkulku tiba-tiba lemas.
“Dasar maling, Anjing!” aku berteriak dalam hati sambil memandangi wajah kawanku yang tersenyum simpul sembari menenangkan aku.
Setelah menanggalkan seragam putih abu, kami sama-sama meninggalkan tanah Sumatera, menyeberang ke pulau Jawa. Aku melanjutkan studi ke Jogjakarta, sementara ia pergi ke Jakarta. Di pulau yang sama, namun berjarak. Lima tahun sudah. Bukan waktu yang singkat. Aku merindunya. Tentu telah banyak yang berubah.
“Aku di Jogja sekarang,” bunyi pesan singkat di telepon genggamku dua hari yang lalu.
Ternyata darinya, sahabatku. Rupanya bulan lalu ia bertandang ke rumahku di Lampung, tapi tak mendapatkanku. Ia pun meminta nomor telepon genggamku pada ibu.
Ia di Jogjakarta sekarang. Melanjutkan studinya, S2. Aku lalu meminta alamat kosannya. Ternyata kosannya tak begitu jauh dari tempatku menetap.
“Kau ada janji sore ini? Aku ke kosmu kalau tidak ada janji, mungkin sekitar jam lima,” aku mengirim pesan kepadanya.
“Tak ada, kau datang saja, aku tunggu,” jawabnya.
Ah, lima tahun sudah kami tak jumpa. Lima tahun! Tak sabar aku menjumpanya. Tentu telah banyak yang berubah.
***
Aku sampai di kosannya ketika adzan maghrib berkumandang. Kuparkirkan motor di depan gerbang. Tepat ketika itu, kulihat wajah yang tak asing. Ya, sahabatku. Kulihat ia mengenakan jubah putih panjang dan kopiah. Janggut lebat bergantung di dagunya. Ia sedang tergesa.
“Hei, kawan!” sapanya ketika melihatku. Wajahnya terlihat gembira.
“Hei,” jawabku.
Ia lalu menyalamiku. Kami lalu bertatapan, dan saling berbalas senyum. Sepintas kulihat ia memerhatikan piercing yang terpasang di kedua kupingku.
“Sudah lama sekali,” katanya sesaat kemudian.
“Ya, lima tahun,” kataku.
Diam..
“Mm, aku sedang bergegas ke musholla. Sudah waktu maghrib,” ujarnya kemudian.
“Oh, ya. Silahkan kawan,” ujarku.
“Kau tidak ikut salat?” Tanyanya.
“Kau saja,” jawabku.
Ia mengangguk.
“Oke, kau tunggu saja di kamarku. Aku salat sebentar,” ujarnya lagi sembari memberiku kunci kamarnya.
“Kamar ke tiga sebelah kanan, sebentar aku kembali. Kita ngobrol banyak nanti,” ujarnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan.
“Motormu masukkan saja, di sini lumayan rawan,” katanya.
“Biar di sini saja, aku cuma sebentar. Ada janji jam 7,” jawabku.
“Oh, baiklah. Aku ke musholla dulu,” ujarnya lagi.
Ia pun bergegas menuju musholla. Ah, lima tahun sudah. Memang telah banyak yang berubah.
***
Kosan sedang sepi. Maklum akhir pekan, pikirku. Mungkin banyak yang pulang kampung, atau menghabiskan hari minggu. Aku kemudian mengamati kamar sahabatku itu. Tata ruangnya sederhana. Hanya ada kasur tanpa ranjang, lemari kayu sederhana, meja belajar dan kursinya, dua buah rak buku yang tergantung di atas meja belajar, jam dinding yang bergambarkan Ka’bah, serta sebuah poster besar yang bertuliskan “Save Palestine” . Aku lalu melihat-lihat koleksi bukunya. Kebanyakan buku agama, selain buku-buku manajemen yang menjadi bidang ilmunya.
Memang telah banyak yang berubah. Setahuku dulu dia kurang lebih sama denganku, tak begitu memedulikan agama. Tapi melihat penampilannya sekarang, dan buku-buku yang dia punya, tentu dia tak seperti dulu lagi.
Aku juga sedikit banyak berubah. Masih bebal seperti dulu, terutama masalah agama. Bedanya, sekarang aku memiliki landasan yang kuat untuk menjustifikasi kebebalan-kebebalan yang kulakukan.
Ah, aku jadi sedikit menyesali pertemuan kami. Seperti orang lain dengan dandanan yang serupa dengan sahabatku itu, dia tentu akan mengomentari penolakanku untuk salat bersamanya tadi. Dan tentu, aku akan mengomentarinya dengan keras. Sama seperti aku menjawab komentar orang-orang yang menggugat pemahamanku tentang agama, atau pandangan hidupku.
Dua puluh menit kemudian, sahabatku telah kembali.
***
“Kau tidak salat?” Tanyanya, setelah beberapa obrolan ini-itu yang lebih sekedar basa-basi.
Ah, akhirnya pertanyaan ini ke luar juga. Aku sebenarnya benci menanggapinya. Karena aku pasti akan menjawabnya dengan keras. Terlebih, aku tak ingin pertanyaan ini merusak suasana pertemuan kami setelah sekian lama.
“Aku sekarang tak percaya agama,” akhirnya aku menjawab pertanyaannya.
“Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Entahlah kawan, kita mungkin harus mengobrolkan masalah ini di lain waktu. Karena waktunya tak akan cukup sekarang. Aku hanya sebentar di sini. Tapi yang pasti, aku benci agama karena agama itu egois. Agama hanya bisa melarang dengan ayat-ayat yang bahkan tidak dapat ditentang lagi kebenarannya, tanpa memedulikan alasan-alasan sosial yang membuat seseorang menentang larangan itu. Bahkan ironisnya, agama tak pernah bisa mengajukan solusi yang tepat atas larangannya yang dibuatnya sendiri,” jawabku lagi.
“Maksudmu?” ia penasaran.
“Ya, contoh mudahnya, agama hanya bisa melarang-larang orang supaya tidak maling. Agama menegasikan alasan-alasan yang menyebabkan mengapa seseorang memutuskan untuk maling. Misalkan karena ia tidak memiliki akses ke ekonomi, karena ekonomi hanya dikuasai turun temurun oleh pihak yang memiliki kuasa. Sedangkan ia, katakanlah, memiliki anak dan istri untuk diberi makan, dan yang dapat dilakukannya hanyalah maling. Ini tentu saja contoh kecil. Masih banyak alasan lain yang bisa kita perdebatkan,” aku berapi-api.
Tidak sesuai dengan perkiraanku, sahabatku itu hanya tersenyum.
“Hahaha, ternyata benar. Telah banyak yang berubah,” ujarnya.
“Aku benar-benar merindukan kau. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa. Dan aku pikir pasti kau telah berubah. Tapi tenanglah sahabatku, aku tidak akan menghakimimu dengan ayat-ayat yang kau bilang egois itu. Aku cukup percaya kalimat Allah, lakum dinukum waliyadin. Lagi pula, kau sahabatku. Aku tak mau merusak pertemuan kita setelah sekian lama ini hanya dengan perdebatan yang pasti tidak akan berujung. Walaupun aku punya banyak rasionalisasi untuk menentang pernyataanmu tadi,” katanya lagi.
“Syukurlah, kau bisa memahami isi kepalaku. Aku tadinya juga takut perbedaan kita sekarang membuat kita tidak bisa bersahabat lagi,” aku tersenyum.
“Tapi aku bersikeras agama itu egois,” kataku lagi.
Ia tertawa, kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk pundakku.
Sesaat kemudian terdengar suara adzan bersahut-sahutan. Kulihat ternyata sudah jam 7 malam. Tak terasa sudah hampir sejam kami bersama.
“Kau ke musholla?” tanyaku.
“Ya, setelah adzan,” jawabnya.
“Oh, ya sudah, aku sekalian pamit pergi. Aku ada janji sebentar lagi. Lain kali aku mampir lagi,” kataku sembari beranjak.
“Baiklah, kapan-kapan kalau aku sempat, aku main ke kosmu. Senang sekali bertemu denganmu,” ujarnya sembari menyalami tangan dan memelukku.
“Ya, aku juga kawan. Senang sekali bertemu denganmu,” jawabku.
Akhirnya kami bersama-sama berjalan ke arah gerbang. Saat itulah baru kusadari, ternyata sepeda motorku sudah tidak ada lagi di depan gerbang.
“Ke mana motorku!?” teriakku panik.
“Astaghfirullah,” sahabatku ikut panik.
Ia lalu kemudian berlari ke arah warung di sebelah kosannya, dan sebentar ia kembali bersama beberapa orang warga.
“Montore ilang to mas? Wah, saiki pancen rawan mas. Ngopo mau ra digowo mlebu to mas motore?” ucap seorang bapak.
Aku diam.
“Kata bapak ini, motormu masih ada sekitar lima belas menit yang lalu. Di sini memang banyak maling, aku sudah peringatkanmu tadi,” kata kawanku kemudian.
Aku tetap diam. Dengkulku tiba-tiba lemas.
“Dasar maling, Anjing!” aku berteriak dalam hati sambil memandangi wajah kawanku yang tersenyum simpul sembari menenangkan aku.
Selasa, April 28, 2009
Ambigu
Aku kerap bermimpi sedang berkaca
mengagumi lipatan usia
di kening yang menua
jua, kadang ingin mati muda saja.
mengagumi lipatan usia
di kening yang menua
jua, kadang ingin mati muda saja.
Jumat, April 10, 2009
Lelaki Yang Dicekam Kenang
Udara malam ini pecah lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dari retakannya aku menemukan potongan-potongan kenangan yang enggan musnah oleh waktu.
Kau tahu sayang? Ingatan seperti bocah yang enggan beranjak dewasa. Ia seperti waktu yang statis. Tak seperti tubuh, yang selalu lekas menua digilas jaman. Ia ibarat kerikil yang kau lempar ke tengah kolam yang permukaannya tenang. Yang menimbulkan riak walau sejenak. Dan meski kau bisa lihat permukaan kolam itu perlahan menjadi tenang kembali, batu kerikil itu telah terlanjur terbenam di dasar. Begitupun ingatan. Ia selalu benam di kepala, seperti kerikil di kolam.
Eli, eli, lama sabachtani? Kekasih, kekasih, mengapa kau meninggalkanku?
Sejarah hidupku kini hanyalah gerak yang kuarahkan menuju lupa. Lupa kau. Lupa kita. Lupa ingatan. Tapi sungguh, melupakan kau seperti menyembuhkan borok yang telah menua, tak mudah seperti membalik telapak. Luka itu terlanjur kekal, dan terus bernanah tiap kali udara pecah pada malam sepertiga. Seperti malam ini, atau malam-malam kemarin.
Ingatkah kau pada waktu-waktu kita yang biru? Pada perbincangan-perbincangan kita tentang hidup, yang selalu kita sempatkan di tengah uap kopimu dan asap rokokku yang mengepul, lalu menari hingga lenyap bersama waktu. Tentang kegelisahan, yang selalu kurasakan di antara pagutan bibirmu yang basah yang membuat basah bibirku. Tidakkah kau rasakan kegelisahan yang sama ada padaku sayang? Ah, mungkin tidak. Karena aku selalu berusaha menyembunyikan kegelisahanku untuk redakan gelisahmu akan nasib yang terus-terus mengejarmu.
Dan akhirnya, kitapun harus mengalah pada waktu. Kau tinggalkan aku. Dan seperti kisah-kisah sinetron murahan di televisi yang tidak pernah kita cermati, aku harus relakan kepergianmu. Meski perasaanku padamu telah membatu di hatiku. Tapi sungguh sayang, tak sepenggal sesalpun yang hadir di diriku. Meski kepalaku harus tertunduk melihat kau mengucap ayat-ayat dengan syahdu, ketika kau menyerahkan dirimu pada laki-laki pilihan ibumu. Atau mungkin itu pilihanmu? Entah sayang. Aku bahagia. Ya, aku bahagia melihat kau di pelaminan. Seperti tokoh yang kalah di sinetron-sinetron itu.
Setelah perpisahan yang menyisa luka itu, aku membebaskan diriku dari segala macam ikatan. Meleburkan diriku pada banyak macam perempuan tanpa pernah menjadikan diriku milik mereka. Atau sebaliknya, menganggap mereka milikku. Aku bebas, sejak kau bebas dari diriku. Tapi mengapa kau terus membayangku seperti hantu sayang? Terus saja memburuku seperti kutukan.
Liurmu selalu membasah di rasa lidahku ketika aku dan perempuan-perempuan itu berpagut. Kecupmu kerap merayap di rasa kulitku ketika mereka mencumbuku dengan geram. Bayangmu tak henti meradang di lihat mataku kala aku membenamkan wajahku di antara dada mereka yang pejal. Harummu tak henti semerbak di cium hidungku kala aku membaui liang mereka yang apak. Dan rintihmu terus mengaduh di dengar kupingku saat napas mereka tercekat oleh nafsu. Kau rasakan yang samakah sayang?
Waktu terus bergulir, mencari-cari yang baru di hadapan, dan sialnya, tak pernah meninggalkan yang lama di belakang. Aku terus saja mengembara di banyak pagutan, geram cumbuan, dada-dada yang pejal, liang-liang yang apak, dan nafsu yang mencekat napas. Tapi sayang, ingatan sungguh seperti bocah yang enggan beranjak dewasa.
Eli, eli, lama sabachtani? Udara malam ini pecah lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dari retakannya aku menemukan potongan-potongan kenangan yang enggan musnah oleh waktu.
Gambar diunggah dari: http://graphics8.nytimes.com/images/2007/08/15/nyregion/15smoking.span.jpg
Langganan:
Postingan (Atom)