lagilagi kau tanyakan hal yang sama padaku
: kenapa sajakmu selalu memusingkan waktu?
lagilagi kujawab hal yang sama padamu
: karena sajakku adalah perjalanan dari ragu ke ragu!
Minggu, Januari 25, 2009
sajak yang ingin berjalan sendirian
malam ini kau mengajakku berjalan mundur
menentang waktu
menerabas jejalanan yang dibasahi bulirbulir
air hujan
menyusuri loronglorong yang dipenuhi jejakjejak
langkah sepatu
menyambangi matamata yang pernah saling
kita pandang
tapi tak kutemukan sesuatu yang merekatkan
kau, aku
maka aku kembali berjalan lurus
: ikuti waktu
menentang waktu
menerabas jejalanan yang dibasahi bulirbulir
air hujan
menyusuri loronglorong yang dipenuhi jejakjejak
langkah sepatu
menyambangi matamata yang pernah saling
kita pandang
tapi tak kutemukan sesuatu yang merekatkan
kau, aku
maka aku kembali berjalan lurus
: ikuti waktu
Selasa, Januari 20, 2009
kutitipkan matahari di matamu
aku titipkan matahari
pada suruh yang rambat di matamu
agar ketika sejarahku usai
aku tetap terang
jalarjalar bagai jalang
pada suruh yang rambat di matamu
agar ketika sejarahku usai
aku tetap terang
jalarjalar bagai jalang
Jumat, Januari 16, 2009
sajak sepi
malam ini ingin kubakar
buku, musik, film, gambar,
semua yang bisa menimbulkan bayang
pun kau
hingga kuyakin
: aku telah sendirian.
buku, musik, film, gambar,
semua yang bisa menimbulkan bayang
pun kau
hingga kuyakin
: aku telah sendirian.
Kamis, Januari 15, 2009
air hujan membawamu pergi
pada genangan air hujan yang berlari bergegas
menuju bumi
kuhanyutkan bayanganmu satu
persatu
menuju bumi
kuhanyutkan bayanganmu satu
persatu
Rabu, Januari 14, 2009
Perdalam Makna, Penyairku..
Peri puisi mendatangi
aku saat hujan rintik
jatuhjatuh dari langit
ini pagi.
Ia berbisik lembut kepadaku, syahdu:
"Penyairku, perdalam makna!"
Maka sedari itu, aku merobek berhalamanhalaman keluh yang kukira puisi.
aku saat hujan rintik
jatuhjatuh dari langit
ini pagi.
Ia berbisik lembut kepadaku, syahdu:
"Penyairku, perdalam makna!"
Maka sedari itu, aku merobek berhalamanhalaman keluh yang kukira puisi.
Sabtu, Januari 10, 2009
Tentang Tanya
Ada suarasuara yang berserak
di kepala.
Seperti derak roda pedati
yang menjejal jejak
jejak kayu di tanah basah.
Kusirnya terus saja mendesak:
"Arah mana hendak kau langkah?"
Ada suarasuara yang berserak
di kepala.
Seperti bising pasar.
Riuh rendah tawarmenawar,
ingarbingar yang pelan samar.
Pedagang barangbarang terus bertanya:
"apa yang hendak kau niaga?"
di kepala.
Seperti derak roda pedati
yang menjejal jejak
jejak kayu di tanah basah.
Kusirnya terus saja mendesak:
"Arah mana hendak kau langkah?"
Ada suarasuara yang berserak
di kepala.
Seperti bising pasar.
Riuh rendah tawarmenawar,
ingarbingar yang pelan samar.
Pedagang barangbarang terus bertanya:
"apa yang hendak kau niaga?"
Di Klub Malam 2
di sini, aku sadari satu hal.
kau punya uang, kau bisa punya
segala. bahkan surga.
tapi kau harus bersiap
: tak lagi memiliki kepala.
kau punya uang, kau bisa punya
segala. bahkan surga.
tapi kau harus bersiap
: tak lagi memiliki kepala.
Di Klub Malam
Datanglah kawan, jika kau sedang ingin tertawa. Banyak lawak di klub malam. Perempuanperempuan yang jumawa memakai pakaian minim. Memenuhi tuntutan gaya. Mereka lupa menyimpan banyak lemak di paha.
Datanglah kawan, jika kau ingin bergembira. Menertawai bocah yang menganggukgelengkan kepala. Mengikuti irama yang membuat debar dada. Di badannya, dengan bangga ia kenakan kaus bergambar Che Guevara.
Hasta La Victoria..
Sedang aku, juga menertawai diri. Bergenitgenit memakai baju bertulis:
"Tuhan, agamaMu apa?"
Hahahaha
Datanglah kawan, jika kau ingin bergembira. Menertawai bocah yang menganggukgelengkan kepala. Mengikuti irama yang membuat debar dada. Di badannya, dengan bangga ia kenakan kaus bergambar Che Guevara.
Hasta La Victoria..
Sedang aku, juga menertawai diri. Bergenitgenit memakai baju bertulis:
"Tuhan, agamaMu apa?"
Hahahaha
Jumat, Januari 09, 2009
telah sampailah kau di ambang petang
telah sampailah kau di ambang petang. setelah lama menunggu pagi yang tak jua pergi, setelah lewati siang yang bara. tengoklah cahaya itu, yang perlahan redam, dibungkus mega yang pelan menghitam.
telah sampailah kau di ambang petang. lihatlah olehmu, orangorang akan mulai mengunci jendela, menutup rapatrapat pintu rumah. dengarlah olehmu, tak akan ada lagi suara. ia telah redam dimamah sepi.
kau telah sampai di ambang petang. kini hanya ada engkau dan sesal. mulailah menangisi pagi yang dulu kau benci. dan kutuklah malam yang mulai datang
diamdiam..
telah sampailah kau di ambang petang. lihatlah olehmu, orangorang akan mulai mengunci jendela, menutup rapatrapat pintu rumah. dengarlah olehmu, tak akan ada lagi suara. ia telah redam dimamah sepi.
kau telah sampai di ambang petang. kini hanya ada engkau dan sesal. mulailah menangisi pagi yang dulu kau benci. dan kutuklah malam yang mulai datang
diamdiam..
Langganan:
Postingan (Atom)